Home Health Kenapa Wanita Lebih Cepat Merasa Kedinginan? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kenapa Wanita Lebih Cepat Merasa Kedinginan? Ini Penjelasan Ilmiahnya

173
0
ilustrasi Kenapa Wanita Lebih Cepat Merasa Kedinginan dari pada pria - sumber foto Grok
ilustrasi Kenapa Wanita Lebih Cepat Merasa Kedinginan dari pada pria - sumber foto Grok
Urbanvibes

Hi Urbie’s!, pernah nggak sih berada di ruangan ber-AC yang menurut sebagian orang “sejuk nyaman”, tapi bagi sebagian lainnya terasa seperti kulkas berjalan? Menariknya, dalam banyak situasi, wanita cenderung lebih cepat merasa kedinginan dibanding pria. Fenomena ini bukan mitos, bukan juga drama berlebihan—melainkan fakta fisiologis yang didukung sains.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa persepsi dingin antara pria dan wanita memang berbeda secara biologis. Salah satu studi penting yang kerap dirujuk adalah penelitian yang diterbitkan dalam American Journal of Physiology pada 2001. Studi tersebut menjelaskan bahwa perbedaan ini berkaitan erat dengan massa otot, metabolisme, hormon, hingga sirkulasi darah.

Peran Massa Otot dan Produksi Panas Tubuh

Secara biologis, pria umumnya memiliki massa otot lebih besar dibanding wanita. Otot bukan hanya berfungsi untuk bergerak, tapi juga berperan sebagai “mesin penghasil panas”. Bahkan saat tubuh sedang istirahat, otot tetap membakar energi dan menghasilkan panas.

Karena itu, pria cenderung menghasilkan panas tubuh lebih besar dalam kondisi diam sekalipun. Sebaliknya, wanita yang memiliki massa otot lebih rendah akan menghasilkan panas yang lebih sedikit, sehingga tubuhnya lebih cepat merespons suhu dingin dari lingkungan sekitar.

Inilah alasan mengapa dalam satu ruangan yang sama, pria bisa merasa biasa saja sementara wanita sudah mulai menggigil atau mencari jaket.

Metabolisme Basal yang Lebih Rendah

Penelitian dalam American Journal of Physiology juga mengungkap bahwa wanita memiliki tingkat metabolisme basal (Basal Metabolic Rate/BMR) yang lebih rendah dibanding pria. Metabolisme basal adalah jumlah energi yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan fungsi dasar seperti bernapas, memompa darah, dan menjaga suhu tubuh.

Dengan metabolisme basal yang lebih rendah, tubuh wanita menghasilkan energi dan panas yang lebih sedikit. Dampaknya, sistem tubuh menjadi lebih sensitif terhadap perubahan suhu, terutama suhu dingin.

Hal ini menjelaskan mengapa wanita sering merasa tidak nyaman di ruangan ber-AC, pusat perbelanjaan, atau kantor dengan suhu yang dirancang berdasarkan standar metabolisme pria.

Pengaruh Hormon terhadap Sensitivitas Dingin

Faktor lain yang tak kalah penting adalah hormon, terutama estrogen. Hormon ini memengaruhi cara tubuh mengatur suhu dan aliran darah. Estrogen cenderung meningkatkan sensitivitas terhadap dingin dengan memengaruhi sirkulasi perifer—yaitu aliran darah ke bagian tubuh seperti tangan dan kaki.

Saat tubuh terpapar suhu dingin, aliran darah ke ekstremitas bisa berkurang lebih cepat pada wanita. Akibatnya, tangan dan kaki terasa lebih dingin meskipun suhu inti tubuh sebenarnya masih normal.

Fluktuasi hormon selama siklus menstruasi juga dapat memengaruhi persepsi suhu. Pada fase tertentu, wanita bisa merasa lebih sensitif terhadap dingin dibanding hari-hari lainnya.

Baca Juga:

Distribusi Lemak yang Berbeda

Wanita umumnya memiliki persentase lemak tubuh lebih tinggi dibanding pria. Namun menariknya, lemak tubuh tidak selalu berfungsi sebagai “selimut alami” seperti yang sering diasumsikan.

Distribusi lemak pada wanita cenderung terkonsentrasi di area tertentu seperti pinggul, paha, dan payudara. Sementara itu, bagian tubuh seperti tangan dan kaki—yang paling sering merasakan dingin—tidak selalu mendapat perlindungan lemak yang cukup.

Sebaliknya, pria dengan distribusi massa otot yang lebih merata dapat mempertahankan suhu tubuh di berbagai bagian dengan lebih efektif.

Sirkulasi Perifer dan Persepsi Termal

Perbedaan sirkulasi darah juga berperan besar dalam persepsi dingin. Wanita cenderung memiliki sirkulasi perifer yang lebih sensitif, sehingga pembuluh darah di tangan dan kaki lebih mudah menyempit saat terpapar dingin.

Kondisi ini membuat wanita lebih cepat merasakan dingin di ujung-ujung tubuh, meskipun suhu ruangan masih dalam batas normal menurut standar umum.

Inilah alasan mengapa “merasa kedinginan” sering kali bersifat subjektif, tetapi tetap memiliki dasar biologis yang kuat.

Bukan Lebay, Tapi Alami

Urbie’s!, penting untuk dipahami bahwa merasa lebih kedinginan bukanlah kelemahan, apalagi drama. Ini adalah karakteristik fisiologis alami yang dipengaruhi oleh kombinasi metabolisme, hormon, komposisi tubuh, dan sirkulasi darah.

Sayangnya, standar suhu ruangan di banyak tempat—kantor, bioskop, pusat perbelanjaan—sering kali disesuaikan dengan metabolisme pria. Akibatnya, wanita menjadi kelompok yang paling sering merasa tidak nyaman.

Kesadaran akan perbedaan ini penting, bukan hanya untuk kenyamanan, tapi juga untuk menciptakan ruang publik yang lebih inklusif dan ramah bagi semua.

Jadi lain kali kalau ada yang bertanya, “Kok kamu gampang banget kedinginan?” jawabannya sederhana: karena tubuh bekerja dengan cara yang berbeda—dan itu sepenuhnya normal.

Novotel Gajah Mada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here