Hi Urbie’s! Di tengah duka dan puing-puing yang ditinggalkan bencana alam, harapan kerap lahir dari solidaritas. Itulah yang kini dihadirkan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, yang kembali menegaskan komitmennya untuk berdiri bersama masyarakat terdampak longsor dan banjir bandang di Sumatera pada akhir November 2025 lalu.
Bencana tersebut menghantam sejumlah wilayah dengan dampak yang tidak kecil. Rumah-rumah warga rusak berat, hilang, bahkan hanyut diterjang arus deras. Ribuan keluarga terpaksa kehilangan tempat berlindung dan harus memulai kembali kehidupan dari nol. Merespons kondisi ini, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia mengambil langkah nyata dengan membangun 2.500 hunian tetap bagi para penyintas.
2.500 Hunian untuk Masa Depan yang Lebih Aman
Program hunian tetap ini dirancang khusus untuk masyarakat yang terdampak paling parah—mereka yang rumahnya rusak berat, tidak lagi layak huni, atau lenyap akibat bencana. Total 2.500 unit hunian akan dibangun dan tersebar di tiga provinsi terdampak, yakni 1.000 unit di Aceh, 1.000 unit di Sumatera Utara, dan 500 unit di Sumatera Barat.
Distribusi ini bukan tanpa alasan. Ketiga provinsi tersebut menjadi wilayah dengan dampak signifikan dari rangkaian bencana alam yang terjadi di penghujung November 2025. Dengan pendekatan berbasis kebutuhan, hunian tetap ini diharapkan mampu menjawab persoalan mendasar para penyintas: tempat tinggal yang layak, aman, dan berkelanjutan.
Lebih dari sekadar bangunan fisik, hunian tetap ini diproyeksikan sebagai fondasi untuk membangun kembali kehidupan. Rumah bukan hanya soal atap dan dinding, tetapi juga ruang aman untuk memulihkan trauma, menata ulang masa depan, dan menumbuhkan kembali rasa stabilitas setelah bencana.
Kolaborasi dengan Pemerintah dan Pemangku Kepentingan
Urbie’s, dalam prosesnya, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia tidak berjalan sendiri. Saat ini, koordinasi intensif terus dilakukan dengan pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan terkait. Langkah ini krusial untuk memastikan kesiapan teknis, legalitas lahan, hingga keberlanjutan lingkungan di lokasi pembangunan hunian tetap.
Penetapan lokasi menjadi salah satu fokus utama. Pembangunan hunian pascabencana harus mempertimbangkan banyak aspek, mulai dari keamanan wilayah, risiko bencana lanjutan, hingga akses terhadap fasilitas publik seperti sekolah, layanan kesehatan, dan sarana ekonomi masyarakat. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip pembangunan berkelanjutan yang selama ini dipegang oleh Yayasan Buddha Tzu Chi.
Baca Juga:
- Aktor Keturunan Indonesia Gilli Jones Masuk Radar Disney Lewat Audisi Tangled
- Ternyata Ini 5 Alasan Mall Selalu Obral Diskon Gede-Gedean Pas Akhir Tahun!
- Inilah 5 Tips Aman dan Nyaman Naik Kapal Feri Buat Pemula Saat Musim Hujan
Groundbreaking Jadi Penanda Awal Harapan Baru
Kabar baiknya, tiga titik awal pembangunan telah dipastikan. Pada Minggu, 21 Desember 2025, akan dilaksanakan kegiatan peletakan batu pertama (groundbreaking) di Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Sibolga. Momen ini bukan hanya seremoni, tetapi menjadi simbol dimulainya proses panjang pemulihan bagi masyarakat terdampak.
Acara groundbreaking tersebut dijadwalkan akan dihadiri oleh jajaran Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, serta para pemangku kepentingan nasional dan daerah. Kehadiran berbagai pihak ini mencerminkan semangat kolaborasi lintas sektor dalam menghadirkan solusi nyata bagi korban bencana.
Dalam banyak kasus, fase tanggap darurat sering kali berlalu cepat, sementara proses pemulihan jangka panjang membutuhkan perhatian yang konsisten. Pembangunan hunian tetap menjadi bukti bahwa upaya kemanusiaan tidak berhenti pada bantuan sementara, melainkan berlanjut hingga masyarakat benar-benar bisa bangkit.
Membangun Rumah, Menumbuhkan Harapan
Bagi para penyintas, hunian tetap bukan hanya soal memiliki rumah baru. Ini adalah tentang memulai kembali kehidupan dengan rasa aman. Anak-anak bisa kembali belajar dengan tenang, orang tua bisa fokus bekerja, dan komunitas perlahan pulih dari luka kolektif akibat bencana.
Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia melalui program ini kembali menegaskan nilai-nilai kemanusiaan universal: empati, kepedulian, dan aksi nyata. Di tengah tantangan perubahan iklim dan meningkatnya risiko bencana alam, langkah-langkah seperti ini menjadi semakin relevan dan dibutuhkan.
Urbie’s, pembangunan 2.500 hunian tetap di Sumatera ini adalah pengingat bahwa di balik setiap tragedi, selalu ada tangan-tangan yang siap membantu. Dan dari setiap rumah yang dibangun, lahir kembali harapan—tentang kehidupan yang lebih aman, lebih layak, dan lebih bermakna bagi mereka yang terdampak bencana.






















































