Hi Urbie’s! Nama Gerald Liu kembali jadi sorotan publik. Tapi sebelum masuk ke drama yang lagi viral, ada baiknya kita kenalan dulu dengan sosok di balik kontroversi ini.
Gerald bukan nama baru di industri musik elektronik Indonesia. Musisi kelahiran 1996 ini sudah menempuh perjalanan panjang sejak usia 19 tahun. Dari yang awalnya hanya hobi bermain musik, kini ia dikenal sebagai produser sekaligus founder label musik independen yang menaungi artis lintas negara.

Menariknya, perjalanan Gerald nggak selalu mulus. Ia sempat kuliah di jurusan akuntansi di usia 17 tahun, mengikuti keinginan orang tua. Tapi passion-nya di dunia musik nggak bisa dibendung.
“Gue dulu diajak orang tua pelayanan gereja, dan mengajar piano buat anak-anak komplek,” ungkapnya. Namun seiring waktu, ia melihat banyak temannya dari jurusan Ekonomi dan Hukum justru terjun ke dunia musik—dan itu makin menguatkan pilihannya.
Titik balik kariernya terjadi pada 2016 saat ia mengikuti ajang The Remix di NET TV dan keluar sebagai runner-up. Di sana, ia bertemu dengan DJ Wingky Wiryawan yang menjadi mentornya. Setelah itu, Gerald sempat dikontrak NET TV, tapi ia justru lebih tertarik dengan proses produksi di balik layar dibanding tampil di depan kamera.
Pernyataan Reza Arap yang Picu Kontroversi
Drama ini bermula dari sosok Reza Arap yang kembali jadi perbincangan hangat.
Dalam potongan video live streaming “Marapthon” season 3 yang viral di media sosial, Reza terlihat membaca komentar penonton soal lagu World Cup dan Asian Games.
Dengan santai, ia mengatakan bahwa soundtrack Asian Games dibuat olehnya seorang diri.
“Soundtrack-nya kan Weird Genius. Asian Games gua sendiri. Soundtrack-nya gua,” ujar Reza dalam video tersebut.
Pernyataan ini langsung jadi perhatian. Mengingat proyek seperti Asian Games 2018 bukanlah proyek kecil, klaim tersebut tentu memancing reaksi—terutama dari orang-orang yang merasa terlibat.
Gerald Liu Bongkar Bukti dan Versi Ceritanya
Tak butuh waktu lama, Gerald Liu pun angkat suara.
Lewat Instagram, ia me-repost potongan video tersebut dan memberikan respons yang cukup mengejutkan. Dengan gaya santai tapi menyentil, Gerald menyebut bahwa ia masih menyimpan file proyek lagu Asian Games.
“Bentar, Asian Games? Kayaknya gue masih punya file-nya deh,” ujarnya.
Meski laptop lamanya dari tahun 2016 sudah rusak, Gerald ternyata menyimpan backup di hardisk. Ia kemudian menunjukkan folder produksi bertuliskan “Rap ASEANGAMES Project” yang menjadi bukti keterlibatannya.
“Nah nemu nih, RAP ASEANGAMES. Kita play ya guys,” katanya, meski file tersebut sudah kehilangan track vokal.
Dari situ, Gerald menjelaskan bahwa lagu tema Asian Games sebenarnya dikerjakan bersama Reza Arap. Ia menegaskan bahwa dirinya turut membuat bagian musik dalam proyek tersebut.
Baca Juga:
- Indonesia Tiga Besar Agoda Awards 2025, Bali Destinasi Favorit Wisatawan
- Harapan Baru Dunia Medis, Peneliti UNAIR Temukan Senyawa Antikanker dari Tanaman “Apa-apa”
- Bocah 9 Tahun Datangi Polisi untuk Mengaku Salah, Kisah Ini Jadi Pelajaran Soal Tanggung Jawab
“Nah kan jelas ya. Pildun Weird Genius, Asian Games gua dan Arap,” ungkapnya.
Namun, ia juga menyindir pernyataan Reza dengan nada bercanda.
“Tapi kalau Arap bilang dia sendiri, padahal ada gua yang bikin musiknya, berarti jangan-jangan gua itu…” ujarnya sambil memarodikan gaya khas Reza Arap.
Peran Weird Genius dan Nama-nama di Baliknya
Buat Urbie’s yang belum tahu, baik Gerald Liu maupun Reza Arap adalah bagian dari Weird Genius—grup musik elektronik yang juga dikenal lewat karya-karya internasionalnya.
Gerald sendiri memutuskan keluar dari Weird Genius pada 21 Oktober 2023 karena perbedaan visi dan misi. Setelah itu, grup ini dilanjutkan oleh Reza Arap dan Eka Gustiwana bersama member baru, Roycdc.
Menariknya, dalam diskusi ini, Eka juga ikut angkat suara. Ia memberikan perspektif tambahan terkait proyek lain, yaitu lagu tema World Cup.
Menurut Eka, proyek tersebut memang dikerjakan secara kolaboratif oleh seluruh member Weird Genius dan rekan mereka, termasuk JyoHx. Ia bahkan mengingat bagaimana Gerald sempat mengeluhkan banyaknya track stems yang ia kirimkan.
“Gw gak tau lagu Asian Games karena bukan WG yang kerjain,” ujar Eka, sekaligus mengonfirmasi bahwa proyek tersebut berada di luar ranah Weird Genius sebagai grup.
Namun alih-alih memperpanas situasi, Eka justru mengajak Gerald untuk bertemu dan berdiskusi langsung di studio.
“Lu mending mampir producer’s corner bahas deh kita,” ajaknya.
Netizen Bingung: Siapa yang Paling Berperan?
Perbedaan pernyataan ini langsung bikin netizen terbelah. Ada yang membela Reza Arap, ada juga yang mendukung Gerald Liu setelah melihat bukti file produksi.
Namun, banyak juga yang mulai melihat ini dari sudut pandang berbeda—bahwa proyek besar seperti soundtrack Asian Games memang hampir pasti melibatkan lebih dari satu orang.
Dalam industri musik, terutama produksi skala besar, kolaborasi adalah hal yang lumrah. Ada yang mengerjakan beat, ada yang menyusun aransemen, ada juga yang fokus pada mixing hingga mastering.
Jadi, perbedaan klaim seperti ini bisa jadi bukan soal siapa yang benar atau salah, tapi bagaimana masing-masing individu memaknai kontribusinya.
Drama atau Klarifikasi?
Urbie’s, di balik semua ini, ada satu hal yang menarik: publik kini semakin peduli dengan “siapa di balik layar.”
Dulu, mungkin kita hanya menikmati lagu tanpa tahu proses panjang di belakangnya. Tapi sekarang, transparansi dan kredit jadi hal yang penting—terutama di era digital.
Apakah ini murni drama? Atau justru bentuk klarifikasi yang diperlukan?
Yang jelas, perbincangan ini membuka mata banyak orang tentang kompleksitas industri musik.
Dan satu hal yang pasti: karya besar seperti soundtrack Asian Games bukan lahir dari satu tangan saja.
Kita tunggu saja kelanjutannya, Urbie’s—apakah akan ada klarifikasi lanjutan, atau justru kolaborasi baru yang lahir dari “drama” ini?







