Hi Urbie’s! Bukannya mendapat sambutan meriah setelah dipercaya menutup festival K-Pop di negaranya sendiri, Ado justru harus menghadapi gelombang komentar negatif dari sebagian penggemar K-Pop Jepang. Ironisnya, penyanyi yang dikenal lewat vokal eksplosif dan identitas misterius ini kembali terseret drama fandom yang bahkan tidak sepenuhnya berkaitan dengan penampilannya di atas panggung.
Kontroversi tersebut mencuat setelah Ado menjadi penampil terakhir dalam INKIGAYO LIVE in TOKYO pada 23 September 2026. Mulai dari posisinya sebagai penutup acara, aturan kamera hingga absennya sesi finale, berbagai keputusan penyelenggara justru berujung pada serangan terhadap sang penyanyi.
Jadi Headliner di Negeri Sendiri, Ado Malah Kena Semprot
Urbie’s, bayangkan seorang penyanyi Jepang tampil sebagai penutup festival musik internasional yang diselenggarakan di Jepang, tetapi justru mendapat penolakan dari sebagian penonton lokal. Situasi itulah yang dihadapi Ado ketika kehadirannya di panggung INKIGAYO LIVE in TOKYO memicu perdebatan di kalangan penggemar K-Pop.
Sebagian penonton mempertanyakan keputusan menempatkan Ado sebagai penampil terakhir dalam acara yang identik dengan deretan idol Korea. Bagi mereka, posisi tersebut seharusnya diberikan kepada artis K-Pop yang menjadi alasan utama banyak penggemar membeli tiket.
Namun, persoalan semakin panas ketika sesi finale bersama yang dinantikan sebagian penonton ternyata tidak berlangsung setelah penampilan Ado. Kekecewaan terhadap format acara pun berkembang menjadi komentar negatif yang menyeret nama sang penyanyi.
Aturan Kamera Ikut Bikin Panas, Ado Jadi Sasaran
Bukan hanya urutan penampilan yang dipersoalkan, tetapi juga aturan khusus selama Ado berada di atas panggung. Penyanyi yang selama ini menjaga privasi wajahnya tersebut memang memiliki konsep pertunjukan berbeda dari idol K-Pop yang terbiasa berinteraksi langsung dengan kamera dan penonton.

Pembatasan penggunaan kamera dan teropong selama penampilannya menjadi salah satu hal yang diperdebatkan di media sosial. Sejumlah penggemar merasa aturan tersebut mengurangi pengalaman mereka saat menghadiri festival.
Padahal, konsep visual misterius sudah menjadi bagian dari identitas Ado jauh sebelum ia tampil dalam acara tersebut. Perbedaan karakter pertunjukan inilah yang tampaknya belum sepenuhnya bertemu dengan ekspektasi sebagian penonton K-Pop.
Dari Kolaborasi LE SSERAFIM sampai Perang J-Pop vs K-Pop
Bagi Ado, ini bukan kali pertama namanya menjadi sasaran komentar negatif dari sebagian penggemar musik Korea. Sebelumnya, kolaborasinya dengan LE SSERAFIM juga sempat memunculkan perdebatan karena karakter vokalnya yang kuat dianggap sebagian pendengar tidak sesuai dengan estetika lagu.
Baca juga:
- Ado dan Ayase Berkolaborasi untuk Lagu Tema "Doctor X the Movie"
- Penampilan Icazahra di Monomane THE World 2026 Tuai Pujian: “Ado dari Indonesia Keren Banget!”
Nama Ado kemudian ikut terseret dalam narasi persaingan J-Pop dan K-Pop yang kerap muncul di media sosial. Perdebatan mengenai teknik vokal, popularitas global hingga konsep penampilan membuat karya musik kedua industri terkadang dinilai melalui rivalitas antar fandom.
Namun, kontroversi terbaru memiliki satu perbedaan mencolok: kritik kali ini datang dari sebagian penggemar K-Pop di Jepang sendiri. Negara asal Ado yang seharusnya menjadi pasar paling familier dengan identitas artistiknya justru menjadi lokasi benturan ekspektasi tersebut.
Gara-Gara Finale Batal, Mengapa Ado yang Disalahkan?
Salah satu pertanyaan terbesar dalam kontroversi ini adalah siapa sebenarnya yang bertanggung jawab atas pengalaman penonton. Penentuan urutan penampil, format finale dan aturan teknis festival pada umumnya merupakan keputusan yang melibatkan penyelenggara serta tim produksi.
Karena itu, sejumlah pengguna media sosial turut mempertanyakan mengapa kritik terhadap jalannya acara justru berubah menjadi serangan personal kepada Ado. Kekecewaan penonton terhadap penyelenggaraan konser merupakan hal yang berbeda dari penilaian terhadap kualitas seorang artis.
Terlebih lagi, belum ada dasar yang cukup untuk menyimpulkan bahwa Ado secara pribadi menjadi penyebab tidak berlangsungnya finale. Menyalahkan sang penyanyi hanya karena ia tampil terakhir berisiko mengaburkan persoalan utama yang sebenarnya diperdebatkan penonton.
Ketika Dua Fandom Bertemu, Musik Malah Jadi Nomor Dua
Kontroversi Ado memperlihatkan tantangan ketika musisi J-Pop dan K-Pop dipertemukan dalam satu festival dengan budaya penggemar yang berbeda. Penonton K-Pop mungkin mengharapkan interaksi antarmember, sesi finale bersama dan kesempatan mengabadikan momen, sementara pertunjukan Ado mengandalkan pendekatan visual yang jauh lebih tertutup.
Perbedaan tersebut sebenarnya bisa menjadi daya tarik sebuah festival lintas genre apabila dikomunikasikan dengan jelas sejak awal. Namun, ketika ekspektasi penonton tidak terpenuhi, perdebatan mengenai konsep acara dapat dengan cepat berubah menjadi konflik antarfandom.
Urbie’s, pada akhirnya kasus ini bukan sekadar tentang Ado yang menjadi penampil terakhir di festival K-Pop. Pertanyaan yang lebih menarik justru muncul ketika keputusan penyelenggara, identitas artistik dan fanatisme penonton bertabrakan: apakah sebuah festival lintas genre benar-benar siap mempertemukan dua budaya fandom yang berbeda?






