Hi Urbie’s! Dalam beberapa tahun terakhir, layar ponsel masyarakat China dipenuhi oleh drama pendek online dengan formula yang nyaris seragam: CEO kaya raya, kekuasaan tak terbatas, dan romansa instan dengan tokoh perempuan dari kalangan biasa. Genre drama CEO tumbuh subur di platform digital berkat durasi singkat, konflik sederhana, dan fantasi sosial yang mudah dicerna. Namun kini, kejayaan cerita cinta miliarder itu mulai memasuki babak baru. Pemerintah China resmi memperketat aturan terhadap drama pendek online, terutama yang terlalu memuja kekayaan dan gaya hidup materialistis.
Romansa CEO dan Fantasi Kekayaan
Drama pendek bertema CEO kaya jatuh cinta pada orang biasa sebenarnya bukan fenomena baru. Namun format pendek—yang bisa ditonton dalam hitungan menit—membuat genre ini semakin adiktif. Dalam satu episode singkat, penonton disuguhi konflik, kejutan, dan akhir bahagia, seolah hidup bisa berubah hanya dengan bertemu “orang yang tepat” dan memiliki akses pada kekayaan.
Formula ini terbukti ampuh secara algoritma. Platform digital mendapatkan trafik tinggi, kreator memperoleh popularitas cepat, dan penonton merasa terhibur oleh fantasi sosial yang menawarkan pelarian dari realitas sehari-hari. Namun di balik angka penonton yang mengesankan, kritik terhadap genre ini kian menguat.
Kekhawatiran terhadap Dampak Sosial
Otoritas media China menilai drama-drama tersebut terlalu memuja kekayaan sebagai pusat kebahagiaan dan kesuksesan. Cinta digambarkan bukan sebagai proses emosional yang kompleks, melainkan sebagai “hadiah” dari status sosial dan finansial. Kekayaan seolah menjadi solusi universal atas semua masalah hidup—dari karier, keluarga, hingga harga diri.
Bagi penonton muda, narasi seperti ini dikhawatirkan membentuk ekspektasi yang keliru. Cerita miliarder yang selalu hadir sebagai penyelamat bisa menciptakan ilusi bahwa kesuksesan dan kebahagiaan datang secara instan, tanpa proses panjang, kerja keras, atau kegagalan. Pemerintah China melihat fenomena ini bukan sekadar hiburan ringan, melainkan isu budaya yang berpotensi memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap cinta, kerja, dan nilai hidup.
Aturan Baru dan Seleksi Konten
Sebagai respons, otoritas media meminta platform digital untuk mengurangi tayangan drama pendek dengan tema serupa dan lebih selektif dalam memproduksi konten. Bukan berarti romansa dilarang, tetapi pendekatan yang terlalu menyanjung kekayaan dan status sosial diminta untuk ditekan.
Ke depan, kreator didorong menghadirkan cerita yang lebih realistis dan membumi. Narasi cinta tidak lagi boleh bertumpu sepenuhnya pada uang, jabatan, atau gaya hidup mewah. Pemerintah ingin ruang digital dipenuhi kisah yang relevan dengan kehidupan nyata masyarakat—tentang kerja, relasi manusia, dan perjuangan sehari-hari.
Baca Juga:
- Punya Email Alay Sejak Remaja? Kini Gmail Bisa Diganti Tanpa Buat Akun Baru
- Tips Berkendara Aman di Musim Hujan Saat Liburan Akhir Tahun
- Fenomena Lelah di Akhir Pekan, Tanda Tubuh Kirim Sinyal Ini!
Industri Kreatif di Persimpangan Jalan
Kebijakan ini menempatkan industri drama pendek China di persimpangan penting. Di satu sisi, genre CEO kaya telah terbukti menjadi mesin klik dan pendapatan. Di sisi lain, tekanan regulasi memaksa kreator dan platform untuk memikirkan ulang formula lama yang terlalu aman dan repetitif.
Bagi sebagian kreator, aturan ini bisa menjadi tantangan besar. Namun bagi yang lain, ini justru peluang untuk bereksperimen. Drama pendek tak harus selalu tentang kemewahan ekstrem. Cerita tentang kelas menengah, pekerja biasa, atau konflik sosial yang lebih dekat dengan keseharian penonton berpotensi menemukan tempat baru di hati audiens.
Menata Ulang Ruang Digital
Langkah pemerintah China ini juga mencerminkan upaya lebih luas dalam menata ulang ruang digital. Dalam beberapa tahun terakhir, regulasi terhadap konten online di China semakin ketat, tidak hanya pada drama, tetapi juga variety show, influencer, hingga budaya fandom. Tujuannya serupa: menciptakan ekosistem digital yang dianggap lebih “sehat” dan selaras dengan nilai sosial yang diinginkan negara.
Drama pendek CEO kaya menjadi salah satu simbol dari budaya digital yang dianggap terlalu berorientasi pada kemewahan dan ilusi kesuksesan instan. Dengan menertibkan genre ini, pemerintah ingin menggeser fokus hiburan dari fantasi ekstrem ke representasi hidup yang lebih realistis.
Reaksi Penonton dan Masa Depan Genre
Reaksi publik terhadap kebijakan ini pun beragam. Sebagian penonton merasa kehilangan hiburan ringan yang selama ini menjadi pelarian dari rutinitas. Namun tidak sedikit pula yang menyambut baik langkah ini, mengingat kejenuhan terhadap cerita yang terlalu klise dan berulang.
Ke depan, masa depan drama pendek China kemungkinan akan lebih beragam. Romansa masih akan ada, tetapi dengan pendekatan yang lebih kompleks dan manusiawi. Kekayaan tidak lagi menjadi pusat cerita, melainkan salah satu elemen latar, bukan penentu utama kebahagiaan.
Bagi Urbie’s yang mengikuti tren budaya pop Asia, fenomena ini menarik untuk dicermati. Apa yang terjadi di China sering kali menjadi barometer arah industri hiburan digital global. Ketika romansa CEO mulai dibatasi, mungkin ini saatnya cerita-cerita baru—yang lebih dekat dengan realitas—mengambil alih layar kecil kita.



















































