Hi Urbie’s! Belakangan ini, keluar rumah sebentar saja rasanya seperti sedang berdiri di depan oven raksasa. Cuaca panas yang melanda sejumlah wilayah Indonesia ternyata bukan sekadar perasaan, karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat suhu maksimum harian telah mencapai 37 derajat Celsius.

Salah satu wilayah yang mencatat suhu tersebut adalah Maros, Sulawesi Selatan, sementara sejumlah daerah di Kalimantan, Jawa Tengah, hingga Jawa Barat mengalami suhu sekitar 36,4–36,6 derajat Celsius. Kondisi ini membuat masyarakat perlu lebih memperhatikan aktivitas di luar ruangan, terutama ketika paparan sinar matahari sedang tinggi.

Maros Tembus 37 Derajat, Sejumlah Daerah Ikut Terpanggang

Urbie’s, suhu 37 derajat Celsius bukan angka yang bisa dianggap sepele ketika kamu harus beraktivitas di luar ruangan selama berjam-jam. Apalagi, panas yang terasa dapat semakin mengganggu ketika tubuh terus bergerak, berkeringat, dan tidak mendapatkan asupan cairan yang cukup.

Berdasarkan laporan BMKG, suhu tinggi tidak hanya terjadi di Sulawesi Selatan, tetapi juga terpantau di sejumlah wilayah Kalimantan dan Pulau Jawa. Catatan tersebut menunjukkan bahwa kondisi panas menjangkau berbagai daerah dengan karakter geografis yang berbeda.

Dalam laporan cuaca untuk periode 25 September hingga 1 Oktober 2026, BMKG juga menyebut suhu maksimum telah melampaui 37 derajat Celsius di sejumlah wilayah pada 20–23 September. Wilayah yang tercatat mengalami kondisi tersebut meliputi Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, Lampung, dan Sulawesi Tenggara.

Kenapa Indonesia Terasa Seperti Oven Raksasa?

Ternyata, ada penjelasan meteorologis di balik cuaca yang membuat banyak orang merasa gerah sejak pagi. Minimnya tutupan awan selama musim kemarau memungkinkan lebih banyak radiasi matahari mencapai permukaan bumi sehingga pemanasan berlangsung lebih intensif.

Urbanvibes article banner

Kondisi tersebut turut dipengaruhi gerak semu tahunan matahari yang mengubah posisi penyinaran matahari terhadap wilayah Indonesia sepanjang tahun. Kombinasi faktor-faktor ini dapat menyebabkan suhu udara meningkat, terutama ketika langit cerah dan pembentukan awan hujan relatif terbatas.

BMKG menjelaskan bahwa kondisi atmosfer kering masih berlangsung di berbagai wilayah Indonesia menjelang akhir September 2026. Bahkan, sejumlah daerah di Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sumatera, dan Kalimantan telah mengalami periode panjang tanpa hujan.

Baca juga:

Jangan Tunggu Haus, Dehidrasi Bisa Datang Diam-Diam

Cuaca panas bukan hanya membuat tubuh berkeringat atau pakaian terasa tidak nyaman, tetapi juga dapat meningkatkan risiko kehilangan cairan. Ketika tubuh mengeluarkan banyak keringat tanpa mendapatkan penggantian cairan yang cukup, dehidrasi dapat terjadi.

Gejala awalnya bisa berupa rasa haus berlebihan, mulut kering, sakit kepala, kelelahan, hingga urine yang berwarna lebih pekat. Apabila kondisi tersebut diabaikan dan tubuh terus terpapar panas, risiko gangguan kesehatan akibat suhu tinggi dapat meningkat.

BMKG mengimbau masyarakat untuk rutin mengonsumsi air putih, terutama ketika beraktivitas di luar ruangan pada siang hari. Membawa botol minum sendiri bisa menjadi kebiasaan sederhana agar kebutuhan cairan tetap terpenuhi sepanjang hari.

Sunscreen, Payung, dan Topi Bukan Sekadar Aksesori

Selain menjaga tubuh tetap terhidrasi, perlindungan dari paparan sinar matahari juga menjadi perhatian penting selama cuaca panas. Menggunakan payung, topi, dan tabir surya dapat membantu mengurangi paparan langsung ketika kamu harus berada di luar ruangan.

Buat Urbie’s yang setiap hari menggunakan transportasi umum atau berjalan kaki menuju tempat kerja, perlindungan tersebut sebaiknya menjadi bagian dari rutinitas. Usahakan pula mencari tempat teduh dan mengurangi aktivitas fisik berat ketika matahari sedang terik.

Perlu diingat bahwa suhu udara dan indeks ultraviolet merupakan dua indikator yang berbeda, sehingga cuaca yang tidak terlalu panas sekalipun tetap bisa memiliki paparan UV tinggi. Karena itu, penggunaan tabir surya sebaiknya tidak hanya dilakukan ketika udara terasa menyengat.

Cuaca Panas Juga Meningkatkan Risiko Kebakaran

Dampak kondisi panas dan kering ternyata tidak berhenti pada kesehatan manusia, tetapi juga berkaitan dengan meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan. BMKG mengingatkan bahwa suhu tinggi, kelembapan yang relatif rendah, dan minimnya hujan dapat mempercepat pengeringan vegetasi.

Berdasarkan pemantauan satelit pada 24 September 2026, titik panas dengan tingkat kepercayaan tinggi masih ditemukan di sejumlah wilayah Indonesia. Kalimantan menjadi salah satu kawasan yang memerlukan perhatian karena tingginya jumlah titik panas dan terpantau adanya sebaran asap.

Masyarakat juga diimbau tidak membakar sampah atau membuka lahan dengan api selama kondisi kering masih berlangsung. Langkah pencegahan tersebut penting untuk mengurangi risiko kebakaran yang dapat memperburuk kualitas udara dan mengganggu kesehatan masyarakat.

Sampai Kapan Cuaca Panas Ini Berlangsung?

BMKG memperkirakan kondisi kering masih mendominasi sejumlah wilayah Indonesia hingga awal Oktober 2026, meskipun hujan tetap berpotensi terjadi secara lokal. Artinya, masyarakat perlu bersiap menghadapi perubahan cuaca, termasuk kemungkinan suhu tinggi pada siang hari dan hujan di wilayah tertentu.

Untuk mengetahui kondisi terbaru di daerah masing-masing, masyarakat dapat memantau prakiraan cuaca dan peringatan dini melalui situs resmi BMKG atau aplikasi InfoBMKG. Informasi tersebut dapat membantu kamu menentukan waktu yang lebih aman untuk beraktivitas di luar ruangan.

Jadi, Urbie’s, jangan sampai kesibukan membuat kamu lupa minum air putih atau mengabaikan perlindungan dari sinar matahari. Ketika suhu udara sudah menyentuh 37 derajat Celsius, menjaga tubuh tetap terhidrasi dan mengurangi paparan panas bukan lagi sekadar urusan kenyamanan, melainkan bagian penting dari menjaga kesehatan.