Home Highlight Ibu Rosita dan 44.000 Pohon Harapan: Kisah Inspiratif dari Megamendung untuk Indonesia

Ibu Rosita dan 44.000 Pohon Harapan: Kisah Inspiratif dari Megamendung untuk Indonesia

660
0
Ibu Rosita dan 44.000 Pohon Harapan: Kisah Inspiratif dari Megamendung untuk Indonesia
Ibu Rosita dan 44.000 Pohon Harapan: Kisah Inspiratif dari Megamendung untuk Indonesia

Indonesia tengah menghadapi tantangan besar dalam sektor lingkungan. Berdasarkan data terbaru, negeri ini menempati peringkat kedua dunia dalam kehilangan hutan tropis. Sejak tahun 2002 hingga 2023, sekitar 10,5 juta hektare hutan telah hilang, sebuah angka yang mencerminkan ancaman serius terhadap keanekaragaman hayati, habitat satwa, serta kemampuan bumi dalam menyerap karbon. Di tengah situasi yang semakin mengkhawatirkan tersebut, muncul secercah harapan dari sebuah desa di Megamendung, Bogor. Harapan itu hadir melalui tekad seorang ibu rumah tangga bernama Rosita.

Dua puluh tahun lalu, Rosita memulai perjalanannya dari sesuatu yang sangat sederhana: sebuah kebun kecil seluas satu hektare. Saat itu, kondisi lahan di sekitarnya tergolong kritis dan dianggap tidak lagi memiliki potensi. Banyak orang meragukan keputusannya untuk menanam pohon di tempat yang tampak “mati”. Namun, keraguan itu tidak membuatnya mundur. Setiap hari, ia naik turun bukit, merawat bibit demi bibit, menanam satu pohon demi satu pohon dengan penuh dedikasi. Yang ia tanam bukan hanya pohon, tetapi juga harapan bahwa alam dapat sembuh—selama masih ada manusia yang peduli.

Di tengah perjalanan, tentu saja Rosita tidak luput dari berbagai tantangan. Ia menghadapi keterbatasan alat, cuaca yang tidak menentu, serta tekanan dari pihak-pihak yang tidak setuju dengan kegiatannya. Tidak jarang pula ia menerima ancaman karena mempertahankan hutan dari pihak yang ingin memanfaatkannya secara instan. Namun, semua itu tidak menggetarkan langkahnya. Baginya, pembangunan hutan organik bukan sekadar kegiatan lingkungan, melainkan perjuangan untuk masa depan anak cucu dan generasi yang akan datang.

Baca Juga:

Perlahan tapi pasti, kerja keras Rosita mulai menunjukkan hasil. Setelah dua dekade, lahan yang dulunya kritis kini berubah menjadi Hutan Organik Megamendung, kawasan hijau yang terbentang lebih dari 13 hingga 30 hektare, ditumbuhi sekitar 44.000 pohon dari berbagai jenis tanaman. Semua ditanam tanpa bahan kimia, menggunakan prinsip organik yang mengutamakan keselarasan dengan alam. Hutan ini memberikan banyak manfaat bagi lingkungan: menjaga kualitas udara, meningkatkan kesuburan tanah, menyediakan habitat bagi satwa, hingga mengurangi potensi bencana longsor.

Tak hanya itu, kehadiran hutan organik ini juga memberi dampak positif bagi masyarakat sekitar. Ekosistem yang pulih kembali membuka potensi wisata edukasi, lapangan pekerjaan berbasis alam, serta ruang belajar bagi banyak komunitas yang ingin memahami pentingnya konservasi. Melalui kerja kerasnya, Rosita telah membuktikan bahwa perubahan besar dapat berawal dari langkah yang tampak kecil—asal dilakukan dengan konsistensi dan ketulusan hati.

Kini, Hutan Organik Megamendung menjadi salah satu pionir hutan organik di Indonesia. Karya Rosita pun mendapat pengakuan luas hingga masuk nominasi penghargaan Kalpataru, salah satu penghargaan tertinggi di bidang lingkungan hidup. Namun bagi Rosita, penghargaan bukanlah tujuan. Yang terpenting baginya adalah bagaimana hutan ini dapat terus tumbuh, menjadi warisan hijau bagi anak cucu, dan menginspirasi lebih banyak orang untuk menghidupkan kembali alam di sekitarnya.

Di era ketika deforestasi melaju cepat, kisah Rosita menjadi pengingat bahwa satu orang tetap bisa membuat perbedaan. Satu bibit, satu langkah, satu tekad—semuanya bisa menjadi awal dari gerakan yang lebih besar. Megamendung kini bukan hanya nama desa, tetapi simbol harapan bahwa Indonesia masih memiliki kesempatan untuk kembali hijau, asalkan kita mau berjuang bersama.