Hi Urbie’s, ada kabar penting menjelang Ramadan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi, khususnya bagi umat Muslim yang berencana menunaikan ibadah di Tanah Suci. Otoritas Arab Saudi resmi menetapkan format pelaksanaan salat Tarawih di dua masjid suci—Masjid al-Haram dan Masjid an-Nabawi.
Berdasarkan keterangan resmi dari General Presidency for the Affairs of the Two Holy Mosques, salat Tarawih tahun ini akan dilaksanakan sebanyak 10 rakaat, dilanjutkan dengan 3 rakaat Witir. Totalnya menjadi 13 rakaat, dengan lima kali taslim sebelum Witir.
Keputusan ini mempertahankan format yang sudah diterapkan dalam beberapa tahun terakhir, sekaligus menggantikan struktur 23 rakaat (20 Tarawih dan 3 Witir) yang masih digunakan hingga 2022.
Fokus pada Kenyamanan dan Kekhusyukan
Urbie’s, perubahan format ini bukan tanpa alasan. Otoritas pengelola Dua Masjid Suci menyebut bahwa pengaturan jumlah rakaat bertujuan untuk menjaga kenyamanan dan kekhusyukan jamaah, terutama di tengah lonjakan jumlah pengunjung saat Ramadan.
Setiap tahunnya, jutaan umat Muslim dari seluruh dunia memadati Masjidil Haram di Makkah dan Masjid Nabawi di Madinah. Ramadan menjadi periode dengan intensitas ibadah tertinggi, di mana jamaah tidak hanya menunaikan salat wajib dan Tarawih, tetapi juga memperbanyak tawaf, i’tikaf, serta membaca Al-Qur’an.
Dengan format 13 rakaat, diharapkan pelaksanaan ibadah dapat berlangsung lebih tertib, tidak terlalu panjang, namun tetap khidmat.
Konsistensi Format Sejak Perubahan 2023
Jika menilik sejarahnya, format 23 rakaat (20 Tarawih + 3 Witir) pernah menjadi praktik umum di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi selama bertahun-tahun. Namun sejak beberapa musim Ramadan terakhir, otoritas Saudi melakukan penyesuaian menjadi 10 rakaat Tarawih ditambah 3 rakaat Witir.
Kini, untuk Ramadan 1447 H, format tersebut kembali ditegaskan sebagai standar resmi.
Langkah ini juga menunjukkan adanya konsistensi kebijakan dalam manajemen ibadah di dua masjid paling suci dalam Islam. Dengan jumlah jamaah yang terus meningkat pasca pemulihan mobilitas global, efisiensi waktu dan pengaturan arus jamaah menjadi faktor penting.
Antusiasme Jamaah Global
Urbie’s, Ramadan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi selalu memiliki atmosfer yang sulit digambarkan dengan kata-kata. Ribuan saf membentang, lantunan ayat suci menggema, dan suasana spiritual terasa begitu kuat.
Dengan format 13 rakaat, jamaah tetap dapat merasakan kekhusyukan Tarawih berjamaah bersama imam-imam ternama, tanpa harus menjalani durasi yang terlalu panjang hingga larut malam.
Kebijakan ini juga dinilai membantu jamaah lansia dan mereka yang memiliki keterbatasan fisik agar tetap bisa mengikuti rangkaian ibadah dengan nyaman.
Baca Juga:
- Karya Upie Guava, Rilis Trailer Pelangi di Mars, Petualangan Sci-Fi Karya Anak Bangsa yang Siap Tayang
- Tren Anti-Pensiun di Korea Selatan, Tingkat Pekerjaan Lansia Tembus 70 Persen
- Lagi Ulang Tahun Kok Malah Sedih? Mengenal Fenomena Birthday Blues
Perspektif Fikih dan Praktik Global
Secara fikih, jumlah rakaat Tarawih memang memiliki ragam praktik di berbagai negara. Sebagian komunitas Muslim menjalankan 8 rakaat Tarawih ditambah 3 Witir, sementara lainnya tetap mempertahankan 20 rakaat Tarawih.
Di Indonesia sendiri, praktik 11 rakaat dan 23 rakaat sama-sama lazim dijumpai di berbagai masjid.
Karena itu, keputusan otoritas Arab Saudi menetapkan 10 rakaat Tarawih plus 3 Witir bukanlah sesuatu yang bertentangan dengan prinsip syariat. Justru hal ini menunjukkan fleksibilitas dalam pelaksanaan ibadah sunnah, dengan mempertimbangkan maslahat jamaah.
Manajemen Ibadah di Era Modern
Urbie’s, pengelolaan Masjidil Haram dan Masjid Nabawi di era modern bukan perkara sederhana. Selain aspek spiritual, ada dimensi manajemen massa, keamanan, kebersihan, hingga kesehatan jamaah yang harus diperhatikan.
General Presidency for the Affairs of the Two Holy Mosques menegaskan bahwa seluruh pengaturan ibadah Ramadan telah dirancang untuk memastikan pengalaman spiritual yang aman dan nyaman bagi jutaan jamaah.
Dengan teknologi pengawasan canggih, sistem pendingin raksasa, serta koordinasi ribuan petugas, dua masjid suci ini terus beradaptasi menghadapi dinamika jumlah pengunjung setiap tahunnya.
Ramadan 1447 H di Tanah Suci
Bagi Urbie’s yang berencana umrah Ramadan tahun ini, informasi ini tentu menjadi penting. Mengetahui format resmi Tarawih membantu jamaah mempersiapkan fisik dan manajemen waktu selama berada di Makkah maupun Madinah.
Salat Tarawih 10 rakaat yang dilanjutkan 3 rakaat Witir akan menjadi standar pelaksanaan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi sepanjang Ramadan 1447 H.
Lebih dari sekadar angka, keputusan ini mencerminkan upaya menjaga keseimbangan antara tradisi, syariat, dan kenyamanan jamaah di tengah lautan manusia yang datang dari berbagai penjuru dunia.
Pada akhirnya, esensi Ramadan tetap sama: memperbanyak ibadah, mendekatkan diri kepada Allah, dan meraih keberkahan malam-malam suci.
Urbie’s, apakah kamu termasuk yang bermimpi merasakan Tarawih langsung di Tanah Suci? Dengan format 13 rakaat tahun ini, pengalaman spiritual itu diharapkan tetap khusyuk, hangat, dan penuh makna.



















































