Hi Urbie’s! Kalau kamu mengenal Flea hanya sebagai bassist enerjik dari Red Hot Chili Peppers, siap-siap melihat sisi yang benar-benar berbeda. Di usia 63 tahun, Flea justru memilih kembali ke akar musiknya—alat musik pertama yang ia pelajari sejak kecil: trumpet. Dan setelah dua tahun mendalami instrumen tersebut, lahirlah sebuah karya yang sangat personal berjudul Honora.
Album ini resmi dirilis pada 27 Maret dan menjadi debut solo penuh dari Flea, sesuatu yang cukup mengejutkan mengingat perjalanan panjangnya di dunia musik.

Kembali ke Awal, Tapi dengan Perspektif Baru
Buat banyak musisi, kembali ke instrumen awal mungkin terasa seperti nostalgia. Tapi bagi Flea, ini adalah perjalanan yang lebih dalam.
Selama dua tahun, ia benar-benar fokus mempelajari kembali trumpet, bukan sekadar sebagai eksperimen, tapi sebagai bentuk eksplorasi diri.
Hasilnya terasa dalam Honora, di mana Flea tidak hanya bermain sebagai bassist, tapi juga sebagai trumpeter yang membawa nuansa berbeda ke dalam musiknya.
“Semua ini terasa menyatu, karena semuanya adalah bagian dari diri gue,” ungkap Flea dalam sebuah wawancara.
Kalimat ini seolah merangkum keseluruhan album—jujur, personal, dan tanpa batasan genre.
Nuansa Jazz yang Lebih Intim
Berbeda dengan energi funk rock yang identik dengan Red Hot Chili Peppers, Honora justru mengarah ke ranah jazz kontemporer.
Flea menggandeng sejumlah musisi jazz ternama untuk menghidupkan visinya. Salah satunya adalah Deantoni Parks, drummer yang dikenal lewat kolaborasinya dengan André 3000 dan The Mars Volta.
Dengan dukungan musisi-musisi ini, Honora terasa seperti ruang eksplorasi yang bebas, jauh dari tekanan komersial.
Ini bukan album yang dibuat untuk chart—ini adalah album yang dibuat untuk ekspresi.
Kolaborasi yang Nggak Main-Main
Meski bersifat personal, Flea tetap menghadirkan kolaborasi yang menarik.
Album ini menampilkan vokal dari Nick Cave dan Thom Yorke, dua nama besar dengan karakter musik yang kuat.
Selain itu, ada juga kontribusi halus dari rekan satu bandnya di Red Hot Chili Peppers, yaitu Chad Smith dan John Frusciante.
Meski tidak dominan, kehadiran mereka tetap memberikan warna tersendiri dalam album ini.
Baca Juga:
- MK Hapus Pensiun Seumur Hidup DPR, Langkah Baru untuk Keadilan Anggaran?
- Waspada Urbie’s! 135 Ribu Lagu Palsu Serbu Platform Streaming, Musisi Dunia Jadi Korban AI Deepfake
- Trailer Spider-Man: Brand New Day Jadi yang Paling Banyak Ditonton Sepanjang Masa, Tembus 718 Juta Views
Lebih dari Sekadar Album Solo
Buat Urbie’s, Honora bukan sekadar proyek sampingan dari seorang musisi legendaris.
Ini adalah bukti bahwa eksplorasi musik tidak mengenal usia.
Di saat banyak musisi memilih untuk bermain aman dengan formula yang sudah sukses, Flea justru mengambil risiko dengan mencoba sesuatu yang benar-benar berbeda.
Dan di situlah letak kekuatannya.
Identitas Baru Seorang Flea
Selama ini, Flea dikenal dengan gaya bermain bass yang eksplosif dan penuh energi. Tapi di album ini, ia menunjukkan sisi yang lebih tenang, reflektif, dan bahkan meditatif.
Trumpet menjadi medium baru untuk menyampaikan emosi yang mungkin tidak bisa ia ekspresikan lewat bass.
Perpaduan antara trumpet dan electric bass menciptakan sound yang unik—sebuah jembatan antara masa lalu dan masa kini.
Era Baru Kreativitas Musisi
Langkah Flea ini juga mencerminkan tren yang lebih luas di industri musik.
Banyak musisi kini mulai mengeksplorasi proyek solo yang lebih personal, jauh dari identitas band atau label besar.
Mereka tidak lagi hanya membuat musik untuk pasar, tapi juga untuk diri mereka sendiri.
Dan Honora adalah contoh sempurna dari pendekatan tersebut.
Worth It untuk Didengar?
Kalau Urbie’s mencari album dengan vibe yang berbeda dari mainstream, Honora jelas layak masuk playlist.
Ini bukan album yang akan langsung “nendang” di telinga, tapi justru menawarkan pengalaman mendengar yang lebih dalam.
Cocok buat kamu yang ingin:
- Menikmati musik dengan lebih santai
- Mengeksplorasi genre baru
- Atau sekadar mencari sesuatu yang fresh
Sebuah Perjalanan, Bukan Tujuan
Pada akhirnya, Honora bukan hanya tentang hasil akhir, tapi tentang perjalanan.
Perjalanan seorang musisi yang kembali ke awal, belajar lagi, dan menemukan cara baru untuk mengekspresikan dirinya.
Dan buat Urbie’s, ini jadi pengingat bahwa dalam dunia kreatif, tidak ada kata terlambat untuk memulai sesuatu yang baru.







