Home Entertainment Siap Tayang Maret, “Everyday We Are”, Karya Terakhir Kim Sae-ron yang Menyimpan...

Siap Tayang Maret, “Everyday We Are”, Karya Terakhir Kim Sae-ron yang Menyimpan Kisah Cinta Remaja Penuh Emosi

35
0
Siap Tayang Maret, “Everyday We Are”, Karya Terakhir Kim Sae-ron yang Menyimpan Kisah Cinta Remaja Penuh Emosi
Poster Film Everyday We. Foto: JNC Media Group

Hi Urbie’s! Musim semi tahun ini akan menjadi momen yang emosional bagi para pencinta drama Korea. Karya terakhir mendiang Kim Sae-ron, drama romantis remaja berjudul Everyday We Are, dijadwalkan rilis dan siap menyapa penonton dengan cerita yang hangat, sederhana, namun penuh makna. Lebih dari sekadar kisah cinta remaja, drama ini menjadi perpisahan sunyi seorang aktris yang pernah bersinar sejak usia sangat muda.

Disutradarai oleh Kim Min-jae, Everyday We Are mengangkat cerita tentang dua remaja, Yeo-ul dan Ho-su, yang berada di fase hidup paling asing sekaligus paling jujur: usia 17 tahun. Cerita dimulai dari pengakuan seorang teman masa kecil yang perlahan mengubah dinamika hubungan mereka. Dari situ, drama ini mengeksplorasi emosi yang sering kali tak terucap, mulai dari kebingungan, rasa ingin tahu, hingga getaran cinta pertama yang datang tanpa aba-aba.

Berbeda dengan banyak drama remaja yang cenderung dramatik dan penuh konflik besar, Everyday We Are memilih pendekatan yang lebih membumi. Kehidupan sekolah digambarkan apa adanya, dengan rutinitas kelas, obrolan singkat di sela jam pelajaran, hingga momen-momen kecil yang justru terasa sangat dekat dengan pengalaman banyak orang. Inilah yang membuat drama ini terasa intim dan relevan, terutama bagi penonton yang pernah merasakan rumitnya tumbuh dewasa.

Menjelang perilisan, sejumlah foto adegan telah dirilis dan langsung mencuri perhatian. Kim Sae-ron tampil sebagai Yeo-ul, siswi SMA yang sederhana dan ekspresif. Salah satu gambar memperlihatkan Yeo-ul menutupi kepalanya dengan jaket saat hujan turun tiba-tiba, sebuah adegan yang mengingatkan pada kenangan pergi ke sekolah tanpa payung. Ekspresi kesalnya justru menghadirkan nuansa ringan dan mengundang senyum.

Di sisi lain, karakter Ho-su yang diperankan Lee Chae-min digambarkan lebih pendiam dan observatif. Ia sering terlihat duduk sendirian di sudut kampus, menciptakan kesan romantisme khas masa sekolah. Salah satu momen yang paling menyentuh adalah ketika Ho-su dengan hati-hati membantu Yeo-ul melepaskan rambutnya yang tersangkut di cabang pohon. Adegan sederhana ini berhasil menangkap esensi cinta pertama yang polos, canggung, dan penuh perasaan.

Baca Juga:

Secara genre, Everyday We Are menawarkan warna berbeda dibandingkan drama remaja Jepang, Taiwan, maupun Amerika. Drama ini tidak berfokus pada fantasi berlebihan atau konflik ekstrem, melainkan pada realitas kehidupan kelas dan perkembangan emosional remaja Korea. Emosi dibangun dari percakapan ringan, tatapan singkat, dan kejadian sehari-hari yang sering kali dianggap sepele, namun meninggalkan kesan mendalam.

Bagi Kim Sae-ron, proyek ini memiliki makna yang jauh lebih besar. Lahir pada Juli 2000, ia memulai karier sebagai model majalah anak-anak sebelum akhirnya debut akting di usia belia. Namanya mencuri perhatian internasional ketika menjadi aktris Korea termuda yang berjalan di karpet merah Festival Film Cannes melalui film A Traveler karya Lee Chang-dong pada 2009. Setahun kemudian, penampilannya dalam The Man from Nowhere bersama Won Bin mengukuhkan statusnya sebagai bintang cilik berbakat.

Karier Kim Sae-ron terus berkembang hingga ia memenangkan penghargaan Aktris Pendatang Baru Terbaik di Blue Dragon Film Awards 2014 lewat film Doheeya. Namun, perjalanan hidupnya tidak selalu mulus. Pada 2022, ia terlibat dalam kontroversi kecelakaan mengemudi dalam keadaan mabuk yang membuatnya harus membayar denda dan mundur dari sejumlah proyek.

Meski sempat berusaha kembali ke dunia akting, Kim Sae-ron meninggal dunia pada 16 Februari tahun lalu. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam, sekaligus menjadikan Everyday We Are sebagai karya terakhir yang akan dikenang publik. Drama ini bukan hanya tentang cinta remaja, tetapi juga tentang waktu, penyesalan, dan momen-momen kecil yang tak pernah bisa diulang.

Everyday We Are dijadwalkan tayang di bioskop pada bulan Maret. Bagi Urbie’s, film ini mungkin akan terasa seperti membuka album kenangan lama, manis, getir, dan penuh emosi. Sebuah perpisahan yang tenang, namun membekas lama setelah layar gelap.