
Hi Urbie’s, di era ketika audiens semakin kebal terhadap iklan konvensional, industri kreatif dipaksa mencari cara baru untuk bercerita. Salah satu medium yang kini terbukti efektif—bahkan nyaris tanpa perlawanan dari penonton—adalah anime. Melalui pendekatan naratif yang emosional dan konsisten, anime kini mampu menjalankan fungsi program memasak, promosi produk, hingga branding gaya hidup, tanpa terasa seperti sedang berjualan.
Fenomena ini terlihat jelas dalam Campfire Cooking in Another World with My Absurd Skill atau dalam judul asli Jepang Tondemo Skill de Isekai Hourou Meshi. Serial ini tidak hanya menjual fantasi isekai dan makanan lezat, tetapi juga menormalisasi kehadiran produk dunia nyata sebagai bagian alami dari cerita.
Mukouda dan Filosofi “Masak untuk Bertahan Hidup”
Tokoh utama Mukouda Tsuyoshi bukanlah pahlawan klise. Ia hanya seorang salaryman biasa yang terlempar ke dunia lain, bertahan hidup berkat skill unik bernama Online Grocery. Kemampuan ini memungkinkannya mengakses bahan makanan dan produk modern dari dunia asalnya.
Dari sini, anime ini membangun narasi bahwa makanan bukan sekadar pemuas lapar, tetapi alat bertahan hidup, pengikat emosi, dan simbol peradaban modern. Setiap bahan yang muncul di layar punya fungsi naratif—dan di situlah promosi bekerja secara diam-diam.
Saat Dungeon dan Gurun Pasir Menjadi Etalase Produk
Dalam beberapa episode, Mukouda bersama Fel, Sui, dan Dora-chan terdampar di dungeon dengan kondisi lingkungan ekstrem menyerupai gurun pasir. Panas menyengat, kelelahan, dan dehidrasi menjadi ancaman nyata—situasi yang sangat relevan dengan pengalaman manusia modern.
Di momen inilah, Pocari Sweat muncul. Tidak dipamerkan berlebihan, tidak disebutkan dengan nada iklan. Minuman tersebut hadir sebagai solusi logis untuk menjaga hidrasi di tengah kondisi ekstrem. Mukouda membagikannya kepada Fel, Sui, dan Dora-chan, memperlihatkan bahwa bahkan makhluk legendaris pun membutuhkan cairan untuk bertahan.
Adegan ini bekerja efektif karena konteksnya masuk akal. Penonton tidak merasa sedang menonton iklan, melainkan menyaksikan karakter yang mereka sayangi berusaha bertahan hidup.
Product Placement yang Mengandalkan Cerita, Bukan Logo
Yang membuat pendekatan ini kuat adalah emosi dan situasi, bukan eksposur logo. Pocari Sweat tidak “dijual”, tetapi dipercaya. Ia muncul di saat krusial, saat energi menurun dan kondisi tak bersahabat.
Secara tidak langsung, anime ini menyampaikan pesan: jika minuman ini cukup baik untuk monster legendaris dan slime di dunia lain, maka ia cukup baik untuk manusia di dunia nyata. Sebuah bentuk promosi yang jauh lebih efektif dibanding iklan 30 detik.
Baca Juga:
- Aktor Keturunan Indonesia Gilli Jones Masuk Radar Disney Lewat Audisi Tangled
- Ternyata Ini 5 Alasan Mall Selalu Obral Diskon Gede-Gedean Pas Akhir Tahun!
- Inilah 5 Tips Aman dan Nyaman Naik Kapal Feri Buat Pemula Saat Musim Hujan

Memasak, Minum, dan Budaya Hidup Sehat
Campfire Cooking juga konsisten menampilkan hubungan antara makan, minum, dan keseimbangan tubuh. Makanan lezat tidak berdiri sendiri, tetapi selalu diiringi kesadaran akan nutrisi dan stamina. Minuman elektrolit seperti Pocari Sweat menjadi bagian dari gaya hidup aktif—bahkan di dunia fantasi.
Di sinilah anime berperan layaknya edukator gaya hidup, mengajarkan pentingnya hidrasi, pemulihan energi, dan perawatan tubuh, tanpa khotbah.
Anime sebagai Program Memasak Generasi Baru
Jika dulu acara memasak hadir dalam format studio dan kompetisi, kini anime menawarkan pengalaman berbeda. Ia tidak mengajarkan resep secara teknis, tetapi membangun hubungan emosional dengan makanan dan produk.
Dengan basis penggemar yang masif—novelnya mencatat lebih dari 1,4 miliar views dan 10 juta kopi terjual—setiap produk yang muncul di layar otomatis mendapat paparan global. Ditambah dengan penayangan musim kedua mulai 7 Oktober 2025 di jaringan TV Tokyo dan Prime Video, efek promosinya nyaris tak terelakkan.
Masa Depan Promosi Ada di Cerita
Urbie’s, Campfire Cooking in Another World with My Absurd Skill membuktikan bahwa promosi paling efektif tidak terasa seperti promosi. Lewat cerita, karakter, dan situasi ekstrem seperti dungeon gurun pasir, anime ini mengubah produk makanan dan minuman menjadi bagian alami dari dunia yang hidup.
Di zaman sekarang, orang tidak ingin dijualin—mereka ingin diyakinkan lewat cerita. Dan anime, dengan segala daya magisnya, telah menemukan cara paling halus untuk melakukannya.





















































