Home Highlight Negara dengan Jam Kerja Tertinggi di Dunia: Bhutan Juara, Indonesia Santai di...

Negara dengan Jam Kerja Tertinggi di Dunia: Bhutan Juara, Indonesia Santai di Urutan 115

380
0
ilustrasi jam kerja tertinggi di dunia 2025 - sumber foto Meta.ai
ilustrasi jam kerja tertinggi di dunia 2025 - sumber foto Meta.ai
Urbanvibes

Hi Urbie’s! Pernah nggak sih kamu ngerasa kerja terus sampai lupa hari, tapi pas lihat jam kerja tertinggi mingguan ternyata masih kalah jauh sama negara lain? Ternyata, menurut laporan terbaru dari World Population Review 2025, beberapa negara di Asia dan Afrika punya jam kerja gila-gilaan, bahkan mencapai lebih dari 54 jam per minggu.

Itu artinya, kalau mereka kerja lima hari dalam seminggu, setiap harinya bisa habis 10–11 jam di kantor atau lapangan kerja! Angka ini jauh melampaui rata-rata jam kerja global yang hanya 38,7 jam per minggu. Dengan perbedaan hampir 30 jam, kesenjangan antara negara dengan beban kerja tertinggi dan terendah terlihat cukup ekstrem.

Bhutan: Negara Bahagia, Tapi Pekerjanya Super Sibuk

Di posisi puncak ada Bhutan, negara kecil di Asia Selatan yang dikenal lewat konsep “Gross National Happiness”. Tapi ternyata, di balik filosofi hidup bahagia itu, rakyatnya juga dikenal sebagai pekerja keras sejati.
Rata-rata jam kerja di Bhutan mencapai 54,5 jam per minggu, menjadikannya negara dengan jam kerja tertinggi di dunia tahun 2025.

Walau tampak melelahkan, etos kerja di Bhutan berasal dari rasa tanggung jawab dan komitmen terhadap masyarakat. Mereka percaya kerja keras bukan hanya soal uang, tapi juga kontribusi bagi komunitas.

Asia dan Afrika Masih Mendominasi

Setelah Bhutan, posisi kedua ditempati Sudan dengan rata-rata 51 jam per minggu, disusul oleh Lesotho (50 jam) dan Republik Kongo (49 jam). Negara-negara di Afrika ini banyak bergantung pada sektor pertanian dan manufaktur, yang membuat jam kerja panjang menjadi hal biasa.

Dari kawasan Timur Tengah, Uni Emirat Arab (48 jam) dan Qatar (47 jam) juga masuk dalam daftar 10 besar. Sementara di Asia Selatan, Pakistan (48 jam) dan Yordania (48 jam) menunjukkan pola serupa: jam kerja tinggi dianggap bagian dari dedikasi profesional.

Berikut 10 besar negara dengan jam kerja tertinggi di dunia versi World Population Review 2025:

  1. Bhutan – 55 jam per minggu
  2. Sudan – 51 jam per minggu
  3. Lesotho – 50 jam per minggu
  4. Republik Kongo – 49 jam per minggu
  5. Uni Emirat Arab – 48 jam per minggu
  6. Sao Tome & Principe – 48 jam per minggu
  7. Yordania – 48 jam per minggu
  8. Liberia – 48 jam per minggu
  9. Pakistan – 48 jam per minggu
  10. Qatar – 47 jam per minggu

Indonesia di Urutan ke-115: Bukan Pemalas, Tapi Lebih Seimbang

Nah, kabar baiknya, Indonesia tidak termasuk negara dengan jam kerja ekstrem.
Kita menempati peringkat ke-115 dunia, dengan rata-rata 37,7 jam kerja per minggu. Angka ini lebih rendah dari rata-rata global dan menunjukkan bahwa jam kerja di Indonesia tergolong moderate — tidak terlalu berat, tapi juga tidak terlalu santai.

Kalau diuraikan, regulasi ketenagakerjaan Indonesia memang mengatur waktu kerja rata-rata 8 jam per hari selama 5 hari kerja. Tapi kenyataannya, banyak faktor lain yang memengaruhi persepsi kita terhadap durasi kerja — mulai dari lembur, perjalanan panjang akibat kemacetan, hingga tekanan kerja yang tinggi di industri perkotaan.

Dengan kata lain, meski jam kerja rata-rata Indonesia lebih rendah, tingkat stres dan kelelahan mental belum tentu ikut rendah.

Baca Juga:

Kenapa Jam Kerja Indonesia Lebih Rendah?

Ada beberapa faktor yang membuat Indonesia “aman” dari jam kerja ekstrem:

  1. Struktur ekonomi dan jenis pekerjaan.
    Banyak pekerja di Indonesia berada di sektor jasa, kreatif, dan administrasi yang memiliki jam kerja stabil.
  2. Regulasi ketenagakerjaan.
    Pemerintah menetapkan batas jam kerja dan aturan lembur yang cukup ketat untuk melindungi hak pekerja.
  3. Tren work-life balance.
    Generasi muda Indonesia semakin sadar akan pentingnya keseimbangan hidup. Kesadaran ini membuat banyak perusahaan mulai mengadopsi sistem kerja yang lebih fleksibel.
  4. Transformasi digital dan hybrid working.
    Setelah pandemi, banyak kantor mengadopsi sistem kerja jarak jauh yang membantu mengurangi jam kerja efektif tanpa mengorbankan produktivitas.

Jam Kerja Panjang Belum Tentu Produktif

Menariknya, jam kerja panjang tidak selalu berarti produktivitas tinggi. Negara-negara seperti Belanda dan Denmark, dengan jam kerja sekitar 30–32 jam per minggu, justru memiliki tingkat produktivitas dan kebahagiaan tertinggi di dunia.

Sebaliknya, negara-negara dengan jam kerja ekstrem sering menghadapi masalah burnout, stres kronis, dan penurunan efisiensi kerja. Dunia kini mulai beralih ke sistem kerja yang lebih manusiawi, seperti four-day workweek dan fleksibilitas waktu kerja, untuk menjaga keseimbangan hidup para pekerja.

Urban Verdict

Jadi, Urbie’s, meskipun Indonesia cuma berada di peringkat ke-115, bukan berarti kita kurang rajin. Justru ini bisa jadi tanda bahwa kita mulai menemukan keseimbangan antara produktivitas dan kesehatan mental.

Bekerja keras itu penting, tapi bekerja dengan cerdas — dan tahu kapan harus berhenti — jauh lebih berarti. Karena pada akhirnya, keseimbangan antara kerja dan hidup adalah bentuk kesuksesan yang sesungguhnya.

Jadi, kamu tim “kerja keras ala Bhutan” atau “hidup seimbang ala Indonesia”? Apa pun pilihannya, jangan lupa: your energy defines your productivity.

Novotel Gajah Mada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here