Hi Urbie’s! Bayangkan sudah membeli mobil secara tunai, berharap bisa langsung menikmati kendaraan baru, tetapi belum lama digunakan justru muncul sejumlah persoalan teknis yang bikin kepala pusing. Pengalaman tersebut dialami kreator konten Aa Juju, pemilik akun media sosial @makanlurr, yang kini ramai menjadi sorotan setelah membagikan keluhannya terkait Hyundai Ioniq 5 dan pelayanan Hyundai Fatmawati.
Persoalannya bukan hanya soal mobil yang disebut mengalami sejumlah error, tetapi juga berkembang menjadi drama komunikasi antara Aa Juju dan pihak dealer. Potongan video percakapan ketika dirinya mendatangi Hyundai Fatmawati kemudian viral dan memicu perdebatan publik soal bagaimana seharusnya dealer menangani konsumen yang datang membawa keluhan.
Berawal dari Mobil Cash dan Masalah yang Muncul Satu per Satu
Aa Juju mengungkapkan bahwa dirinya membeli Hyundai Ioniq 5 secara tunai dari Hyundai Fatmawati. Setelah kendaraan digunakan, ia mengaku menemukan beberapa persoalan yang menurutnya cukup mengganggu, mulai dari fast charging error, mobil tidak bisa menyala, aki soak, peringatan terkait penggunaan baterai, hingga head unit yang bermasalah.
Namun, salah satu hal yang paling menjadi sorotan adalah persoalan ketika mobil digunakan untuk parkir paralel. Menurut Aa Juju, sebelum melakukan pembelian dirinya mendapatkan penjelasan dari sales bahwa mobil tersebut dapat digunakan untuk kebutuhan parkir paralel, tetapi setelah kendaraan dimiliki, ia justru menemukan kendala ketika fitur tersebut digunakan.
Dalam kondisi parkir paralel yang menjadi persoalan tersebut, Aa Juju menyebut head unit dan pintu mobil tidak bisa digunakan seperti yang diharapkan. Kondisi ini kemudian membuatnya mempertanyakan kembali informasi yang ia terima sebelum transaksi, terutama karena kemampuan tersebut disebut menjadi salah satu pertimbangan dalam membeli kendaraan.
Saat Keluhan Tak Kunjung Mendapat Respons
Setelah menemukan persoalan, Aa Juju mengaku mencoba menghubungi sales yang sebelumnya menangani pembeliannya. Namun, ketika respons yang diharapkan tidak kunjung datang, ia akhirnya memilih mendatangi langsung dealer Hyundai Fatmawati untuk mencari penjelasan dan solusi.
Alih-alih mendapatkan penyelesaian yang membuat situasi lebih tenang, pertemuannya dengan seorang supervisor justru berkembang menjadi perdebatan. Rekaman percakapan tersebut kemudian beredar di media sosial dan membuat perhatian publik bergeser dari sekadar masalah kendaraan menjadi persoalan customer service dan aftersales.

Pernyataan Supervisor yang Bikin Netizen Ikut Bereaksi
Dalam video yang beredar, supervisor tersebut terdengar mempertanyakan sejauh mana seorang sales harus menjelaskan detail sebuah produk kepada konsumen. Salah satu pernyataan yang menjadi sorotan adalah ketika supervisor menyampaikan bahwa sulit bagi sales untuk menjelaskan produk sampai sedetail tertentu, sementara pengetahuan teknis lebih mendalam disebut berkaitan dengan pihak teknisi.
Baca juga:
- VinFast VF3, Mobil Listrik Mungil yang Siap Menggebrak Pasar Indonesia dengan Harga Mengejutkan!
- BYD Dolphin Mini, Mobil Listrik Murah yang Siap Mengguncang Pasar Indonesia!
Bagi Aa Juju, persoalan tersebut bukan hanya tentang siapa yang bertanggung jawab terhadap detail teknis kendaraan. Ia mempertanyakan bagaimana konsumen bisa mengambil keputusan pembelian dengan tepat apabila informasi yang diberikan saat proses penjualan ternyata tidak sesuai dengan pengalaman setelah mobil digunakan.
Pertanyaan tersebut kemudian ikut bergema di kalangan netizen. Jika konsumen yang sudah membeli mobil secara cash saja merasa kesulitan mendapatkan respons ketika mengalami kendala, publik tentu bisa membayangkan bagaimana pengalaman calon konsumen yang baru datang ke dealer untuk bertanya mengenai produk.
Permintaan Maaf Akhirnya Disampaikan
Polemik tersebut kemudian mendapatkan respons dari Hyundai Indonesia. Head of PR PT Hyundai Motors Indonesia (HMID), Rouli Sijabat, menyampaikan permohonan maaf atas pengalaman yang dialami Aa Juju, baik terkait penggunaan kendaraan maupun pelayanan dari tim sales dan aftersales.
Tidak berhenti di tingkat perusahaan, supervisor Hyundai Fatmawati bernama Widay Markus juga menyampaikan permohonan maaf secara langsung. Ia mengakui adanya kekeliruan dalam pelayanan, meminta maaf kepada Aa Juju, Hyundai Motors Indonesia, PT Gowa Modern Motor, serta pihak lain yang terdampak oleh polemik tersebut.
Widay juga menyatakan siap menerima konsekuensi dari perusahaan atas sikap pelayanan yang dinilai tidak sesuai standar. Ia menyebut kejadian tersebut sebagai bahan evaluasi untuk memperbaiki kualitas pelayanan kepada konsumen Hyundai di wilayah Fatmawati.
Ketika Masalah Produk Berubah Menjadi Masalah Pengalaman
Kasus Aa Juju memperlihatkan bahwa pengalaman membeli kendaraan tidak berhenti ketika konsumen menyelesaikan pembayaran. Apalagi untuk produk bernilai tinggi seperti mobil listrik, konsumen tentu mengharapkan bukan hanya kendaraan yang sesuai dengan informasi penjualan, tetapi juga pendampingan ketika muncul persoalan setelah transaksi.
Di era media sosial, satu pengalaman konsumen bahkan dapat berkembang menjadi pembicaraan publik dalam waktu sangat singkat. Keluhan Aa Juju pun tidak hanya memunculkan diskusi mengenai Ioniq 5 dan fitur parkir paralel, tetapi juga membuka percakapan lebih luas tentang pentingnya product knowledge, komunikasi sales, dan kualitas aftersales.
Buat Urbie’s, mungkin ini menjadi pengingat bahwa membeli barang mahal bukan sekadar perkara harga dan spesifikasi di atas kertas. Yang ikut dibeli adalah rasa aman bahwa ketika sesuatu tidak berjalan sesuai harapan, akan ada pihak yang siap mendengarkan, menjelaskan, dan membantu mencari solusi.
Dan untuk Hyundai Fatmawati, polemik ini pada akhirnya bukan hanya soal satu konsumen atau satu video viral. Ini adalah ujian tentang bagaimana sebuah brand merespons kritik ketika pengalaman pelanggan sudah terlanjur menjadi konsumsi publik—karena dalam industri otomotif, mobil boleh punya teknologi canggih, tetapi pengalaman pelanggan tetap ditentukan oleh manusia yang berada di balik layanan tersebut.






