Home Highlight Matematika dan Sejarah Jadi Mata Pelajaran Favorit Masyarakat Indonesia

Matematika dan Sejarah Jadi Mata Pelajaran Favorit Masyarakat Indonesia

205
0
ilustrasi Matematika dan Sejarah Jadi Mata Pelajaran Favorit Masyarakat Indonesia - sumber foto ChatGPT
ilustrasi Matematika dan Sejarah Jadi Mata Pelajaran Favorit Masyarakat Indonesia - sumber foto ChatGPT

Hi Urbie’s, matematika dan sejarah ternyata menjadi dua mata pelajaran yang paling disukai masyarakat Indonesia. Fakta ini terungkap dalam survei global “Ipsos Education Monitor 2025” yang dirilis pada Agustus 2025. Survei tersebut melibatkan responden dari 30 negara, termasuk Indonesia, dan memberikan gambaran menarik tentang bagaimana publik memandang dunia pendidikan di era modern.

Hasilnya menunjukkan, masing-masing 32 persen responden Indonesia memilih matematika dan sejarah sebagai mata pelajaran favorit. Angka ini menempatkan keduanya di posisi teratas, mengungguli bahasa asing, sains, hingga ilmu komputer. Temuan ini menjadi refleksi penting tentang bagaimana masyarakat memaknai pendidikan, tidak hanya sebagai kebutuhan akademik, tetapi juga sebagai bekal berpikir dan memahami dunia.

Matematika, Fondasi Logika dan Kehidupan Sehari-hari

Ketertarikan masyarakat Indonesia terhadap matematika tidak datang tanpa alasan. Mata pelajaran ini selama ini dikenal sebagai fondasi logika, analisis, dan pemecahan masalah. Dalam kehidupan sehari-hari, matematika hadir hampir di setiap aspek, mulai dari mengelola keuangan, memahami data, hingga mengambil keputusan rasional.

Di tengah perkembangan teknologi dan ekonomi digital, kemampuan numerik juga semakin relevan. Banyak responden menilai matematika sebagai keterampilan esensial yang membantu seseorang lebih siap menghadapi tantangan dunia kerja dan perubahan zaman. Tak heran jika matematika tetap bertahan sebagai mata pelajaran favorit, meski kerap dianggap menantang oleh sebagian pelajar.

Sejarah dan Kebutuhan Memahami Identitas Bangsa

Sejarah juga mencatat skor yang sama tinggi dengan matematika. Bagi masyarakat Indonesia, sejarah bukan sekadar deretan tahun dan peristiwa, melainkan cermin identitas dan perjalanan bangsa. Ketertarikan ini menunjukkan adanya kesadaran kolektif akan pentingnya memahami masa lalu untuk membaca masa kini dan merancang masa depan.

Melalui sejarah, publik belajar tentang perjuangan, nilai-nilai kebangsaan, hingga dinamika sosial dan politik yang membentuk Indonesia hari ini. Di tengah arus globalisasi, mata pelajaran sejarah menjadi pengingat akan akar budaya dan jati diri nasional yang tidak boleh dilupakan.

Bahasa Asing dan Ilmu Modern Tetap Dilirik

Setelah matematika dan sejarah, bahasa asing menempati posisi berikutnya dengan 30 persen responden. Minat ini mencerminkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kemampuan komunikasi lintas budaya di era global. Bahasa asing dinilai membuka akses terhadap peluang pendidikan, karier internasional, serta pertukaran pengetahuan global.

Sementara itu, sains dan ilmu komputer sama-sama meraih 28 persen. Meski tidak berada di posisi teratas, angka ini menunjukkan bahwa mata pelajaran berbasis teknologi dan inovasi tetap mendapat perhatian besar. Hal ini sejalan dengan transformasi digital yang terus berlangsung di berbagai sektor kehidupan.

Baca juga:

Sastra dan Geografi Masuk Daftar Kurang Diminati

Di sisi lain, survei Ipsos Education Monitor 2025 juga mengungkap mata pelajaran yang tergolong kurang diminati oleh masyarakat Indonesia. Sastra tertentu menjadi mapel dengan tingkat kesukaan terendah, hanya 9 persen responden. Posisi berikutnya ditempati geografi dengan 12 persen, serta bahasa tertentu yang mencatat 17 persen.

Rendahnya minat ini bisa dipengaruhi berbagai faktor, mulai dari metode pembelajaran yang dianggap kurang relevan, hingga persepsi bahwa mata pelajaran tersebut tidak memiliki dampak langsung terhadap karier dan kehidupan sehari-hari. Temuan ini menjadi catatan penting bagi dunia pendidikan untuk melakukan evaluasi dan inovasi pendekatan belajar.

Potret Pendidikan Indonesia dalam Konteks Global

Survei Ipsos Education Monitor 2025 melibatkan 23.700 responden dewasa pengguna internet di bawah usia 75 tahun, dengan periode wawancara berlangsung pada 20 Juni hingga 4 Juli 2025. Skala global ini membuat hasil survei tidak hanya relevan bagi Indonesia, tetapi juga memungkinkan perbandingan dengan negara lain.

Bagi Indonesia, hasil ini mencerminkan keseimbangan antara kebutuhan akan keterampilan praktis, pemahaman sejarah, dan tuntutan global. Preferensi masyarakat terhadap matematika dan sejarah menunjukkan bahwa pendidikan ideal dipandang sebagai kombinasi antara kemampuan berpikir rasional dan pemahaman konteks sosial-budaya.

Menjadi Bahan Refleksi Dunia Pendidikan

Urbie’s, temuan ini bukan sekadar deretan angka. Ia menjadi bahan refleksi penting bagi pemangku kebijakan, pendidik, dan institusi pendidikan untuk merancang kurikulum yang lebih relevan dan menarik. Tantangannya adalah bagaimana menjaga minat pada mata pelajaran favorit, sekaligus menghidupkan kembali ketertarikan pada mapel yang kurang diminati.

Dengan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual, interaktif, dan sesuai kebutuhan zaman, pendidikan Indonesia diharapkan mampu menjawab ekspektasi masyarakat. Pada akhirnya, sekolah bukan hanya tempat mengejar nilai, tetapi ruang untuk membentuk cara berpikir, karakter, dan masa depan generasi penerus bangsa.