Home Entertainment Gackt Hampir Tewas di Pegunungan Salju! “Meremehkan Kualitas Hidup Bisa Membunuhmu”

Gackt Hampir Tewas di Pegunungan Salju! “Meremehkan Kualitas Hidup Bisa Membunuhmu”

44
0
Gackt Hampir Tewas di Pegunungan Salju - sumber foto X Gackt
Gackt Hampir Tewas di Pegunungan Salju - sumber foto X Gackt
Urbanvibes

Hi Urbie’s! Nama GACKT selama ini identik dengan disiplin ekstrem, gaya hidup keras, dan dedikasi total terhadap karier serta tubuhnya. Namun di balik citra kuat itu, penyanyi dan aktor Jepang berusia 52 tahun ini ternyata pernah berada di titik paling rapuh dalam hidupnya—bahkan Gackt hampir tewas di pegunungan salju.

Pada 11 Januari, GACKT memperbarui profilnya dan membagikan kisah personal yang terjadi sekitar 20 tahun lalu, sebuah pengalaman di alam liar yang mengubah cara pandangnya tentang hidup, persiapan, dan rasa “terlalu percaya diri” yang kerap dianggap sepele.

“Ini terjadi sekitar 20 tahun yang lalu, tapi saya hampir mati karena meremehkan kualitas hidup,” tulis GACKT membuka ceritanya. Kalimat itu bukan metafora. Ia benar-benar berbicara soal hidup dan mati.

Musim Dingin, Rutinitas Ekstrem, dan Rasa Aman Palsu

Kala itu, GACKT menjalani kehidupan yang bagi banyak orang terdengar seperti mimpi. Ia memiliki gunung salju sendiri dan menghabiskan musim dingin selama tiga bulan di sebuah hotel pegunungan. Rutinitasnya padat dan ekstrem: latihan fisik di pagi hari, bermain snowboard tanpa henti selama empat jam di siang hari, lalu menulis lagu di malam hari.

Tubuhnya kuat, mentalnya terlatih, dan alam seolah sudah menjadi “teman bermain”. Justru di situlah bahaya mulai muncul—rasa familiar yang melahirkan kelengahan.

Suatu malam, ketika ide lagu buntu, GACKT memutuskan berjalan-jalan di pegunungan bersalju untuk menyegarkan pikiran. Ia mengecek saku: ponsel, rokok, makanan darurat. Semua terasa aman. Salju di malam hari tampak indah, disinari lampu, membuatnya terpesona.

Ia mengambil jalur yang sedikit asing.

Lalu segalanya berubah cepat.

Gackt Hampir Tewas di Pegunungan Salju! Detik yang Mengubah Segalanya

Badai salju datang tiba-tiba. Dalam hitungan detik, GACKT terjatuh dari tebing bersama ponselnya. Ia kehilangan kesadaran di tengah jalan. Saat terbangun, tubuhnya sudah berada jauh di bawah, terpisah dari ponsel yang terjebak sekitar 20 meter di atas, tak bergerak, terkubur salju.

Dalam kondisi dingin ekstrem, gelap, dan tanpa alat komunikasi, GACKT mencoba mencari apa pun yang tersisa di tubuhnya. Ia menemukan rokok di saku dada. Rokok di saku lainnya. Sampai akhirnya ia sadar—yang ia miliki hanyalah 12 bungkus rokok.

“Jujur, saya pikir semuanya sudah berakhir,” tulisnya.

Di titik itu, tidak ada heroisme. Tidak ada aura bintang rock. Hanya manusia yang sadar betapa tipisnya garis antara hidup dan mati.

Gackt Hampir Tewas di Pegunungan Salju - sumber foto X Gackt
Gackt Hampir Tewas di Pegunungan Salju – sumber foto X Gackt

Diselamatkan Alam, Disadarkan oleh Kesalahan

Sekitar pukul 5 pagi, staf hotel akhirnya menemukan dan menolong GACKT. Ia selamat. Tapi pengalaman itu meninggalkan bekas yang dalam.

GACKT menyadari bahwa bukan badai salju yang hampir membunuhnya, melainkan kurangnya pengecekan, kurangnya persiapan, dan rasa puas diri dengan pikiran, “Ah, semuanya akan baik-baik saja.”

Menurutnya, alam bukan musuh, tapi juga bukan sesuatu yang bisa diremehkan. “Alam itu indah, tetapi pada saat yang sama, ia dapat dengan mudah merenggut nyawa Anda,” tulisnya. Pesannya jelas dan tegas: jangan lengah, jangan meremehkan, dan selalu bersiap.

Baca juga:

Reaksi Publik: Syukur, Merinding, dan Rasa Tak Percaya

Unggahan ini langsung memicu reaksi emosional dari para penggemar. Kolom komentar dipenuhi ungkapan lega dan syukur. Banyak yang mengaku merinding saat membacanya, ada pula yang mengatakan cerita ini “terlalu nyata sampai terasa menekan.”

Beberapa komentar bahkan terdengar sangat personal: “GACKT, aku senang kamu masih hidup,” dan “Terima kasih karena masih bertahan.” Ada juga yang terkejut dengan detail ironisnya—12 bungkus rokok yang justru menjadi satu-satunya benda yang tersisa.

Lebih dari Sekadar Cerita Gackt Hampir Tewas di Pegunungan Salju

Kisah GACKT bukan sekadar cerita ekstrem seorang selebritas. Ia adalah refleksi tentang kualitas hidup, bukan dalam arti kemewahan, tapi kesadaran, persiapan, dan tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Di era ketika banyak orang merasa kebal karena teknologi, pengalaman, atau rutinitas, kisah ini terasa relevan. Bahwa satu keputusan kecil—jalan memutar, rasa terlalu percaya diri, atau persiapan yang setengah-setengah—bisa membawa konsekuensi besar.

GACKT selamat. Tapi seperti yang ia tekankan, keselamatan itu bukan jaminan. Ia adalah pengingat.

Dan bagi Urbie’s, mungkin ini bukan cuma kisah tentang GACKT di gunung salju, tapi tentang kita semua—tentang hidup yang terlalu sering kita anggap “pasti aman”, sampai suatu hari ternyata tidak.

Novotel Gajah Mada

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here