Home Entertainment “Honey” di Jakarta! Saat HYDE Membuka Pintu Nostalgia untuk Penggemar L’Arc~en~Ciel

“Honey” di Jakarta! Saat HYDE Membuka Pintu Nostalgia untuk Penggemar L’Arc~en~Ciel

458
0
Honey”di Jakarta Saat HYDE Membuka Pintu Nostalgia untuk Penggemar L’Arc~en~Ciel - sumber foto Adi/Urbanvibes
Honey”di Jakarta Saat HYDE Membuka Pintu Nostalgia untuk Penggemar L’Arc~en~Ciel - sumber foto Adi/Urbanvibes
Urbanvibes

Hi Urbie’s! Ada momen langka di sebuah konser yang tak hanya memompa adrenalin, tapi juga menggetarkan hati — seperti ketika HYDE berdiri di panggung Jakarta, menatap ribuan wajah yang memanggil namanya, dan mengalunkan lagu legendaris “Honey”. Bagi penggemar setia L’Arc~en~Ciel, momen itu bukan sekadar nostalgia. Itu adalah reuni emosional, lintas waktu dan kenangan, antara idola dan para Laruku fans yang telah menunggu lebih dari dua dekade.

Topeng, Simbol, dan Sebuah Awal yang Menggelegar

Malam itu dimulai dengan teatrikal yang tak biasa. HYDE muncul di atas podium, mengenakan topeng setengah terbuka, siluetnya diselimuti cahaya merah darah dan asap tipis. Gaya itu mengingatkan penonton pada figur diktator panggung — berwibawa, karismatik, dan penuh misteri. Saat HYDE menyanyi, teriakan dari ribuan penggemar pun pecah.

Dan ditengah aksi panggung menghentak, terdengar lantunan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”. Tak ada yang menyangka, tapi justru itulah yang membuat penonton berdiri tegak dan ikut menyanyikan bersama. Sebuah penghormatan yang elegan — dari musisi Jepang untuk negeri yang memberinya cinta tanpa batas.

Perjalanan Antara Dua Dunia Musik

Konser HYDE di Jakarta bukan sekadar tur promosi album. Ini lebih seperti a journey of identity — dari era VAMPS yang liar, proyek solo yang gelap, hingga bayangan abadi dari L’Arc~en~Ciel yang selalu mengikuti langkahnya.
Lagu-lagu seperti “Let It Out”, “Defeat”, hingga “Midnight Celebration II” membentuk setlist yang menggambarkan perjalanan musikal HYDE selama lebih dari 25 tahun. Namun, di antara dentuman drum dan sorotan lampu yang menggila, satu lagu menembus dinding nostalgia: “Honey.”

Ketika “Honey” Mengisi Ruangan

Ketika intro “Honey” mulai terdengar — riff gitar khas yang lembut sekaligus menggoda — sorak penonton langsung berubah menjadi paduan suara. Tak perlu diperintah, ribuan suara serentak menyanyikan setiap bait, setiap nada, setiap emosi yang tersimpan sejak era Heart (1998).

Bagi mereka yang tumbuh bersama lagu itu, “Honey” bukan hanya karya pop-rock manis. Ia adalah simbol masa keemasan L’Arc~en~Ciel, era di mana HYDE, Tetsuya, Ken, dan Yukihiro membentuk warna baru bagi rock Jepang. Malam itu, HYDE seolah membuka pintu waktu — dan membiarkan semua yang hadir kembali ke masa ketika MTV Asia masih memutar Stay Away dan Driver’s High setiap sore.

Dengan suara serak nan khas, HYDE tidak hanya membawakan lagu, tapi juga merasakan setiap katanya. Senyum samar di wajahnya saat mendengar penonton bernyanyi lebih keras darinya adalah bahasa tanpa kata: L’Arc~en~Ciel never truly ends.

Baca Juga:

Tribute yang Tak Terucap

Tak ada kata “tribute” yang keluar dari mulut HYDE malam itu, tapi setiap nada dari “Honey” sudah berbicara cukup.
Itu bukan sekadar nostalgia, melainkan bentuk cinta — kepada masa lalu, kepada teman-teman satu band yang membentuk dirinya, dan kepada penggemar yang tak pernah berhenti mencintai L’Arc~en~Ciel, bahkan ketika sang vokalis menapaki jalan solo.

Banyak penonton menitikkan air mata. Sebagian lain ikut bernyanyi seolah ingin mengirim pesan yang sama: We’re still here.

Penutup dengan Gemuruh yang Hangat

Setelah “Honey”, konser berlanjut dengan “Glamorous Sky” dan ditutup dengan “Sex Blood Rock N’ Roll (VAMPS)”. Namun, tak bisa dipungkiri, “Honey” tetap menjadi jantung dari malam itu bagi pengemar L Arc En Ciel.
Sebuah pengingat manis bahwa HYDE, meski telah menjelajahi berbagai era musik, masih menyimpan bagian dirinya yang terikat pada masa muda, cinta, dan semangat L’Arc~en~Ciel yang tak lekang waktu.

Saat lampu padam dan HYDE menginggalkan panggung, banyak penggemar saling menatap dengan senyum kecil — bukan karena konser berakhir, tapi karena sesuatu yang mereka rindukan selama ini akhirnya pulang, meski hanya untuk satu lagu.

Kalau kamu juga tumbuh bersama “Honey”, kamu pasti tahu rasa hangat itu — perpaduan antara rindu dan bahagia yang hanya bisa datang dari musik. Karena terkadang, satu lagu cukup untuk membawa kita kembali ke masa ketika segalanya terasa manis.

Novotel Gajah Mada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here