Hi Urbie’s! Pernah nggak, kamu mengunjungi sebuah tempat lalu menyadari bahwa yang membuatnya berkesan bukan hanya bangunannya, makanan, atau pertunjukan di dalamnya, tetapi juga cerita panjang yang hidup di balik tempat tersebut?

Perasaan itulah yang menjadi salah satu titik awal lahirnya buku terbaru Ni Luh Made Dwi Indriati, atau yang akrab disapa Wiwiek. Lewat buku berjudul Badai dalam Tungku, Kisah Keteguhan Sampan Bujana Sentra, Wiwiek ingin mengabadikan perjalanan Sampan Bujana Sentra (SBS), sebuah ruang yang mempertemukan seni pertunjukan dan kuliner tradisional Indonesia.

Buku ini bukan hanya dokumentasi tentang sebuah tempat. Di dalamnya ada kisah mengenai mimpi yang dibangun, perjuangan yang harus dilewati, serta keteguhan untuk menjaga warisan budaya agar tetap memiliki ruang di tengah perubahan zaman.

Berawal dari Kenangan, Wiwiek Ingin Mengabadikan Perjalanan SBS

Gagasan menulis buku ini tumbuh dari pengalaman personal Wiwiek saat berada di dalam Sampan Bujana Sentra. Ketika duduk dan memandang sekeliling ruangan, ia kembali teringat pada berbagai kegiatan dan pengalaman yang pernah berlangsung di tempat tersebut.

Kenangan itu kemudian berkembang menjadi keinginan untuk merekam perjalanan SBS melalui tulisan. Baginya, ada cerita penting yang perlu didokumentasikan, terutama tentang salah satu karya terbaik almarhum Sampan Hismanto, pendiri Sampan Bujana Sentra.

“Keinginan saya adalah mendokumentasikan secara khusus salah satu karya terbaik almarhum Bapak Sampan Hismanto, yaitu Sampan Bujana Sentra. Saya ingin bercerita melalui buku,” ungkap Wiwiek.

Urbanvibes Ads banner Pullman Central Park Jakarta Hotel

Dari pengalaman dan kenangan tersebut, lahirlah Badai dalam Tungku, Kisah Keteguhan Sampan Bujana Sentra. Sebuah buku yang mengajak pembaca mengenal SBS bukan hanya dari apa yang terlihat, tetapi juga dari nilai dan perjuangan yang membuatnya tetap berarti.

Sampan Bujana Sentra, Tempat Seni dan Kuliner Nusantara Bertemu

Dalam sinopsis buku, Sampan Bujana Sentra digambarkan sebagai oasis budaya di Jakarta. Tempat ini menghadirkan pengalaman yang memadukan kelezatan masakan tradisional Nusantara dengan pertunjukan seni autentik.

Bayangkan menikmati hidangan khas Indonesia sambil menyaksikan gemulai tari daerah, mendengarkan alunan angklung, hingga lagu-lagu daerah. Kehangatan rempah-rempah dan kekayaan seni pertunjukan berpadu dalam satu ruang yang menawarkan pengalaman budaya melalui berbagai indra.

Konsep tersebut menunjukkan bahwa mengenalkan budaya tidak harus selalu melalui buku pelajaran atau ruang pamer. Kuliner dan pertunjukan seni juga dapat menjadi medium yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Namun, perjalanan SBS tidak berhenti pada pengalaman yang ditawarkan kepada pengunjung. Ada perjuangan panjang di balik keberadaannya, termasuk tantangan yang muncul setelah sang pendiri berpulang.

Di sinilah makna keteguhan dalam judul buku menjadi penting. Perjalanan yang telah dimulai oleh Sampan Hismanto perlu diteruskan oleh para penerusnya agar ruang yang mempertemukan seni dan kuliner tradisional ini tetap memiliki masa depan.

Ni Luh Made Dwi Indriati atau Wiwiek memegang buku terbarunya Badai Dalam Tungku
Ni Luh Made Dwi Indriati atau Wiwiek memegang buku terbarunya Badai Dalam Tungku

Bukan Perjalanan Tanpa Badai, Ada Komitmen untuk Melanjutkan Mimpi

Mempertahankan sebuah ruang budaya tentu bukan perkara sederhana. Perubahan situasi dan dinamika internal dapat menghadirkan tantangan yang menguji keberlangsungan sebuah gagasan.

Wiwiek sendiri merasakan tantangan dalam proses menyelesaikan buku ini. Kondisi dan situasi internal yang berubah dengan cepat sempat menguji komitmennya untuk menuntaskan penulisan.

Pengalaman tersebut justru memiliki keterkaitan dengan pesan yang ingin disampaikan melalui buku ini: sebuah mimpi membutuhkan keberanian untuk dimulai, tetapi juga komitmen agar bisa terus berjalan.

“Menurut saya, setiap mimpi yang baik perlu dimulai dari satu langkah kecil. Kita tidak harus menunggu semuanya sempurna untuk mulai melangkah. Yang terpenting adalah memiliki keberanian untuk memulai dan menjaga komitmen agar apa yang kita impikan bisa diwujudkan,” ungkap Wiwiek.

Pesan itu terasa relevan, bukan hanya bagi mereka yang sedang membangun sesuatu, tetapi juga bagi siapa pun yang pernah memiliki keinginan untuk mewujudkan sebuah gagasan. Sebab, memulai mungkin membutuhkan keberanian, sementara mempertahankannya membutuhkan keteguhan.

Baca juga:

Buku Baru Wiwiek, Melanjutkan Cerita Lewat Dunia Literasi

Badai dalam Tungku, Kisah Keteguhan Sampan Bujana Sentra juga menjadi bagian dari perjalanan Wiwiek dalam dunia literasi.

Sebelumnya, ia telah menerbitkan novel Wirasa Ayuri dan buku Sampan Hismanto Sang Maestro Tari, Panggungnya Tak Pernah Habis. Melalui karya terbarunya, Wiwiek kembali menjadikan tulisan sebagai medium untuk merekam pengalaman, menyampaikan cerita, dan menjaga ingatan tentang sosok maupun tempat yang memiliki arti penting.

Kali ini, cerita yang dibawa berpusat pada Sampan Bujana Sentra dan semangat di balik keberadaannya. Wiwiek berharap bukunya dapat menarik minat masyarakat untuk mengenal SBS lebih dekat.

Buku Badai dalam Tungku, Kisah Keteguhan Sampan Bujana Sentra karya Ni Luh Made Dwi Indriati
Buku Badai dalam Tungku, Kisah Keteguhan Sampan Bujana Sentra karya Ni Luh Made Dwi Indriati

Ia juga memiliki harapan agar SBS dapat berkembang sebagai destinasi wisata budaya sekaligus ruang bagi para pelaku seni untuk berkarya dan membangun karier.

“Saya ingin masyarakat mengetahui bahwa tempat seperti Sampan Bujana Sentra perlu ada untuk memperkenalkan dan melestarikan seni serta budaya Indonesia. Saya juga berharap SBS dapat dikenal sebagai destinasi wisata sekaligus tempat bagi para pelaku seni untuk berkarya dan membangun karier,” tambahnya.

Badai dalam Tungku Diluncurkan 28 November 2026

Buat Urbie’s yang tertarik mengikuti perjalanan Sampan Bujana Sentra melalui buku ini, Badai dalam Tungku, Kisah Keteguhan Sampan Bujana Sentra dijadwalkan meluncur pada 28 November 2026.

Acara peluncuran akan berlangsung di Galeri Seni Sampan Bujana Sentra, Jalan Cik Ditiro II No. 1, RT 1/RW 2, Gondangdia, Menteng, Jakarta Pusat 10350.

Bagi yang ingin memiliki buku tersebut, pemesanan dapat dilakukan melalui WhatsApp di nomor 0818811037 atau dengan mengirimkan pesan langsung ke akun Instagram @wiwiekmade.

Pada akhirnya, Badai dalam Tungku, Kisah Keteguhan Sampan Bujana Sentra membawa cerita yang lebih luas daripada perjalanan sebuah tempat. Buku ini merekam mimpi yang pernah dibangun, kenangan yang ingin dijaga, dan komitmen untuk meneruskan perjuangan.

Sebab, melestarikan budaya bukan hanya tentang mengingat apa yang pernah ada. Lebih dari itu, dibutuhkan orang-orang yang bersedia menjaga dan memberi ruang agar seni serta tradisi Indonesia tetap hidup untuk generasi berikutnya.