Home Highlight Akhir Tahun Tanpa Hura-Hura, Menag Nasaruddin Umar Ajak Perkuat Empati dan Solidaritas

Akhir Tahun Tanpa Hura-Hura, Menag Nasaruddin Umar Ajak Perkuat Empati dan Solidaritas

172
0
Menteri Agama Nasaruddin Umar saat menghadiri Refleksi Akhir Tahun dan Doa Bersama bertema “Menguatkan Spirit Kebangsaan di Penghujung Tahun Bersama Al-Qur’an” di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ), Jakarta, Jumat (26/12/2025). (Foto: Dok. PTIQ)
Urbanvibes

Hi Urbie’s! Akhir tahun, saatnya pause sejenak dan refleksi. Bagi sebagian masyarakat urban, akhir tahun identik dengan pesta, liburan panjang, dan euforia menyambut pergantian kalender. Namun Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar mengingatkan bahwa penghujung tahun sejatinya bisa dimaknai lebih dalam—sebagai momen refleksi spiritual sekaligus penguatan empati sosial.

Pesan tersebut disampaikan Menag Nasaruddin Umar saat menghadiri Refleksi Akhir Tahun dan Doa Bersama bertema “Menguatkan Spirit Kebangsaan di Penghujung Tahun Bersama Al-Qur’an” di Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ), Jakarta, Jumat (26/12/2025).

Jangan Hanya Euforia, Isi dengan Makna

Menurut Menag, pergantian tahun seharusnya tidak dihabiskan dengan aktivitas yang bersifat hura-hura dan minim nilai. Justru, inilah waktu yang tepat untuk melakukan muhasabah—mengevaluasi diri, memperbaiki niat, dan memperkuat hubungan dengan Tuhan.

“Penghujung tahun ini mari kita isi dengan refleksi, doa, dan kegiatan yang membawa keberkahan. Jangan dihabiskan dengan hura-hura yang tidak memberi manfaat bagi diri, masyarakat, maupun bangsa,” ujar Menag.

Ia menekankan bahwa Al-Qur’an mengajarkan umatnya untuk memaknai setiap fase kehidupan secara bijak dan produktif, termasuk saat berada di titik akhir sebuah perjalanan tahunan.

Empati Sosial Jadi Gaya Hidup

Tak hanya soal refleksi pribadi, Menag juga menyoroti pentingnya kepedulian sosial—terutama di tengah situasi masyarakat yang masih menghadapi berbagai musibah. Ia secara khusus mengajak civitas academica PTIQ dan mahasiswa untuk menumbuhkan solidaritas, salah satunya dengan membantu masyarakat terdampak bencana di Aceh.

“Solidaritas dan empati adalah wujud nyata ajaran Al-Qur’an. Saat saudara kita tertimpa musibah, kehadiran dan bantuan kita, sekecil apa pun, sangat berarti,” tegasnya.

Pesan ini terasa relevan bagi generasi urban yang akrab dengan gaya hidup cepat, namun kerap lupa untuk menoleh ke sekitar.

Syukur, Bukan Sekadar Kata

Menag juga mengingatkan pentingnya rasa syukur atas pencapaian sepanjang tahun. Namun syukur, menurutnya, bukan hanya soal ucapan, melainkan harus tercermin dalam sikap positif, semangat belajar, dan kontribusi nyata bagi bangsa.

Ia mengajak mahasiswa menjadikan rasa syukur sebagai energi untuk terus berkembang, bukan sekadar merasa cukup atau puas diri.

Baca Juga:

Doa untuk Indonesia yang Rukun dan Damai

Dalam kesempatan tersebut, Menag turut mengajak seluruh peserta untuk mendoakan Indonesia agar tetap rukun, damai, dan terhindar dari perpecahan.

“Kerukunan dan kedamaian adalah modal utama pembangunan bangsa. Kita mohon kepada Allah SWT agar Indonesia selalu berada dalam lindungan-Nya, damai, bersatu, dan maju,” ucapnya.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa stabilitas sosial dan harmoni antarwarga adalah fondasi penting bagi masa depan bangsa.

Menyongsong Tahun Baru dengan Optimisme

Menutup pesannya, Menag mendorong mahasiswa PTIQ untuk menyambut tahun baru dengan semangat prestasi dan optimisme. Ia berharap generasi muda Al-Qur’an dapat tampil sebagai teladan—unggul dalam ilmu, kuat dalam akhlak, dan aktif mengabdi untuk Indonesia.

“Jadikan tahun yang akan datang sebagai tahun peningkatan prestasi. Mahasiswa PTIQ harus tampil sebagai generasi unggul yang menguasai ilmu, berakhlak Qur’ani, dan berkontribusi bagi kemajuan Indonesia,” pungkas Menag.

Di tengah hiruk-pikuk akhir tahun, pesan ini menjadi pengingat sederhana namun kuat: merayakan boleh saja, asal tetap bermakna dan berdampak—bagi diri sendiri, sesama, dan bangsa.

Novotel Gajah Mada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here