Urbie's, pergerakan saham PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS) kembali menjadi perhatian setelah mengalami penurunan pada perdagangan awal November 2026. Emiten yang identik dengan nama Raffi Ahmad tersebut mencatatkan pelemahan saham sebesar 6,48% hingga menyentuh level Rp101 per saham pada Senin (2/11/2026).

Berdasarkan laporan IDNFinancials, harga tersebut membuat saham RANS berada sekitar 40,59% di bawah harga penawaran umum perdana atau Initial Public Offering (IPO) sebesar Rp170 per saham. Kondisi ini turut menjadi perhatian karena jumlah investor perusahaan juga mengalami penurunan dalam beberapa bulan terakhir.

Jumlah Investor Saham RANS Turun 14,75%

Berdasarkan data registrasi pemegang saham September 2026, jumlah investor RANS tercatat sebanyak 126.253 Single Investor Identification (SID). Angka tersebut berkurang sebanyak 21.843 SID atau sekitar 14,75% dibandingkan Agustus 2026 yang mencapai 148.096 SID.

Jika dibandingkan dengan periode pencatatan saham perdana di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Juli 2026, penurunan jumlah investor terlihat semakin signifikan. Saat IPO, RANS tercatat memiliki 754.691 SID.

Dari sisi kepemilikan saham, Raffi Farid Ahmad masih menjadi pemegang saham terbesar dengan kepemilikan 7,93 miliar saham atau setara 62,93%. Posisi berikutnya ditempati PT Indonesia Entertainmen Grup dengan 911,5 juta saham atau 7,23%.

Sementara itu, Soultan Ariq Rachman dan Dony Oskaria masing-masing memiliki 2,74% saham. Andi Syamsuddin Arsyad tercatat memiliki 1,40%, Sutanto Hartono sebesar 1,14%, sedangkan Nagita Slavina Mariana Tengker menguasai 0,99%.

Urbanvibes Ads banner Pullman Central Park Jakarta Hotel

Adapun porsi saham publik atau free float RANS mencapai 19,82% pada akhir September 2026. Angka ini sedikit menurun dibandingkan Agustus 2026 yang berada di level 19,96%, dengan jumlah saham publik sekitar 2,49 miliar dari total 12,60 miliar saham perseroan.

Pendapatan RANS Turun, tetapi Laba Meningkat

Di tengah penurunan harga saham dan jumlah investor, kinerja keuangan RANS pada semester I-2026 menunjukkan perkembangan yang beragam.

Perseroan mencatatkan pendapatan sebesar Rp149 miliar, turun 13,17% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp171,6 miliar.

Meski demikian, laba periode berjalan justru mengalami peningkatan. RANS membukukan laba sebesar Rp23,76 miliar pada semester I-2026, lebih tinggi dibandingkan Rp21,41 miliar pada semester I-2025.

Perbedaan pergerakan pendapatan dan laba ini menunjukkan bahwa kondisi keuangan perusahaan tidak hanya dapat dilihat dari satu indikator. Investor juga perlu memperhatikan perkembangan bisnis, profitabilitas, serta prospek perusahaan ke depan.

Polemik Raffi Ahmad dan Seruan Boikot RANS Entertainment

Selain faktor pasar dan kinerja keuangan, RANS juga tengah menjadi sorotan publik menyusul polemik yang melibatkan Raffi Ahmad.

Perhatian tersebut muncul setelah Raffi menghadiri Deklarasi Sumpah Pemuda Mahasiswa Indonesia yang diselenggarakan Polda Metro Jaya pada 29 Oktober 2026. Kehadirannya menuai kritik karena berlangsung setelah aksi demonstrasi mahasiswa pada 28 Oktober 2026.

Situasi tersebut kemudian memunculkan seruan boikot terhadap Raffi Ahmad dan RANS Entertainment di media sosial.

Dampaknya turut menjadi perhatian dalam penyelenggaraan RANS Carnival di Stadion Maguwoharjo, Sleman, pada 31 Oktober hingga 1 November 2026. Sejumlah musisi, di antaranya Tipe-X, Guyon Waton, OM Wawes, dan Masdddho, membatalkan penampilan mereka dalam acara tersebut.

Menanggapi kegaduhan yang muncul, Raffi Ahmad telah menyampaikan permintaan maaf kepada publik. Ia juga menyatakan akan lebih berhati-hati dalam menghadiri berbagai kegiatan publik ke depannya.

Bagaimana Prospek Saham RANS Selanjutnya?

Urbie's, penurunan saham RANS dan berkurangnya jumlah investor menjadi perkembangan yang menarik untuk dicermati. Namun, pergerakan harga saham tidak dapat dikaitkan secara langsung dengan satu peristiwa atau polemik tertentu tanpa adanya bukti yang menunjukkan hubungan sebab-akibat.

Kondisi tersebut perlu dilihat bersama sejumlah faktor, mulai dari kinerja keuangan, perkembangan bisnis, sentimen pasar, hingga respons investor terhadap perusahaan.

Dengan harga saham yang berada di bawah harga IPO serta jumlah investor yang menyusut dibandingkan periode sebelumnya, perkembangan RANS selanjutnya tentu menjadi perhatian pelaku pasar.

Bagi investor, memahami laporan keuangan dan memantau keterbukaan informasi perusahaan tetap menjadi langkah penting sebelum mengambil keputusan investasi.