Home News Ustazah Bahijah Hamid, Ramadan Waktu Mustajab Doakan Indonesia Lebih Baik

Ustazah Bahijah Hamid, Ramadan Waktu Mustajab Doakan Indonesia Lebih Baik

49
0
Ustazah Bahijah Hamid selaku Ketua Umum FOKUS sekaligus pemimpin Majelis Ta'lim Daruttaqwa menggelar khatam Al-Qur’an dan doa bersama di Alhamd Carpet - sumber foto Istimewa
Ustazah Bahijah Hamid selaku Ketua Umum FOKUS sekaligus pemimpin Majelis Ta'lim Daruttaqwa menggelar khatam Al-Qur’an dan doa bersama di Alhamd Carpet - sumber foto Istimewa

Hi Urbie’s! Forum Komunitas Ustazah Sejabodetabek (FOKUS) menggelar khatam Al-Qur’an dan doa bersama di Alhamd Carpet, kediaman H. Malik Mahboob Ahmad, di kawasan Radio Dalam, Jakarta Selatan pada Kamis (11/2/2026). Dipimpin langsung oleh Ustazah Bahijah Hamid selaku Ketua Umum FOKUS sekaligus pemimpin Majelis Ta’lim Daruttaqwa, kegiatan ini diikuti para ustazah, tokoh agama, serta jamaah lintas wilayah Jabodetabek.

Dalam sambutannya, Ustazah Bahijah menekankan bahwa Ramadan adalah waktu mustajab untuk memperbanyak doa, tidak hanya bagi diri sendiri, tetapi juga bagi bangsa dan negara.

“Sebagai warga negara, kita memiliki kewajiban moral dan spiritual untuk mendoakan pemerintah, bangsa, dan negara agar selalu dalam kebaikan,” ujarnya. Doa bersama tersebut secara khusus dipanjatkan untuk Presiden RI Prabowo Subianto, masyarakat Indonesia, serta perdamaian dunia.

Suasana khidmat semakin terasa ketika doa-doa dipanjatkan bagi masyarakat yang tengah menghadapi bencana alam di berbagai daerah, mulai dari Aceh, Medan, Padang, hingga Jawa Barat. Para peserta memohon agar para korban diberi kekuatan, pertolongan, dan kemudahan dalam menghadapi ujian. Harapannya, setiap amal kebaikan yang dilakukan menjadi amal saleh yang diterima oleh Allah SWT.

Ramadan, Momentum Mustajab untuk Mendoakan Bangsa

Dalam kesempatan yang sama, Malik Mahboob Ahmad mengajak seluruh ulama, pemuka agama, pimpinan masjid, dan majelis taklim di Indonesia untuk terus mendoakan para pemimpin bangsa. Menurutnya, doa untuk pemimpin bukan sekadar formalitas, tetapi merupakan tanggung jawab moral sebagai warga negara.

Ia juga menyoroti empat poin penting dari kegiatan tersebut. Pertama, khatmul Qur’an dijadikan sebagai doa kolektif untuk presiden, bangsa Indonesia, dan perdamaian dunia. Kedua, kegiatan ini mengajak seluruh rakyat Indonesia—lintas suku, agama, dan daerah—untuk mendoakan negeri sesuai keyakinan masing-masing. Ketiga, doa dinilai sebagai kewajiban moral dan spiritual yang memiliki dampak positif terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Keempat, FOKUS menyerukan pelaksanaan doa bersama secara nasional melalui munajat, istighotsah, dzikir, dan istighfar di berbagai tempat ibadah, lembaga pendidikan, hingga kantor pemerintahan dan swasta.

Baca Juga:

Tak hanya itu, Malik juga mengusulkan gagasan perjalanan spiritual kenegaraan ke Tanah Suci, melibatkan Presiden, jajaran pemerintah, ulama, akademisi, serta keluarga mantan pemimpin bangsa untuk memanjatkan doa khusus bagi Indonesia dan perdamaian dunia. Menurutnya, perjalanan spiritual tersebut bisa menjadi simbol persatuan dan harapan baru bagi bangsa.

Dalil Al-Qur’an tentang Keutamaan Doa

Dalam tausiyahnya, Ustazah Bahijah mengingatkan jamaah tentang keutamaan doa dengan merujuk Surat Al-Baqarah ayat 186 yang menjelaskan kedekatan Allah SWT dengan hamba-Nya dan janji pengabulan doa bagi mereka yang bersungguh-sungguh memohon. Ia menekankan bahwa waktu berpuasa, terutama menjelang berbuka, merupakan momentum terbaik untuk memohon kebaikan bagi diri, keluarga, bangsa, dan negara.

Selain itu, ia juga mengutip Surat An-Naml ayat 62 yang menegaskan bahwa hanya Allah SWT yang mampu mengabulkan doa dalam kesulitan dan menghilangkan kesusahan. Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa dalam setiap ujian, umat manusia tetap memiliki harapan melalui doa dan ketakwaan.

Ramadan sebagai Momentum Perbaikan Kolektif

Melalui khataman dan doa bersama ini, FOKUS berharap Ramadan tidak hanya menjadi rutinitas ibadah personal, tetapi juga momentum perbaikan kolektif bagi bangsa Indonesia. Para peserta diajak untuk memperkuat persatuan, menebar kebaikan, serta terus memanjatkan doa demi kemajuan negara dan kesejahteraan rakyat.

Urbie’s!, kegiatan ini menunjukkan bahwa Ramadan bukan sekadar tentang menahan lapar dan haus, tetapi juga tentang memperkuat kepedulian sosial, solidaritas nasional, dan harapan akan masa depan yang lebih baik. Dengan doa yang dipanjatkan bersama, para ustazah dan jamaah berharap Indonesia semakin damai, sejahtera, dan penuh keberkahan—tidak hanya selama Ramadan, tetapi juga di sepanjang perjalanan bangsa ke depan.