Hi Urbie's! Kalau mendengar “La La La Love Song” saja sudah membuat kamu terlempar ke era ketika telepon genggam belum jadi pusat kehidupan, berarti kamu kemungkinan besar pernah tersihir oleh Long Vacation.

Dorama Fuji TV yang pertama kali tayang pada 1996 ini bukan cuma kisah cinta antara pianis muda dan perempuan yang ditinggal kabur di hari pernikahan, tetapi juga salah satu simbol terbesar era keemasan drama Jepang, dengan Kimura Takuya alias Kimutaku dan Yamaguchi Tomoko sebagai pasangan utamanya.

Yang membuat nostalgia ini semakin terasa sekarang adalah Long Vacation kembali tersedia di Netflix, sementara versi remake Hong Kong juga sedang dipersiapkan untuk tayang melalui ViuTV pada 2027. Artinya, 30 tahun setelah Sena dan Minami membuat penonton Jepang susah keluar rumah setiap Senin malam, kisah mereka akan kembali dicoba untuk generasi baru.

Sena dan Minami: Dua Orang yang Sama-Sama Sedang Hancur

Cerita Long Vacation di mulai ketika Hayama Minami, seorang mantan model, mengalami mimpi buruk pada hari yang seharusnya menjadi hari pernikahannya. Tunangannya justru menghilang tanpa kabar, meninggalkan Minami dalam kondisi kacau sampai akhirnya ia datang ke apartemen Sena Hidetoshi, teman sekamar sang mantan tunangan.

Sena sendiri bukan sosok pria sempurna yang langsung siap menjadi pahlawan romantis, melainkan seorang pianis muda yang sedang mengalami kegagalan dan kehilangan kepercayaan diri. Dua manusia yang sama-sama sedang berada di titik rendah itu akhirnya tinggal di bawah satu atap, perlahan saling menguatkan sambil menjalani apa yang mereka anggap sebagai “liburan panjang” sebelum kembali menghadapi kehidupan.

Justru di situlah kekuatan Long Vacation: kisahnya tidak terburu-buru menjadikan cinta sebagai solusi segala masalah. Hubungan Sena dan Minami tumbuh dari pertemanan, kegagalan, kesepian, mimpi yang belum tercapai, dan keberanian untuk kembali mencoba ketika hidup sedang tidak berpihak.

Urbanvibes article banner

Kimutaku dan Era Ketika Satu Tatapan Bisa Jadi Trending

Urbie’s yang mengenal Kimutaku dari era sekarang mungkin akan sulit membayangkan betapa besarnya fenomenaLong Vacationketika pertama kali ditayangkan. Drama ini hadir dalam slot “Monday 9pm” atauGetsuku, periode yang menjadi salah satu panggung prestisius drama televisi Jepang.

Kimura Takuya dan Yamaguchi Tomoko dalam Long Vacation - sumber foto Netflix
Kimura Takuya dan Yamaguchi Tomoko dalam Long Vacation - sumber foto Netflix

Data Video Research yang dikutip Fuji TV mencatatLong Vacationmencapai rating puncak 36,7 persen pada episode terakhir, sementara episode pembukanya juga sudah menembus 30,6 persen. Bahkan, popularitasnya melahirkan istilah “Long Vacation phenomenon”, termasuk cerita tentang perempuan pekerja yang disebut-sebut menghilang dari jalanan setiap Senin malam demi mengejar episode terbaru. 

Kimutaku sebagai Sena juga meninggalkan efek yang lebih luas daripada sekadar membuat penonton jatuh hati. Karakter pianis yang diperankannya disebut ikut memicu peningkatan minat pria Jepang untuk belajar piano, sebuah fenomena yang kemudian menjadi bagian dari warisan budaya pop drama tersebut. 

La La La Love Song, Lagu yang Tidak Pernah Tua

Lalu ada satu elemen yang membuatLong Vacationterasa mustahil dipisahkan dari soundtrack-nya, yaitu “LA・LA・LA LOVE SONG” dari Toshinobu Kubota bersama Naomi Campbell. Begitu intro lagu tersebut terdengar, atmosfer 90-an langsung terasa, bahkan bagi penonton yang baru mengenal dramanya puluhan tahun setelah pertama kali tayang.

Lagu tersebut bukan sekadar musik pembuka atau tempelan untuk adegan romantis karena ia menjadi bagian dari identitasLong Vacationitu sendiri. Video Research dan Fuji TV juga mencantumkan lagu Kubota bersama Naomi Campbell sebagai lagu tema drama yang menjadi salah satu karya paling dikenang dari era tersebut.

Baca juga:

Menariknya, kekuatan soundtrack tersebut justru menunjukkan bagaimana drama 90-an membangun pengalaman menonton secara berbeda dari era streaming sekarang. Dulu penonton menunggu satu episode seminggu, sementara lagu tema yang sama terus terngiang sampai episode berikutnya datang.

Dari “Pernikahan Gagal” ke “Berondong Ku Jegal”

Kalau diringkas dengan bahasa Urbie’s sekarang, premis Long Vacation sebenarnya punya bahan gosip yang cukup brutal. Ada perempuan yang ditinggal kabur di hari pernikahan, kemudian harus tinggal bersama pria yang lebih muda dan sama-sama sedang gagal dalam hidup.

Tetapi Long Vacation tidak menjadikan situasi tersebut sebagai drama penuh teriakan dan konflik berlebihan. Sebaliknya, kisah Sena dan Minami terasa hangat karena memperlihatkan bagaimana dua orang dewasa yang sedang tersandung kehidupan bisa menemukan alasan untuk kembali berjalan.

Itulah mengapa drama ini tetap terasa relevan meski teknologi, fashion, dan cara orang berkomunikasi sudah berubah total. Kegagalan dalam karier, hubungan yang kandas, rasa tidak percaya diri, dan kebutuhan untuk mengambil jeda dari kehidupan adalah masalah yang tidak mengenal tahun produksi.

30 Tahun Kemudian, Long Vacation Dibawa ke Hong Kong

Kini nostalgia tersebut mendapatkan babak baru yang cukup berani. Fuji Television resmi mengumumkan bahwa Long Vacation akan mendapatkan remake internasional pertamanya melalui Maker Ville dari Hong Kong, sekitar 30 tahun setelah versi originalnya ditayangkan. (fujitv.com)

Versi Hong Kong ini dijadwalkan tayang melalui ViuTV dan platform terkait PCCW Media pada 2027, dengan Edan Lui dari grup MIRROR sebagai Sena dan Ali Lee sebagai Minami. Setting ceritanya juga akan berpindah dari Jepang ke Hong Kong, sehingga penonton tidak hanya mendapatkan salinan cerita lama, tetapi interpretasi baru terhadap kisah yang sudah menjadi legenda. (fujitv.com)

Sementara itu, versi original 1996 kini punya alasan baru untuk ditonton ulang. Netflix mencatat Long Vacation sebagai drama Jepang bergenre romance dengan Kimura Takuya, Yamaguchi Tomoko, dan Takenouchi Yutaka sebagai pemeran utama, sehingga generasi baru pun punya kesempatan bertemu langsung dengan fenomena Kimutaku di era 90-an. (netflix.com)

Karena Kadang Hidup Memang Butuh Long Vacation

Tiga puluh tahun berlalu, tetapi formula Long Vacation ternyata masih punya tempat: ketika hidup berantakan, mungkin yang dibutuhkan bukan memaksakan semuanya kembali sempurna, melainkan berhenti sebentar dan bernapas. Sena dan Minami mengajarkan bahwa masa sulit tidak selalu berarti akhir cerita, karena bisa saja itu cuma jeda sebelum babak kehidupan berikutnya dimulai.

Jadi, Urbie’s, kalau kamu pernah menjadi bagian dari generasi yang menunggu Senin malam demi Kimutaku, sekarang waktunya menguji memori lama itu. Putar “La La La Love Song”, buka Netflix, dan lihat apakah romansa Sena-Minami masih punya sihir yang sama setelah tiga dekade berlalu—sebelum versi Hong Kong 2027 datang membawa nostalgia lama dengan wajah baru.