Home Highlight Markas R&D Huawei di Shanghai: Kota Mini AI Seluas 225 Lapangan Bola,...

Markas R&D Huawei di Shanghai: Kota Mini AI Seluas 225 Lapangan Bola, Dihuni 24.000 Talenta Muda Cerdas

634
0
Markas R&D Huawei di Shanghai: Kota Mini AI Seluas 225 Lapangan Bola, Dihuni 24.000 Talenta Muda Cerdas
Foto: Huawei
Urbanvibes

Urbie’s, pernah kebayang nggak, satu pusat riset teknologi bisa seluas 225 lapangan sepak bola? Nah, itulah yang dibangun oleh Huawei di Distrik Qingpu, Shanghai, Tiongkok. Tempat ini bukan cuma sekadar kantor atau laboratorium biasa. Ini adalah “kota mini teknologi” bernama Pusat Litbang Lianqiuhu, seluas 1,6 km²—dan jadi pusat utama dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI), semikonduktor, hingga komunikasi nirkabel Tiongkok.

Huawei mengisi kampus teknologi ini dengan 24.000 orang cerdas dari seluruh Tiongkok, sebagian besar dari mereka berusia muda. Rata-rata usia karyawan adalah 31,6 tahun, dan 78% di antaranya punya gelar master atau doktoral. Dengan gaya kerja ala “9-9-6” (kerja dari jam 9 pagi sampai 9 malam, 6 hari seminggu), para engineer ini berkontribusi langsung terhadap kemajuan Huawei di tengah ketatnya persaingan teknologi global.

Meski sanksi dari Amerika Serikat sempat mengguncang perusahaan ini sejak 2018, Huawei justru makin agresif mengembangkan teknologi mandiri. Tahun lalu, Huawei mencatat penjualan sebesar 862 miliar yuan (sekitar Rp1.963 triliun). Dari angka ini, 20,8% diinvestasikan kembali ke riset dan pengembangan (R&D)—jauh lebih tinggi dibandingkan Samsung Electronics (11,6%) maupun SK Hynix (7,5%).

Pusat R&D Lianqiuhu bukan cuma besar secara ukuran, tapi juga besar dalam visi. Huawei mendesain akselerator AI sendiri, termasuk CPU, NPU (Neural Processing Unit), SSD 122TB, hingga sistem pendingin untuk server AI. Semua dirancang mandiri, tanpa ketergantungan dari luar negeri. Inilah yang jadi bukti Huawei ingin sepenuhnya berdikari dalam persaingan semikonduktor dan AI global.

Baca Juga:

Bahkan, Nvidia—perusahaan cip AI raksasa asal AS—sudah menyebut Huawei sebagai pesaing serius dua tahun berturut-turut. Kalau Nvidia fokus jadi perusahaan infrastruktur AI, Huawei pun bergerak ke arah yang sama. AI buatan Huawei sudah diterapkan di berbagai bidang: dari sistem diagnosis tambahan di Rumah Sakit Ruijin, truk tanpa sopir di Pelabuhan Shenzhen, hingga inverter AI di pembangkit listrik tenaga surya di Arab Saudi.

Dalam wawancara eksklusif, salah satu petinggi Huawei menyebut bahwa “kunci dari penerapan AI di dunia nyata adalah kekuatan jaringan,” dan di bidang ini, Huawei mengklaim memimpin secara global. Mereka juga tak ragu investasi besar untuk riset teori murni seperti matematika, fisika, dan kimia—sesuatu yang kerap dihindari karena hasilnya jangka panjang.

Namun, kemajuan Huawei ini juga jadi peringatan buat negara lain, termasuk Korea Selatan dan bahkan Indonesia. Bayangkan, jika Tiongkok berhasil membangun ekosistem semikonduktor dan AI mandiri, mereka nggak cuma jadi raksasa teknologi dalam negeri, tapi juga ancaman nyata di pasar global. Professor Park Jae-geun dari Universitas Hanyang menyebut langkah Huawei sebagai “ancaman,” terutama untuk negara-negara yang masih tergantung pada ekspor semikonduktor ke Tiongkok.

Urbie’s, dari cerita ini kita bisa belajar satu hal: perang teknologi global bukan cuma soal siapa yang punya gadget paling canggih, tapi juga siapa yang bisa mandiri dalam membangun ekosistemnya sendiri. Dan Huawei, lewat kampus raksasanya di Lianqiuhu, jelas sedang menunjukan kalau mereka siap jadi pionir teknologi dunia—dengan kecepatan dan skala yang mengejutkan.

Novotel Gajah Mada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here