Hi Urbie's! Buat sebagian orang, mendapatkan air bersih mungkin semudah memutar keran di rumah. Namun, bagi ratusan keluarga di Jepara dan Grobogan, Jawa Tengah, air justru menjadi sesuatu yang harus diperjuangkan setiap hari di tengah kemarau panjang.
Sejak pertengahan 2026, warga di sejumlah wilayah mulai menghadapi krisis air yang kian menyulitkan aktivitas sehari-hari. Merespons kondisi tersebut, Dompet Dhuafa Jawa Tengah menyalurkan total 42.000 liter air bersih melalui program Air untuk Kehidupan untuk membantu 426 kepala keluarga (KK) yang terdampak kekeringan.
Bantuan yang disalurkan pada Oktober 2026 ini bukan sekadar soal memenuhi kebutuhan air untuk memasak atau minum. Bagi warga yang sumber airnya mengering, setiap liter air juga berarti kesempatan untuk menjaga kebersihan, kesehatan, dan keberlangsungan aktivitas keluarga.
Warga Jepara Harus Mengambil Air hingga ke Desa Tetangga
Di Desa Karangaji, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara, kekeringan mulai dirasakan sejak Agustus 2026 dan semakin parah pada September hingga Oktober. Kondisi tersebut membuat warga kesulitan memperoleh air bersih, terlebih ketika aliran PAM desa tidak lagi tersedia selama musim kemarau.
Sebelum bantuan datang, sebagian warga terpaksa mengangsu air dari desa tetangga untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Situasi ini menunjukkan bagaimana persoalan air bersih dapat mengubah rutinitas sederhana menjadi pekerjaan tambahan yang menguras waktu dan tenaga.
Melalui program Air untuk Kehidupan, Dompet Dhuafa Jawa Tengah menyalurkan 24.000 liter air bersih untuk membantu 170 KK di Desa Karangaji. Kehadiran bantuan ini disambut dengan rasa syukur oleh masyarakat yang selama beberapa bulan harus menghadapi keterbatasan akses air.

Meski begitu, kebutuhan air belum sepenuhnya selesai. Warga masih berharap bantuan serupa dapat terus hadir hingga hujan kembali turun dan sumber air mulai pulih.
Baca juga:
- 29.000 Langkah untuk Kebaikan: Cara Super Indo Rayakan Ulang Tahun ke-29
- Kongres Kemandirian Dompet Dhuafa 2026 Dorong Kemandirian Bangsa
Warga Grobogan Mengandalkan Sisa Air Sungai
Situasi yang tidak kalah memprihatinkan terjadi di Desa Monggot, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan. Warga di wilayah ini telah merasakan dampak kekeringan sejak Juli 2026, dengan kondisi yang semakin berat ketika puncak kemarau tiba pada September.
Ketika sumber air semakin terbatas, warga mengandalkan sisa air sungai dengan menggali lubang-lubang kecil untuk mendapatkan air. Cara tersebut menggambarkan betapa sulitnya akses terhadap kebutuhan dasar ketika musim kemarau berlangsung berkepanjangan.
Untuk membantu masyarakat, Dompet Dhuafa Jawa Tengah menyalurkan 18.000 liter air bersih bagi 256 KK di Desa Monggot. Bantuan ini diharapkan dapat meringankan beban warga sekaligus membantu memenuhi kebutuhan dasar mereka selama krisis air berlangsung.
Jika dihitung secara keseluruhan, penyaluran di Jepara dan Grobogan menjangkau 426 KK dengan total 42.000 liter air bersih. Namun, di balik angka tersebut, ada keluarga-keluarga yang masih membutuhkan dukungan agar dapat melewati musim kemarau dengan lebih baik.

Dompet Dhuafa Ajak Masyarakat Ikut Bergerak
Pimpinan Cabang Dompet Dhuafa Jawa Tengah, Zaini Tafrikhan, menegaskan bahwa pihaknya akan terus memberikan perhatian kepada masyarakat yang terdampak kekeringan, terutama melalui bantuan air bersih.
“Bagi sebagian dari kita, air mungkin mudah didapatkan. Namun, bagi saudara-saudara kita yang terdampak kekeringan, mendapatkan air bersih menjadi perjuangan setiap hari,” ungkap Zaini.
Melalui program Air untuk Kehidupan, Dompet Dhuafa Jawa Tengah ingin terus hadir membantu masyarakat yang menghadapi keterbatasan akses air bersih. Zaini juga mengajak masyarakat untuk ikut berkontribusi, karena kepedulian sekecil apa pun dapat menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan.
Ajakan tersebut menjadi pengingat bahwa krisis air bukan hanya persoalan warga di wilayah terdampak. Dukungan dari berbagai pihak dibutuhkan agar bantuan dapat menjangkau lebih banyak keluarga yang menghadapi situasi serupa.
Air Bersih Bukan Sekadar Kebutuhan, tetapi Hak untuk Hidup Layak
Urbie’s!, air bersih sering kali baru terasa begitu berharga ketika kita kesulitan mendapatkannya. Padahal, ketersediaan air berkaitan erat dengan kebutuhan paling mendasar, mulai dari minum, menyiapkan makanan, menjaga kebersihan tubuh, hingga memastikan lingkungan keluarga tetap sehat.
Kemarau panjang di Jepara dan Grobogan memperlihatkan bahwa akses terhadap air bersih masih menjadi tantangan nyata bagi sebagian masyarakat. Bantuan 42.000 liter air dari Dompet Dhuafa Jawa Tengah menjadi langkah penting untuk meringankan kondisi tersebut, meski keberlanjutan dukungan tetap dibutuhkan selama sumber air belum pulih.
Melalui program Air untuk Kehidupan, masyarakat dapat turut mengambil bagian dalam upaya membantu warga yang mengalami krisis air. Donasi yang disalurkan melalui Dompet Dhuafa Jawa Tengah diharapkan dapat mendukung penyaluran air bersih bagi lebih banyak keluarga yang membutuhkan.
Karena ketika air menjadi sesuatu yang sulit didapatkan, kepedulian bukan lagi sekadar tindakan baik. Kepedulian bisa menjadi jalan bagi sebuah keluarga untuk kembali memenuhi kebutuhan hariannya dengan lebih layak.




