Hi Urbie’s!, siapa sangka sebuah game simulasi kota bisa mendadak berubah jadi panggung kritik sosial yang terasa begitu dekat dengan keseharian kita. TheoTown, game city builder besutan developer independen asal Jerman, tiba-tiba dibanjiri pemain asal Indonesia. Bukan sekadar ramai, kehadiran pemain Tanah Air ini bahkan membuat sang developer kebingungan karena pola bermain yang… sangat khas Indonesia.
Dalam beberapa pekan terakhir, linimasa Facebook dipenuhi tangkapan layar TheoTown yang memperlihatkan kota-kota virtual penuh drama. Mulai dari pajak dinaikkan sampai warga turun ke jalan, kebijakan populis yang berujung ricuh, hingga konflik agraria dan pembangunan rumah ibadah. TheoTown yang awalnya sekadar soal tata kota, kini berubah menjadi simulasi realitas sosial versi sarkas.
Fenomena Roleplay “Walikota Indonesia”
Berbeda dengan pemain global yang fokus pada efisiensi, estetika, dan pertumbuhan ekonomi, banyak pemain Indonesia justru menjadikan TheoTown sebagai arena roleplay. Mereka berperan sebagai walikota dengan gaya kepemimpinan yang terasa familiar. Pajak dinaikkan demi pembangunan, dapur umum dibuka untuk menenangkan warga, lahan sawit diperluas atas nama ekonomi, dan semua itu sering kali berujung pada satu hal yang sama: demonstrasi besar-besaran.
Dalam TheoTown, protes warga memang mekanik yang wajar. Namun cara pemain Indonesia memicu dan meresponsnya membuat pengalaman bermain terasa seperti membaca headline berita nasional. Kota tetap tumbuh, angka ekonomi naik, tapi alun-alun dipenuhi massa marah.
Kota Ideal yang Berujung Demo Massal
Salah satu contoh yang viral datang dari akun Facebook Burhan Mcleyzee. Ia memamerkan pencapaian kotanya yang secara statistik terbilang sukses. Infrastruktur lengkap, layanan publik berjalan, ekonomi stabil. Namun ironisnya, kota tersebut justru lumpuh karena dikepung ratusan ribu warga yang berdemo di pusat kota.
Dalam narasinya, sang walikota digital merasa sudah bekerja keras demi kesejahteraan rakyat. Namun kebijakan yang “menurut data sudah benar” justru memantik kemarahan publik. Pemandangan ini terasa begitu dekat dengan realitas, seolah TheoTown sedang berkata bahwa keberhasilan di atas kertas tidak selalu sejalan dengan kepuasan rakyat.

Konflik Sosial ala Indonesia di Dunia Virtual
Yang membuat TheoTown semakin relevan adalah bagaimana pemain Indonesia membawa isu-isu lokal ke dalam permainan. Konflik warga versus ekspansi lahan sawit, kebijakan pemerintah yang memaksa swasta membeli bensin mentah BUMN, hingga polemik pembangunan rumah ibadah, semuanya direka ulang dalam bentuk simulasi kota.
TheoTown memang tidak secara eksplisit mendesain konten politik Indonesia. Namun fleksibilitas mekaniknya memungkinkan pemain menciptakan narasi sendiri. Di tangan pemain Indonesia, game ini berubah menjadi ruang satire yang memotret kompleksitas kebijakan publik dan respons masyarakat.
Baca Juga:
- Waspada Super Flu! Rano Karno Ingatkan Warga Jakarta Tetap Jaga Kesehatan
- Inilah 5 Cara Memilih Ikan Segar dipasar untuk Pemula
- JKT48 Tegas Lawan Penyalahgunaan AI, Tegaskan Idol Bukan Objek dan Rasa Aman Tak Bisa Ditawar
Developer TheoTown Bingung, Netizen Terhibur
Masuknya gelombang pemain Indonesia secara tiba-tiba membuat developer TheoTown angkat alis. Bukan hanya soal lonjakan pemain, tapi juga gaya bermain yang tidak biasa. Alih-alih mengejar kota ideal tanpa konflik, pemain Indonesia justru tampak menikmati chaos sebagai bagian dari cerita.
Bagi netizen, inilah daya tarik utamanya. TheoTown tidak lagi sekadar soal membangun jalan dan gedung, tapi juga tentang mengelola emosi publik. Ketika kebijakan terasa logis tapi ditolak warga, pemain hanya bisa pasrah melihat demonstrasi memenuhi layar.
Sarkas, Relate, dan Terasa Nyata
TheoTown kini ramai di beranda Facebook karena keberaniannya “menyentil” isu-isu Indonesia, meski sebenarnya itu datang dari kreativitas pemainnya sendiri. Sarkas yang muncul terasa relate karena berangkat dari pengalaman kolektif. Game ini seolah menjadi cermin, bahwa dalam sistem apa pun, kebijakan yang baik belum tentu diterima dengan baik.
Bagi banyak pemain, kekacauan justru menjadi hiburan. Ada kepuasan tersendiri melihat kota virtual mencerminkan realitas sosial yang kompleks, penuh kontradiksi, dan sulit ditebak.
TheoTown Lebih dari Sekadar Game City Builder
Urbie’s!, fenomena TheoTown di Indonesia menunjukkan bagaimana video game bisa berkembang melampaui fungsi hiburan. Di tangan komunitas yang kreatif, game simulasi kota berubah menjadi medium refleksi sosial. Pemain tidak hanya membangun gedung, tetapi juga merangkai cerita tentang kekuasaan, kebijakan, dan reaksi rakyat.
TheoTown mungkin tidak pernah dirancang sebagai simulasi politik Indonesia. Namun justru di situlah kekuatannya. Ketika realitas terasa absurd, bahkan sebuah game pun mampu menangkapnya dengan cara yang jenaka sekaligus menohok. Dan mungkin, itulah alasan mengapa TheoTown kini terasa semakin “Indonesia banget”.






















































