Hi Urbie’s! Cuma 90 detik bikin penasaran, kini YOASOBI siap membuka seluruh cerita di balik “Saki Hokore”! Lagu pembuka drama pagi NHK Blossom ini akhirnya akan dirilis dalam versi penuh pada 14 Oktober 2026, membawa kisah tentang keberanian, perjalanan hidup, dan semangat untuk tetap mekar meski diterpa berbagai keadaan.

Menariknya, “Saki Hokore” bukan sekadar lagu tema drama yang dirancang untuk mencuri perhatian lewat melodi. Di baliknya, Ayase dan Ikura menggali inspirasi dari novel karya Risa Wataya hingga kehidupan Chiyo Uno, penulis sekaligus desainer kimono yang menjadi salah satu sosok inspiratif di balik Blossom.

Dari Potongan 90 Detik Menuju Versi Penuh “Saki Hokore”

Sejak diumumkan pada Juli lalu, keterlibatan YOASOBI dalam Blossom menjadi kabar yang dinantikan penggemar musik Jepang. Namun, selama ini pendengar baru bisa menikmati “Saki Hokore” melalui versi TV berdurasi 1 menit 30 detik yang mengiringi drama tersebut.

Durasi singkat itu mungkin cukup untuk memperkenalkan nuansa lagu, tetapi belum memberikan gambaran utuh mengenai perjalanan musikal yang ingin disampaikan YOASOBI. Karena itu, perilisan versi penuh pada 14 Oktober 2026 menjadi kesempatan bagi penggemar untuk menikmati lagu ini secara lebih menyeluruh.

Bagi Urbie’s yang mengikuti perjalanan musik YOASOBI, menarik untuk melihat bagaimana duo ini membangun emosi melalui lagu yang berangkat dari sebuah cerita. Mereka tidak sekadar menciptakan musik untuk menemani adegan, tetapi juga berusaha membawa semangat karakter dan sumber inspirasinya ke dalam komposisi.

Kisah Chiyo Uno Menjadi Inspirasi di Balik Lagu

Salah satu hal yang membuat “Saki Hokore” menarik adalah sumber inspirasinya yang tidak berhenti pada cerita fiksi. Lagu ini didasarkan pada novel The Life of Cherry Blossom is Immortal karya Risa Wataya dan turut terhubung dengan kisah hidup Chiyo Uno, sosok nyata yang dikenal sebagai penulis sekaligus desainer kimono.

Urbanvibes article banner

Chiyo Uno menjadi inspirasi bagi drama Blossom, sehingga perjalanan hidupnya memiliki hubungan penting dengan dunia cerita yang dihadirkan kepada penonton. Perpaduan sastra, pengalaman manusia, dan budaya Jepang tersebut memberikan fondasi emosional bagi lagu yang dibawakan YOASOBI.

Judul “Saki Hokore” sendiri menghadirkan kesan tentang bunga yang mekar dan keberanian untuk menunjukkan diri. Dalam konteks cerita yang mengangkat perjalanan hidup, gambaran bunga dapat menjadi simbol pertumbuhan, ketahanan, serta kemampuan seseorang untuk tetap melangkah meski menghadapi perubahan.

Di sinilah daya tarik pendekatan YOASOBI terasa. Ketika sebuah lagu berangkat dari cerita yang memiliki latar dan karakter kuat, pendengar mendapatkan kesempatan untuk menikmati musik sekaligus mencari makna di balik lirik dan suasananya.

Baca juga:

Ayase Membaca Autobiografi dan Mengunjungi Iwakuni

Proses kreatif Ayase dalam menggarap “Saki Hokore” ternyata melibatkan upaya untuk memahami Chiyo Uno secara lebih dekat. Dalam komentarnya, Ayase mengungkapkan bahwa ia membaca autobiografi Uno berjudul Ikiteyuku Watashi dan sangat terkesan dengan cara sang penulis menjalani hidup serta memandang dunia.

Pengalaman membaca tersebut mendorong Ayase untuk menggali inspirasi lebih dalam. Ia kemudian melakukan perjalanan ke Iwakuni, Prefektur Yamaguchi, tempat kelahiran Chiyo Uno, demi merasakan energi yang dapat membantunya memahami sosok di balik kisah tersebut.

Ayase menggambarkan proses penciptaan lagu ini seolah-olah dipandu oleh angin dari kampung halaman Uno. Baginya, perjalanan itu bukan sekadar kunjungan ke tempat yang berkaitan dengan tokoh inspirasi, melainkan bagian dari proses kreatif untuk menyerap suasana dan menghubungkannya dengan musik.

Ia juga merasa hubungan mereka yang sama-sama berasal dari Yamaguchi membuat pertemuan kreatif tersebut terasa istimewa. Ayase bahkan menyebut pengalaman ini sebagai sesuatu yang diberkati oleh nasib dan berpotensi menjadi titik balik dalam kehidupan kreatif maupun perjalanan musiknya.

Ikura Membawa Semangat Tama Hano ke Dalam Vokal

Sementara Ayase menggali kisah Chiyo Uno melalui bacaan dan perjalanan, Ikura mendekati lagu ini dengan memikirkan Tama Hano, protagonis drama Blossom. Dalam komentarnya, Ikura menjelaskan bahwa ia bernyanyi dengan membayangkan bagaimana Tama mengubah berbagai pengalaman hidup menjadi energi untuk terus maju.

Bagi Tama, sukacita dan kesedihan, kebahagiaan maupun ketidakbahagiaan, bukan alasan untuk berhenti melangkah. Ia memilih berdiri di atas kakinya sendiri dan terus berusaha membuat bunganya mekar, apa pun yang harus dihadapi dalam perjalanan.

Ikura berharap “Saki Hokore” dapat menjadi lagu yang menemani penonton Blossom dengan lembut sekaligus kuat. Ia ingin musik tersebut tetap dekat dengan hati siapa pun yang menyaksikan drama, sehingga pesan di dalamnya bisa terasa bahkan setelah episode berakhir.

Catat Tanggal Rilis Full Version “Saki Hokore”!

Dengan latar cerita yang kuat dan proses kreatif yang personal, “Saki Hokore” menjadi rilisan YOASOBI yang menarik untuk dinantikan pada 14 Oktober 2026. Versi penuhnya akan memberikan kesempatan bagi penggemar untuk mendengarkan keseluruhan lagu yang sebelumnya hanya hadir dalam potongan TV berdurasi 90 detik.

Bukan cuma soal menunggu melodi yang lebih panjang, perilisan ini juga mengundang pendengar untuk mengenal lebih jauh inspirasi di balik karya tersebut. Kisah Chiyo Uno, perjalanan Ayase ke Iwakuni, dan interpretasi Ikura terhadap Tama Hano menjadi bagian dari cerita yang menyertai lagu ini.

Nah, Urbie’s, sekarang giliran kalian! Kalau mendengar “Saki Hokore”, lagu YOASOBI mana yang langsung terlintas di pikiran kalian? Apakah lagu ini mengingatkan kalian pada karya mereka sebelumnya, atau justru menawarkan nuansa yang benar-benar berbeda?

Tulis jawaban kalian di kolom komentar dan nantikan perilisan penuh “Saki Hokore” pada 14 Oktober 2026!