Hi Urbie’s! Aktor sekaligus sutradara Reza Rahadian kembali menghadirkan kisah yang dekat dengan sejarah dan keluarganya melalui film Casparina. Film panjang keduanya sebagai sutradara ini terinspirasi dari kehidupan sang nenek, Francisca Casparina Fanggidaej, seorang jurnalis yang kehilangan kewarganegaraan Indonesia pada 1965 dan harus menjalani pengasingan selama puluhan tahun. Proyek film tersebut kini diperkenalkan melalui Asian Project Market dalam rangkaian Asian Contents & Film Market (ACFM) di Busan International Film Festival.
Casparina mengangkat kisah Rina, seorang perempuan yang terpaksa meninggalkan tanah air setelah menentang pemerintahan yang berkuasa. Ketika berada di Beijing untuk mewakili Indonesia dalam sebuah forum internasional, kewarganegaraannya dicabut. Keputusan tersebut membuatnya harus hidup dalam pengasingan, meninggalkan enam anak yang tumbuh tanpa kehadirannya.
Selama 32 tahun, Rina menjalani kehidupan jauh dari keluarga, mulai dari Beijing hingga Belanda. Bertahun-tahun kemudian, sebuah surat memberitahunya bahwa rezim lama telah runtuh dan dirinya dapat kembali ke Indonesia. Kepulangan itu menjadi awal perjalanan emosional untuk kembali terhubung dengan anak-anaknya, Andi dan Lila, yang kini telah dewasa dan menjalani kehidupan tanpa sosok ibu di sisi mereka.
Namun, kembali ke rumah tidak serta-merta menghapus luka masa lalu. Rina harus menghadapi rasa sakit, kebencian, dan jarak emosional yang terbentuk selama puluhan tahun. Melalui perjalanan tersebut,Casparinamenyoroti bagaimana sebuah keluarga berusaha memahami pengorbanan, kehilangan, serta alasan di balik perpisahan yang tidak pernah mereka pilih.
Kisah Ibu dan Anak di Tengah Pergolakan Politik
Bagi Reza Rahadian, kisah Casparina memiliki makna personal sekaligus historis. Ia tertarik mengangkat perspektif anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran ibu mereka, terutama ketika perpisahan tersebut terjadi akibat situasi politik yang membuat seseorang kehilangan kewarganegaraan secara paksa.
Menurut Reza, kisah ini tidak hanya membahas pengalaman seorang perempuan yang hidup dalam pengasingan, tetapi juga dampak panjang yang harus ditanggung keluarga yang ditinggalkannya. Anak-anak Rina bahkan tidak dapat secara terbuka menceritakan siapa ibu mereka karena hal tersebut berpotensi membahayakan keselamatan mereka.

“Bagi saya, ini adalah kisah yang sangat penting,” ujar Reza Rahadian.
Melalui film ini, Reza berharap penonton dapat memahami konsekuensi dari pilihan-pilihan sulit dalam kehidupan, termasuk ketika keputusan seseorang dipengaruhi oleh kekuatan dan keadaan di luar kendalinya. Ia juga ingin menggambarkan makna menjadi seorang ibu yang terpisah dari anak-anaknya selama 32 tahun, sekaligus pengalaman anak-anak yang harus menjalani hidup tanpa dapat mengenali sosok ibu mereka secara terbuka.
Baca Juga:
- Film Laut Bercerita Terpilih Ikut Kompetisi Utama BIFF 2026, Siap Tayang Perdana di Busan
- Nyaris Tak Dikenali! Wajah Reza Rahadian Berubah Drastis untuk The Invisible Guest
Mengingat Sejarah Indonesia Melalui Casparina
Produser Arya Ibrahim dan Gita Fara melihatCasparinasebagai kisah yang merekam dampak pergolakan politik 1965 terhadap keluarga dan orang-orang yang kehilangan kewarganegaraan. Pengalaman hidup sebagai pengungsi dan perpisahan keluarga menjadi bagian penting dari cerita yang ingin disampaikan melalui film ini.
Bagi keduanya, pengalaman Francisca Casparina Fanggidaej memperlihatkan bagaimana peristiwa sejarah dapat meninggalkan konsekuensi yang berlangsung jauh melampaui zamannya. Mereka memandang Casparina sebagai korban dari suatu era, sekaligus menjadikan film ini sebagai pengingat agar kesalahan serupa tidak kembali terulang.
Kisah tersebut juga membuka ruang untuk memahami sejarah Indonesia melalui pengalaman personal, bukan semata-mata melalui peristiwa politik dalam skala besar. Di balik perubahan kekuasaan dan keputusan negara, terdapat keluarga yang kehilangan kesempatan untuk hidup bersama serta generasi yang tumbuh dengan pertanyaan tentang masa lalu mereka.
Jadi Proyek Kedua Reza Rahadian sebagai Sutradara
Casparinamenjadi film panjang kedua Reza Rahadian sebagai sutradara setelah On Your Lap. Film debut penyutradaraannya tersebut meraih empat penghargaan dalam Vision Awards di Busan pada 2025, termasuk penghargaan pilihan penonton dan penghargaan FIPRESCI.
Saat ini,Casparinamasih berada dalam tahap awal penulisan skenario. Keikutsertaannya di Asian Project Market menjadi kesempatan bagi tim produksi untuk menjajaki kerja sama dengan calon mitra, kolaborator, pendanaan film, serta peluang produksi bersama dengan pihak internasional.
Partisipasi proyek ini di Busan juga membuka kesempatan untuk memperkenalkan kisah yang berakar dari sejarah Indonesia kepada pelaku industri film global. Meski masih dalam tahap pengembangan, Casparina membawa pendekatan yang memadukan drama keluarga, pengalaman pengasingan, dan refleksi sejarah melalui perjalanan seorang ibu yang berusaha kembali menemukan tempatnya di tengah keluarga.
Bagi Urbie’s, Casparina menjadi salah satu proyek film Indonesia yang menarik untuk diikuti karena memperlihatkan bagaimana kisah keluarga dapat menjadi pintu masuk untuk memahami peristiwa sejarah dan dampaknya terhadap kehidupan manusia. Melalui perspektif seorang ibu dan anak-anaknya, film ini berupaya menghadirkan kembali pengalaman kehilangan, pengorbanan, serta kesempatan untuk membangun hubungan yang sempat terputus selama puluhan tahun.



