Home Entertainment Karya Upie Guava, Rilis Trailer Pelangi di Mars, Petualangan Sci-Fi Karya Anak...

Karya Upie Guava, Rilis Trailer Pelangi di Mars, Petualangan Sci-Fi Karya Anak Bangsa yang Siap Tayang

77
0
Trailer Pelangi di Mars - sumber foto ririn/Urbanvibes
Trailer Pelangi di Mars - sumber foto ririn/Urbanvibes

Hi Urbie’s! Industri film anak Indonesia kembali menghadirkan gebrakan baru. Mahakarya Pictures resmi merilis trailer film petualangan fiksi ilmiah Pelangi di Mars dalam konferensi pers di Jakarta. Film yang dikembangkan selama lima tahun ini membawa sesuatu yang berbeda: kisah anak Indonesia yang hidup di Planet Mars dengan misi besar menyelamatkan Bumi dari krisis air bersih.

Bukan sekadar tontonan luar angkasa penuh efek visual, Pelangi di Mars menawarkan cerita tentang harapan, keberanian, dan imajinasi—nilai yang terasa relevan di tengah dunia yang semakin kompleks.

Anak Indonesia Jadi Pusat Cerita

Tokoh utama dalam film ini adalah Pelangi, diperankan oleh Messi Gusti. Ia diceritakan tumbuh di Mars setelah terdampar bersama sang ibu, Pratiwi. Di planet merah itulah kehidupan baru dimulai.

Pratiwi tengah menjalankan misi penting: mencari mineral bernama Zeolith Omega yang diyakini menjadi solusi atas krisis air bersih di Bumi. Namun alih-alih hanya menjadi “anak yang ikut orang tua”, Pelangi justru berkembang menjadi karakter sentral yang aktif mengambil keputusan.

Di sinilah letak kekuatan cerita ini, Urbie’s. Film anak sering kali menempatkan sosok dewasa sebagai pusat solusi. Pelangi di Mars justru membalik pola tersebut. Pelangi digambarkan berani, ingin tahu, dan tak ragu menghadapi tantangan. Ia bukan sekadar pengikut keadaan, melainkan motor penggerak perubahan.

Pendekatan ini terasa segar dan relevan dengan generasi hari ini—anak-anak yang tumbuh di era penuh tantangan lingkungan, teknologi, dan perubahan sosial.

Visual Futuristik dengan Teknologi XR

Dari sisi produksi, film ini dikembangkan menggunakan teknologi Extended Reality (XR), memadukan animasi 3D dengan produksi virtual di Studio DossGuavaXR. Hasilnya adalah lanskap Mars yang imersif dan detail, menghadirkan pengalaman visual yang berbeda dari kebanyakan film anak lokal.

Namun bagi tim kreatifnya, teknologi bukanlah pusat perhatian utama. Produser Dendi Reynando menegaskan bahwa yang ingin dihadirkan adalah lebih banyak pilihan tontonan keluarga di Indonesia.

“Film anak dan keluarga masih sangat terbatas. Kami ingin memberi alternatif, agar anak-anak Indonesia punya cerita mereka sendiri,” ujarnya.

Pernyataan ini seolah menjadi refleksi kondisi perfilman nasional, di mana film anak berkualitas masih jarang diproduksi secara konsisten. Pelangi di Mars hadir sebagai jawaban atas kebutuhan tersebut—menggabungkan teknologi modern dengan cerita yang membumi.

Baca Juga:

Perspektif Orang Tua yang Tidak Menggurui

Di balik layar, kursi sutradara diisi oleh Upie Guava, yang melihat proyek ini bukan hanya sebagai film, tetapi juga sebagai refleksi perannya sebagai orang tua.

Menurutnya, tugas orang tua adalah mengantarkan anak hidup di zamannya sendiri. Dunia yang akan dihadapi generasi sekarang berbeda dengan masa kecil orang tua mereka. Tantangannya berbeda, cara berpikirnya pun berbeda.

Isu krisis lingkungan dalam film ini hadir sebagai latar cerita, bukan ancaman yang menakutkan atau pesan moral yang terlalu gamblang. Upie percaya bahwa anak-anak tidak suka digurui. Karena itu, pesan tentang pentingnya menjaga Bumi disampaikan lewat petualangan, persahabatan dengan robot-robot interaktif, serta dinamika emosional dalam perjalanan Pelangi.

Pendekatan storytelling ini terasa personal. Upie mengaku banyak terinspirasi dari kebiasaannya mendongeng untuk anak-anaknya sebelum tidur. Tanpa skrip kaku, ia terbiasa merasakan kapan cerita perlu naik, kapan memberi ruang emosi, dan kapan menyelipkan humor. Ritme itulah yang kemudian diterjemahkan ke dalam film.

Lebih dari Sekadar Petualangan Luar Angkasa

Saat peluncuran trailer, lima robot dari film ini bahkan dihadirkan secara langsung untuk menyapa media dan tamu undangan. Para pengisi suara seperti Kristo Immanuel, Gilang Dirga, dan lainnya turut memeriahkan acara, menandakan keseriusan produksi film ini.

Namun pada akhirnya, daya tarik utama Pelangi di Mars bukan hanya pada robot canggih atau visual futuristiknya. Film ini mengajak anak-anak membayangkan diri mereka sebagai bagian dari solusi atas persoalan dunia.

Pelangi digambarkan tumbuh tanpa sekat sosial tertentu. Ia percaya bahwa setiap individu, sekecil apa pun perannya, memiliki kesempatan untuk berbuat sesuatu bagi masa depan.

Di tengah berbagai isu global—dari krisis iklim hingga keterbatasan sumber daya—Pelangi di Mars memilih menyampaikan harapan secara sederhana. Lewat kisah seorang anak yang mencoba melakukan yang terbaik dari tempat ia berdiri.

Bagi Urbie’s yang mencari tontonan keluarga dengan sentuhan imajinasi, teknologi modern, sekaligus pesan yang relevan, film ini layak masuk daftar pantauan.

Karena terkadang, untuk memahami masa depan, kita hanya perlu melihatnya dari sudut pandang seorang anak yang berani bermimpi lebih jauh—bahkan sampai ke Mars.