Hi Urbie's! Bayangkan suatu pagi listrik tiba-tiba padam, jaringan internet terganggu, air bersih sulit diperoleh, sementara akses jalan di sekitar rumah terputus akibat banjir. Dalam situasi seperti itu, apakah persediaan di rumah cukup untuk membuat keluarga bertahan selama beberapa hari?
Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi penting untuk dipikirkan sejak sekarang. Di sejumlah negara, masyarakat didorong untuk menyiapkan emergency kit atau perlengkapan darurat sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi bencana dan gangguan layanan publik.
Jepang, misalnya, menganjurkan setiap keluarga menyimpan persediaan air dan makanan minimal untuk tiga hari, bahkan idealnya satu minggu. Pemerintah Inggris melalui kampanye kesiapsiagaan daruratnya juga mengajak masyarakat menyiapkan kebutuhan rumah tangga untuk menghadapi gangguan selama beberapa hari, seperti pemadaman listrik dan terhentinya pasokan air.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Sebagai negara yang menghadapi beragam risiko bencana, kesiapan memiliki persediaan darurat seharusnya bukan hanya menjadi perhatian pemerintah atau relawan, tetapi juga setiap rumah tangga.
Mengapa Emergency Kit Penting untuk Masyarakat Indonesia?
Indonesia menghadapi berbagai potensi bencana, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor, hingga erupsi gunung api. Dampaknya tidak selalu berhenti pada kerusakan bangunan atau korban jiwa. Bencana juga bisa mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk distribusi makanan, pasokan air bersih, listrik, komunikasi, dan akses transportasi.
Dalam situasi tertentu, masyarakat mungkin harus bertahan di rumah karena kondisi lingkungan belum memungkinkan untuk bepergian. Sebaliknya, ada pula keadaan ketika warga perlu segera meninggalkan tempat tinggal untuk mencari lokasi yang lebih aman.

Artinya, kebutuhan darurat tidak hanya berkaitan dengan makanan dan minuman. Keluarga juga perlu memikirkan obat-obatan, penerangan, alat komunikasi, dokumen penting, hingga perlengkapan kebersihan.
BNPB sebenarnya telah memperkenalkan konsep Tas Siaga Bencana (TSB), yaitu tas tahan air yang disiapkan anggota keluarga untuk membantu bertahan ketika bantuan belum tersedia dan memudahkan proses evakuasi menuju tempat aman.
Apa Saja yang Perlu Disiapkan dalam Emergency Kit?
Tidak perlu langsung membeli perlengkapan mahal atau memenuhi rumah dengan barang khusus. Prinsipnya adalah menyediakan kebutuhan dasar yang bisa digunakan ketika akses terhadap fasilitas sehari-hari terganggu.
1. Air Minum dan Makanan Tahan Lama
Air menjadi kebutuhan paling mendasar. Pemerintah Jepang menggunakan patokan sekitar tiga liter air per orang per hari untuk persediaan rumah tangga. Dengan acuan tersebut, satu orang membutuhkan sekitar sembilan liter untuk tiga hari.
Untuk makanan, pilih bahan yang tahan lama dan mudah dikonsumsi, seperti makanan kaleng, biskuit, abon, makanan siap santap, mi instan, atau makanan kering. Sesuaikan pilihan dengan kebutuhan anggota keluarga, termasuk bayi, lansia, dan orang yang memiliki pantangan makanan.
2. Obat-obatan dan Perlengkapan P3K
Siapkan kotak pertolongan pertama yang berisi plester, kasa steril, perban, antiseptik, dan perlengkapan dasar lainnya. Jangan lupa obat pribadi, terutama bagi anggota keluarga yang membutuhkan pengobatan rutin.
Jika ada anggota keluarga yang menggunakan alat bantu medis, pertimbangkan kebutuhan listrik cadangan atau baterai sesuai perangkatnya. Kebutuhan khusus seperti susu formula, popok, pembalut, dan perlengkapan lansia juga perlu masuk dalam perencanaan.
3. Penerangan dan Komunikasi
Senter, baterai cadangan, power bank, kabel pengisi daya, serta radio portabel bisa membantu ketika listrik dan jaringan komunikasi terganggu.
Simpan nomor penting dalam bentuk tertulis, bukan hanya di ponsel. Ketika baterai habis atau perangkat rusak, keluarga tetap memiliki akses terhadap informasi kontak yang dibutuhkan.
Baca juga:
- Gempa M 7,1 Guncang Jepang, Mal Meledak dan Ratusan Ribu Warga Mengungsi
- Lebaran di Ladang Minyak: Kisah Para Pekerja Hulu Migas yang Mengabdi Tanpa Libur
4. Dokumen Penting dan Uang Tunai
Salinan KTP, kartu keluarga, dokumen asuransi, surat kendaraan, serta dokumen penting lainnya sebaiknya disimpan dalam wadah tahan air.
Uang tunai juga perlu disiapkan secukupnya. Dalam kondisi darurat, transaksi digital belum tentu dapat digunakan jika jaringan internet atau listrik terganggu.
5. Pakaian dan Perlengkapan Kebersihan
Siapkan pakaian ganti, pakaian dalam, jas hujan, handuk, masker, sabun, tisu basah, hand sanitizer, dan perlengkapan kebersihan pribadi.
Jangan lupakan kantong sampah dan perlengkapan sanitasi sederhana. Ketika air bersih terbatas, menjaga kebersihan menjadi bagian penting untuk mengurangi risiko masalah kesehatan.
Bedakan Tas Evakuasi dan Persediaan di Rumah
Satu hal yang sering terlewat adalah menganggap semua perlengkapan darurat harus dimasukkan ke dalam satu tas. Padahal, kebutuhan untuk mengungsi berbeda dengan kebutuhan bertahan di rumah.
Tas evakuasi atau go bag berisi barang penting yang mudah dibawa ketika keluarga harus meninggalkan rumah. Isinya perlu ringkas, tidak terlalu berat, dan dapat dijangkau dengan cepat.
Sementara itu, persediaan rumah tangga digunakan ketika keluarga masih bisa berlindung di rumah, tetapi akses terhadap listrik, air, atau pasokan kebutuhan sehari-hari terganggu.
Jepang menganjurkan persediaan rumah tangga minimal tiga hari dan idealnya satu minggu. Kementerian Pertanian Jepang juga mendorong metode rolling stock, yakni membeli kebutuhan sehari-hari sedikit lebih banyak, mengonsumsi barang yang lebih dulu disimpan, kemudian menggantinya.
Jangan Menunggu Bencana untuk Mulai Bersiap
Membangun persediaan darurat tidak harus dilakukan sekaligus. Keluarga bisa memulainya dengan memeriksa isi lemari, memastikan obat-obatan tersedia, menyimpan air minum, dan menambahkan makanan tahan lama saat berbelanja rutin.
Setelah itu, tentukan titik berkumpul keluarga jika terpisah, jalur evakuasi, serta orang yang bisa dihubungi ketika terjadi keadaan darurat. Periksa kembali isi tas dan persediaan secara berkala agar makanan, obat, dan baterai tidak kedaluwarsa atau kehabisan daya.
Yang tidak kalah penting, periksa peta risiko bencana di wilayah tempat tinggal. Keluarga yang tinggal di kawasan rawan banjir tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan mereka yang berada di sekitar pesisir atau wilayah rawan gempa. Ikuti informasi resmi BNPB, BPBD, BMKG, dan pemerintah daerah sesuai jenis ancamannya.
Bagi Urbie's!, memiliki emergency kit bukan berarti harus hidup dalam ketakutan atau menunggu bencana datang. Justru, persiapan sederhana bisa membantu keluarga mengambil keputusan lebih tenang ketika keadaan tidak berjalan seperti biasanya.
Kita tidak selalu bisa menentukan kapan bencana terjadi. Namun, kita bisa mulai menentukan seberapa siap keluarga menghadapinya. Karena dalam situasi darurat, persediaan kecil yang disiapkan hari ini bisa menjadi kebutuhan besar yang dicari esok hari.




