Hi Urbie’s! Setelah lebih dari satu dekade sejak “Gangnam Style” milik PSY mengguncang dunia, K-pop akhirnya kembali berdiri di puncak industri musik global. Kali ini, tongkat estafet itu berada di tangan Rosé BLACKPINK—seorang solois perempuan Korea Selatan yang mencetak sejarah baru di kancah internasional.
Billboard resmi menobatkan Rosé sebagai No.1 Global Artist of 2025, menjadikannya soloist perempuan Korea Selatan pertama dan soloist Korea kedua dengan peringkat tertinggi sepanjang sejarah Billboard, setelah PSY. Sebuah pencapaian monumental yang bukan hanya soal angka, tetapi juga tentang dampak budaya, identitas, dan evolusi K-pop di mata dunia.
Keberhasilan ini didorong oleh kekuatan album solo perdananya, “ROSIE”, serta lagu kolaborasi fenomenal bersama Bruno Mars, “APT”, yang menjadi salah satu track paling berpengaruh tahun ini. Dalam lanskap musik global yang semakin kompetitif, Rosé tidak hanya hadir—ia mendominasi.
“ROSIE”: Pernyataan Identitas Seorang Global Artist
Album ROSIE bukan sekadar proyek solo dari anggota girl group terbesar di dunia. Album ini menjadi pernyataan artistik Rosé sebagai musisi independen. Mengusung warna pop alternatif, rock emosional, hingga sentuhan retro modern, ROSIE memperlihatkan sisi Rosé yang lebih personal, jujur, dan matang.
Lirik-liriknya berbicara tentang cinta, kehilangan, kerentanan, dan pencarian jati diri—tema universal yang dengan mudah diterima lintas budaya. Inilah kunci kekuatan Rosé: ia tidak menjual “K-pop” sebagai label semata, tetapi menjual emosi manusia yang bisa dirasakan siapa pun, di mana pun.
Billboard menilai ROSIE sebagai album dengan daya resonansi global yang kuat, tidak hanya sukses di pasar Asia, tetapi juga mendominasi chart Amerika Serikat, Eropa, hingga Amerika Latin.
“APT”: Lagu, Fenomena, dan Gerbang Budaya
Jika ROSIE adalah fondasi, maka “APT” adalah ledakan globalnya. Kolaborasi Rosé dengan Bruno Mars ini menjelma menjadi lagu lintas genre dan lintas budaya yang masif. Dengan melodi adiktif, produksi minimalis, dan konsep visual yang unik, APT menjadi lebih dari sekadar hit—ia adalah fenomena.
Menariknya, APT juga membawa efek budaya yang signifikan. Lagu ini secara tidak langsung memperkenalkan elemen gaya hidup, estetika, dan sensibility Korea Selatan kepada audiens global, dengan cara yang halus namun efektif. Banyak pengamat menyebut dampak APT sebagai “cultural gateway”, mirip dengan apa yang dilakukan Gangnam Style pada 2012—namun dengan pendekatan yang jauh lebih refined dan artistik.
Baca Juga:
- Aktor Keturunan Indonesia Gilli Jones Masuk Radar Disney Lewat Audisi Tangled
- Ternyata Ini 5 Alasan Mall Selalu Obral Diskon Gede-Gedean Pas Akhir Tahun!
- Inilah 5 Tips Aman dan Nyaman Naik Kapal Feri Buat Pemula Saat Musim Hujan
Mengulang Sejarah, dengan Cara Baru
Dua belas tahun lalu, PSY mengubah persepsi dunia tentang musik Korea lewat humor, tarian ikonik, dan viralitas. Kini, Rosé melakukan hal serupa—tetapi dengan pendekatan yang berbeda. Ia membawa emosi, musikalitas, dan estetika global yang lebih dewasa.
Billboard dalam pernyataannya menyoroti bahwa kekuatan Rosé terletak pada originalitas ide dan kemampuannya menjembatani pasar Barat dan Asia tanpa kehilangan identitas. Ia tidak “menyesuaikan diri” dengan pasar global—pasar global justru menyesuaikan diri dengannya.
K-Pop di Era Baru
Pencapaian Rosé menandai babak baru bagi K-pop. Jika generasi awal berjuang untuk dikenal, dan generasi berikutnya memperluas pasar, maka era Rosé adalah era dominasi artistik. K-pop tidak lagi dilihat sebagai genre niche, tetapi sebagai kekuatan utama dalam industri musik dunia.
Bagi BLACKPINK, ini juga menjadi bukti bahwa kekuatan grup tersebut tidak berhenti di panggung kolektif. Setiap anggota kini berdiri sebagai entitas global dengan karakter dan pengaruh masing-masing—dan Rosé berada di garis depan momentum tersebut.
Lebih dari Sekadar Gelar
Gelar Billboard Global Artist of 2025 bukan hanya pencapaian personal bagi Rosé, tetapi juga simbol kebangkitan K-pop di level tertinggi industri musik global. Ini adalah pengakuan bahwa musik dari Korea Selatan tidak hanya relevan, tetapi memimpin arah.
Untuk Urbie’s, kisah Rosé adalah pengingat bahwa musik mampu melampaui bahasa, budaya, dan batas geografis. Dan di tahun 2025, suara itu kembali datang dari Korea—lebih kuat, lebih matang, dan lebih global dari sebelumnya.






















































