Home Lifestyle Blame Game di Kantor: Budaya Salahkan Orang yang Bikin Karier Mandek

Blame Game di Kantor: Budaya Salahkan Orang yang Bikin Karier Mandek

490
0
Ilustrasi Blame Game di Kantor: Budaya Salahkan Orang yang Bikin Karier Mandek, Foto: Freepik
Ilustrasi Blame Game di Kantor: Budaya Salahkan Orang yang Bikin Karier Mandek, Foto: Freepik
Urbanvibes

Hi Urbie’s! Pernah denger kalimat: “Kayaknya ini salah tim marketing deh”? Kalimat itu terdengar sepele, tapi dalam dunia kerja, itulah awal dari permainan beracun bernama blame game. Sebuah kebiasaan di mana tanggung jawab dilempar seenaknya, bukan untuk menyelesaikan masalah, tapi untuk melindungi ego atau posisi.

Bagi kamu yang baru mulai menapaki dunia profesional, fenomena ini bisa jadi pukulan telak. Alih-alih fokus pada kolaborasi dan solusi, energi tim habis untuk saling menyalahkan. Ujung-ujungnya? Kamu jadi korban, performa jeblok, dan kariermu jalan di tempat.

Apa Itu Blame Game?

Blame game adalah praktik menyalahkan pihak lain dalam situasi yang sebenarnya membutuhkan tanggung jawab kolektif. Fenomena ini sering muncul saat proyek gagal, target tak tercapai, atau klien marah. Daripada mengevaluasi sistem atau mencari solusi, beberapa orang memilih jalan pintas yaitu mencari kambing hitam.

Baca juga:

Menurut survei dari Gallup, 70% pekerja muda merasa lingkungan kerja yang saling menyalahkan membuat mereka kurang termotivasi. Lebih dari itu, mereka merasa tak punya ruang untuk belajar dari kesalahan.

Kenapa Budaya Ini Berbahaya?

Budaya menyalahkan bukan cuma bikin stres, tapi juga mematikan kreativitas. Ketika kamu takut salah karena bakal dituduh, kamu jadi enggan ambil risiko. Padahal, inovasi datang dari keberanian mencoba hal baru.

Selain itu, blame game memperburuk hubungan antar divisi. Setiap kesalahan jadi ajang saling tunjuk. Akibatnya, kepercayaan hilang, komunikasi kacau, dan tim kehilangan arah. Ini semua bisa membuat perusahaan stagnan — dan kamu, sebagai bagian dari sistem, ikut terjebak.

Tanda-Tanda Kantormu Terjangkit Blame Culture

  1. Setiap masalah selalu diakhiri dengan “Siapa yang salah?”
  2. Evaluasi lebih fokus pada individu, bukan sistem.
  3. Rapat terasa seperti ruang interogasi.
  4. Orang lebih banyak bermain aman ketimbang berinovasi.

Kalau kamu sering mengalami ini, mungkin sudah saatnya kamu lebih waspada dan mulai menyusun strategi bertahan.

Cara Menghadapi Blame Game di Kantor

Fokus pada data, bukan emosi
Saat disalahkan, hadirkan fakta dan kronologi kerja yang jelas. Ini akan membantu memperlihatkan gambaran yang lebih objektif.

Bangun dokumentasi
Simpan setiap hasil kerja, email penting, dan update proyek. Bukan untuk paranoid, tapi untuk berjaga-jaga.

Berani bicara
Jika kamu merasa dijadikan kambing hitam terus-menerus, bicara baik-baik ke atasan atau HR. Sampaikan dengan bahasa yang solutif, bukan emosional.

Jadi agen perubahan
Kalau kamu punya posisi untuk mempengaruhi budaya tim, dorong evaluasi yang lebih sehat. Ganti kalimat “Siapa yang salah?” dengan “Apa yang bisa kita pelajari?”

Di usia muda, kamu adalah generasi dengan energi dan potensi besar. Tapi dunia kerja tak selalu ramah. Blame game adalah salah satu jebakan yang harus kamu kenali sejak dini.

Jangan terjebak jadi korban atau pelaku budaya menyalahkan. Karena di tempat kerja, tanggung jawab bukan untuk dihindari, tapi dibagi dan diselesaikan bersama.

    Novotel Gajah Mada

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here