Home Highlight Seniman Bali Raih Juara di Kompetisi Patung Salju Internasional Harbin 2026

Seniman Bali Raih Juara di Kompetisi Patung Salju Internasional Harbin 2026

161
0
The 28th Harbin International Snow Sculpture Competition - sumber foto Instagram gustinn_09
The 28th Harbin International Snow Sculpture Competition - sumber foto Instagram gustinn_09

Hi Urbie’s, di tengah dinginnya musim salju Harbin, China, kisah tentang alam, keseimbangan, dan spiritualitas dari Bali justru bersinar terang. Seniman Indonesia asal Pulau Dewata berhasil mengharumkan nama bangsa dengan meraih juara ketiga dalam The 28th Harbin International Snow Sculpture Competition, yang berlangsung pada 6 hingga 9 Januari 2026.

Prestasi ini terasa istimewa, mengingat Indonesia bukan negara dengan empat musim, apalagi memiliki tradisi pahatan salju. Namun keterbatasan itu justru menjadi bukti bahwa kreativitas dan kerja keras mampu menembus batas geografis dan iklim.

Tim Bali yang Membawa Nama Indonesia ke Panggung Dunia

Tim seniman Indonesia dalam ajang bergengsi ini dipimpin oleh I Nyoman Sungada, dengan anggota I Ketut Suaryana, Gede Agus Kurniawan, dan I Gede Agustin Anggara Putra. Mereka tidak berangkat sendiri. Perjalanan kreatif ini juga didukung oleh Made Gede Aryata sebagai fotografer yang mendokumentasikan proses dan karya, serta I Wayan Mardina sebagai peninjau.

Kolaborasi ini mencerminkan semangat gotong royong yang kental dalam dunia seni Bali. Setiap peran memiliki kontribusi penting, mulai dari konseptor, pemahat, hingga pendukung teknis yang memastikan karya dapat tersampaikan dengan baik di level internasional.

Dewi Dhanwantari, Cerita Lokal yang Menjadi Bahasa Universal

Dalam kompetisi tersebut, tim Indonesia mengangkat karya berjudul “Dewi Dhanwantari”. Pilihan tema ini bukan tanpa makna. Dalam kepercayaan Hindu, Dewi Dhanwantari dikenal sebagai simbol kesuburan, penyembuhan, dan keseimbangan alam semesta. Sosoknya merepresentasikan harmoni antara manusia, alam, dan kekuatan spiritual.

Menghadirkan figur Dewi Dhanwantari dalam medium salju menjadi tantangan tersendiri. Namun justru di situlah letak kekuatan karya ini. Di tengah lanskap dingin dan beku Harbin, pesan tentang keseimbangan dan kehidupan terasa kontras sekaligus kuat. Nilai lokal Bali berhasil diterjemahkan menjadi bahasa visual yang dapat dipahami oleh publik global.

Tantangan Besar dari Negeri Tanpa Salju

Salah satu hal paling menarik dari pencapaian ini adalah proses di balik layar. Indonesia tidak memiliki musim salju, sehingga para seniman tidak terbiasa bekerja dengan material es atau salju. Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, tim menggunakan media styrofoam sebagai bahan latihan.

Proses persiapan memakan waktu hingga tiga bulan, dimulai dari pencarian ide, pembuatan miniatur, hingga latihan intensif memahat bentuk. Styrofoam dipilih karena memiliki karakteristik yang mendekati salju, sehingga membantu seniman membiasakan diri dengan teknik dan presisi pahatan.

Latihan ini tidak hanya mengasah kemampuan teknis, tetapi juga ketahanan mental. Membayangkan bagaimana sebuah konsep akan diwujudkan dalam skala besar dan kondisi ekstrem membutuhkan perencanaan matang dan kerja tim yang solid.

The 28th Harbin International Snow Sculpture Competition - sumber foto Instagram gustinn_09
The 28th Harbin International Snow Sculpture Competition – sumber foto Instagram gustinn_09

Baca juga:

Harbin, Panggung Bergengsi Seni Patung Salju Dunia

The Harbin International Snow Sculpture Competition dikenal sebagai salah satu kompetisi patung salju paling prestisius di dunia. Ajang ini rutin menghadirkan seniman dari berbagai negara dengan latar belakang budaya dan iklim yang berbeda.

Persaingan di kompetisi ini sangat ketat. Karya dinilai dari aspek kreativitas, teknik, kekuatan konsep, serta kemampuan menerjemahkan ide ke dalam medium salju. Meraih posisi ketiga dalam ajang internasional ini menjadi pencapaian besar, sekaligus pengakuan atas kualitas seniman Indonesia di mata dunia.

Seni, Identitas, dan Diplomasi Budaya

Prestasi ini tidak hanya soal piala atau peringkat. Lebih dari itu, keberhasilan seniman Bali di Harbin menunjukkan bagaimana seni dapat menjadi alat diplomasi budaya yang efektif. Melalui karya “Dewi Dhanwantari”, Indonesia memperkenalkan nilai spiritual, filosofi keseimbangan, dan kekayaan tradisi Hindu Bali kepada audiens global.

Di tengah isu global tentang lingkungan dan keberlanjutan, pesan yang dibawa karya ini terasa relevan. Seni tidak hanya menjadi ekspresi estetika, tetapi juga medium refleksi dan dialog lintas budaya.

Inspirasi bagi Generasi Seniman Muda Indonesia

Urbie’s, kisah ini menjadi pengingat bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti bermimpi. Dari negeri tropis tanpa salju, seniman Bali mampu berdiri sejajar dengan kreator dunia dalam ajang internasional.

Keberhasilan ini diharapkan dapat menginspirasi generasi muda Indonesia untuk terus berkarya, menggali akar budaya lokal, dan berani membawa cerita sendiri ke panggung global. Karena pada akhirnya, seni terbaik adalah yang jujur pada identitas, namun mampu berbicara kepada dunia.