Hi Urbie’s! Dunia media terus bergerak cepat seiring perkembangan teknologi digital dan menjamurnya para content creator di berbagai platform. Menyadari dinamika tersebut, Politeknik TEMPO menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Memaknai Jurnalisme di Era Content Creator” yang berlangsung pukul 08.00 WIB di Aula HB Jassin, Gedung Ali Sadikin Lantai 4, Perpustakaan Jakarta, kawasan Taman Ismail Marzuki. Acara ini digelar berdekatan dengan peringatan Hari Pers Nasional pada 9 Februari, sehingga menjadi momentum refleksi penting bagi para pelaku industri media.
Seminar ini menghadirkan sejumlah tokoh berpengaruh dari dunia jurnalistik, akademisi, hingga praktisi industri kreatif. Diskusi yang disajikan pun tidak hanya relevan bagi jurnalis profesional, tetapi juga content creator, mahasiswa, hingga masyarakat umum yang tertarik memahami perubahan lanskap media saat ini.
Mengupas Etika dan Independensi di Era Algoritma
Panel pertama mengangkat tema “Etika dan Independensi di Era Algoritma”, yang membahas bagaimana jurnalisme menghadapi tekanan popularitas digital dan tuntutan algoritma media sosial. Direktur Tempo Inti Media, Budi Setyarso, menjadi salah satu pembicara utama yang menekankan pentingnya menjaga integritas jurnalistik di tengah arus informasi yang begitu cepat.
Diskusi semakin kaya dengan kehadiran Budiman Tanuredjo, Pemimpin Redaksi Kompas periode 2014–2018, yang membagikan pengalamannya menghadapi transformasi media dari era cetak hingga digital. Perspektif akademisi juga hadir melalui Prof. Rajab Ritonga dari Universitas Gunadarma, yang memberikan sudut pandang ilmiah mengenai tanggung jawab jurnalis dalam menjaga kualitas informasi di tengah maraknya konten viral.
Panel ini mengajak peserta untuk memahami bahwa meskipun algoritma menjadi faktor penting dalam distribusi konten, prinsip etika dan independensi tetap menjadi fondasi utama profesi jurnalistik.
Pertarungan Narasi: Jurnalis vs Content Creator
Memasuki sesi kedua, Urbie’s diajak melihat fenomena menarik tentang “pertarungan narasi” antara jurnalis dan content creator. CCO KapanLagiYouniverse, Wenseslaus Manggut, berbagi pandangan tentang bagaimana industri konten berkembang pesat dan mempengaruhi cara publik mengonsumsi informasi.
Ia berdiskusi bersama Asmara Wreksono, mantan Redaktur Pelaksana The Jakarta Post yang kini aktif sebagai content creator sekaligus afiliator. Asmara menyoroti bagaimana peran jurnalis dan kreator konten sebenarnya dapat saling melengkapi, bukan saling bersaing.
Diskusi ini menggarisbawahi pentingnya kolaborasi, inovasi, serta kemampuan adaptasi bagi para pelaku media agar tetap relevan di era digital. Dengan memahami karakteristik masing-masing profesi, diharapkan tercipta ekosistem informasi yang lebih sehat dan kredibel.
Baca Juga:
- Gerhana Matahari Cincin 17 Februari 2026: Fenomena Langit Langka yang Sayangnya Tak Terlihat di Indonesia
- Zodiak Percintaan 2026: Prediksi Cinta & Tips Jaga Hubungan Tetap Nyaman
- Jejak Bukbermu: Ramadan, Bukber dan Cerita Kebersamaan
Inovasi dan Model Bisnis Baru Industri Media
Panel penutup menghadirkan Chief Marketing Officer KG Media, Dian Gemiano, dan CMO PT Info Media Digital, Dodi Ibnu Rusydi. Keduanya mengupas strategi bisnis media modern di tengah disrupsi digital yang kian masif.
Dalam sesi ini, peserta diajak memahami bagaimana media konvensional dapat bertahan melalui inovasi teknologi, diversifikasi produk konten, serta pendekatan pemasaran digital yang lebih kreatif. Diskusi juga menyoroti pentingnya membangun model bisnis berkelanjutan agar industri media tetap mampu menghadirkan jurnalisme berkualitas di tengah persaingan ketat platform digital.
Mencari Titik Temu Dunia Jurnalistik dan Konten Kreatif
Seminar ini bukan sekadar forum diskusi, tetapi juga wadah untuk mencari titik temu antara jurnalisme tradisional dan konten kreatif modern. Wakil Direktur bidang Kerja Sama dan Non Akademik Politeknik TEMPO sekaligus Ketua Panitia, Rachma Tri Widuri, menyampaikan bahwa kegiatan ini digelar sebagai bentuk kepedulian terhadap dinamika industri media.
Menurutnya, keberadaan jurnalis dan content creator sering kali dipertentangkan, padahal keduanya memiliki peran penting dalam ekosistem informasi. Ia berharap seminar ini dapat membuka perspektif baru dan menghadirkan solusi kolaboratif bagi masa depan dunia media.
Direktur Politeknik TEMPO, Shalfi Andri, menambahkan bahwa kampus yang lahir dari industri media memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan diskusi relevan bagi perkembangan jurnalistik. Momentum yang dipilih berdekatan dengan Hari Pers Nasional juga menjadi pengingat akan pentingnya menjaga kualitas dan profesionalisme dalam penyebaran informasi.
Melalui seminar nasional ini, Politeknik TEMPO mengajak seluruh insan media, content creator, dan masyarakat untuk bersama-sama memahami perubahan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar jurnalistik. Jadi, Urbie’s, di tengah derasnya arus digital, satu hal yang tetap penting adalah menjaga kredibilitas, integritas, dan semangat kolaborasi demi masa depan informasi yang lebih sehat dan terpercaya.



















































