Hi Urbie’s! Siapa sangka camilan yang sering kita temui di pinggir jalan, ditemani secangkir kopi atau teh hangat saat sore hari, bisa bersaing dengan dessert populer dari berbagai belahan dunia? Pisang goreng asal Indonesia berhasil menempati posisi ke-14 dalam daftar 100 dessert terbaik dunia versi TasteAtlas, sekaligus menjadi hidangan penutup Asia Tenggara dengan peringkat tertinggi dalam daftar tersebut.
Kabar ini menjadi pengingat bahwa makanan yang dekat dengan keseharian masyarakat Indonesia juga punya daya tarik di panggung kuliner internasional. Pisang yang dibalut adonan tepung lalu digoreng hingga keemasan mungkin terlihat sederhana, tetapi perpaduan tekstur renyah di luar dan lembut manis di dalam membuatnya punya karakter yang sulit dilupakan.
Menariknya, pisang goreng bukan satu-satunya wakil Asia Tenggara dalam daftar tersebut. Klepon juga berhasil masuk, sementara Thailand dan Filipina turut menyumbangkan dessert khas yang memperlihatkan betapa beragamnya tradisi makanan manis di kawasan ini.
Pisang Goreng Jadi Dessert Asia Tenggara dengan Peringkat Tertinggi
Dalam daftar TasteAtlas tersebut, pisang goreng berada di posisi ke-14, mengungguli empat dessert Asia Tenggara lainnya yang turut masuk dalam 100 besar. Peringkat ini menempatkan camilan khas Indonesia tersebut sebagai salah satu hidangan manis kawasan yang layak mendapat perhatian lebih luas.
Daya tarik pisang goreng terletak pada kesederhanaan bahan dan proses pembuatannya. Pisang yang matang dibalut adonan, kemudian digoreng hingga menghasilkan lapisan luar yang renyah, sementara bagian dalamnya tetap lembut dengan rasa manis alami.
Di Indonesia, pisang goreng juga punya banyak variasi. Ada yang menggunakan pisang kepok, pisang raja, atau jenis pisang lainnya, dengan adonan tipis maupun tebal, bahkan disajikan bersama keju, cokelat, gula, atau aneka topping modern.

Meski kini banyak versi kekinian bermunculan, pisang goreng klasik tetap punya tempat tersendiri. Hidangan ini bukan hanya soal rasa, tetapi juga lekat dengan kebiasaan masyarakat menikmati camilan bersama keluarga, teman, atau rekan kerja.
Klepon di Posisi ke-37, Si Hijau dengan Kejutan Gula Merah
Selain pisang goreng, Indonesia juga diwakili klepon yang menempati posisi ke-37. Jarak peringkatnya memang berbeda, tetapi daya tarik klepon punya karakter tersendiri yang membuatnya mudah dikenali.
Bola-bola kecil berwarna hijau ini umumnya dibuat dari tepung ketan dengan pewarna alami dari daun pandan atau suji. Bagian luarnya dilapisi kelapa parut, sedangkan bagian tengahnya menyimpan gula merah yang mencair ketika klepon digigit.
Sensasi gula merah yang meletup lembut di mulut menjadi ciri khas yang membedakan klepon dari banyak dessert lainnya. Ukurannya kecil, tetapi pengalaman menikmati satu buah klepon bisa terasa lengkap karena menggabungkan tekstur kenyal, aroma pandan, gurihnya kelapa, dan manisnya gula merah.
Klepon juga memperlihatkan bagaimana bahan-bahan sederhana dapat menghasilkan hidangan dengan identitas kuat. Di tengah tren dessert modern yang mengandalkan tampilan visual dan kreasi rasa baru, klepon tetap memiliki pesona melalui resep tradisional yang diwariskan lintas generasi.
Thailand Punya Khanom Khrok dan Mango Sticky Rice
Thailand menjadi negara Asia Tenggara lain yang menempatkan dua hidangan dalam daftar tersebut. Khanom khrok berada di posisi ke-24, sementara khao niao mamuang atau mango sticky rice menempati posisi ke-64.
Khanom khrok merupakan kudapan kecil berbahan dasar santan dan tepung beras yang dimasak menggunakan cetakan khusus. Hasilnya berupa kue mungil dengan bagian luar yang cenderung matang dan sedikit renyah, sementara bagian dalamnya lembut, creamy, serta memiliki rasa gurih-manis.
Baca juga:
- Sate Kambing Dinobatkan Jadi Makanan Indonesia Terbaik 2026 Versi TasteAtlas, Geser Rendang dari Puncak
- Shubh Diwali Selection Hadir di Jakarta, Bawa Ragam Mithai India untuk Momen Berbagi
Kudapan ini kerap dijumpai di pasar tradisional Thailand dan menjadi pilihan bagi mereka yang menyukai camilan berukuran kecil dengan tekstur kontras. Kesederhanaan tampilannya justru menjadi daya tarik karena cita rasa santan terasa menonjol tanpa perlu banyak tambahan.
Sementara itu, mango sticky rice menawarkan perpaduan yang berbeda. Hidangan ini menggabungkan ketan yang dimasak hingga pulen, santan manis, dan irisan mangga matang yang menghadirkan kesegaran sekaligus rasa manis alami.
Kombinasi ketan yang kaya tekstur dengan mangga beraroma segar membuat dessert ini populer di kalangan wisatawan. Mango sticky rice juga menunjukkan bagaimana keseimbangan antara rasa gurih, manis, dan segar bisa menjadi kekuatan utama sebuah hidangan penutup.
Leche Flan dari Filipina Hadir di Posisi ke-54
Filipina turut masuk dalam daftar melalui leche flan yang menempati posisi ke-54. Berbeda dari dessert Indonesia dan Thailand yang banyak mengandalkan tepung, ketan, atau buah, hidangan ini dikenal sebagai puding karamel dengan tekstur lembut dan rasa manis yang kaya.
Leche flan umumnya dibuat dari kuning telur, susu kental manis, dan susu evaporasi, kemudian dikukus atau dipanggang hingga menghasilkan tekstur padat tetapi lembut. Bagian atasnya disiram karamel yang memberikan rasa manis dengan sentuhan pahit khas gula yang dipanaskan.
Hidangan ini memiliki kemiripan dengan crème caramel yang dikenal di berbagai negara, tetapi leche flan memiliki karakter tersendiri melalui penggunaan bahan dan tradisi penyajiannya. Di Filipina, dessert ini kerap hadir dalam perayaan keluarga, pesta, serta berbagai acara khusus.
Kehadirannya dalam daftar TasteAtlas memperlihatkan bahwa dessert Asia Tenggara tidak terbatas pada gorengan atau kudapan berbahan dasar beras. Kawasan ini juga memiliki tradisi makanan penutup yang beragam, mulai dari puding kaya susu hingga kombinasi buah dan ketan.
Lima Dessert Ini Membuktikan Kekayaan Kuliner Asia Tenggara
Masuknya lima dessert Asia Tenggara dalam daftar 100 dessert terbaik dunia menjadi kesempatan untuk kembali melihat kekayaan kuliner kawasan yang kerap dianggap sederhana. Pisang goreng, klepon, khanom khrok, leche flan, dan mango sticky rice masing-masing memiliki bahan, teknik memasak, serta karakter rasa yang berbeda.
Peringkat tersebut tentu bukan ukuran mutlak untuk menentukan dessert mana yang paling enak. Selera kuliner bersifat subjektif, sementara daftar TasteAtlas mencerminkan penilaian berdasarkan sistem dan data yang digunakan platform tersebut.
Namun, pengakuan seperti ini dapat membantu memperkenalkan hidangan tradisional kepada audiens yang lebih luas. Makanan yang sebelumnya akrab di pasar, warung, atau meja keluarga berpeluang menarik perhatian pencinta kuliner internasional.
Buat Indonesia, posisi pisang goreng di peringkat ke-14 dan klepon di posisi ke-37 juga menjadi alasan untuk semakin menghargai kuliner lokal. Sebab, kekuatan makanan tradisional tidak selalu terletak pada bahan mahal atau teknik rumit, melainkan pada cita rasa, sejarah, dan pengalaman yang menyertainya.
Nah, Urbie’s, kalau harus memilih satu dessert Asia Tenggara untuk dinikmati seumur hidup, kalian tim pisang goreng yang renyah, klepon dengan gula merah lumer, mango sticky rice yang segar, khanom khrok yang gurih-manis, atau leche flan yang creamy? Jangan cuma pilih berdasarkan peringkat, ya, karena soal dessert favorit, lidah kalian tetap jadi juri utamanya!




