Hi Urbie’s! Bayangkan busana adat yang biasanya menjadi simbol kebanggaan budaya, kini dikenakan di tengah lahan yang hangus terbakar. Pemandangan yang kontras ini bukan sekadar eksperimen visual, melainkan cara sejumlah seniman menyuarakan keresahan terhadap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta ancaman kabut asap yang menyelimuti sejumlah wilayah di Sumatera.

Lewat karya visual yang mempertemukan keindahan busana tradisional dengan lanskap lingkungan yang rusak, para seniman mengajak masyarakat melihat karhutla dari perspektif yang lebih dekat dengan kehidupan manusia. Bukan cuma soal pepohonan yang terbakar, tetapi juga tentang ruang hidup yang terancam, masyarakat yang terpapar asap, dan hak setiap orang untuk menghirup udara bersih.

Keresahan tersebut turut disuarakan melalui “Parade Asap”, sebuah ruang kolektif yang mengajak publik membicarakan persoalan karhutla lewat seni, diskusi, dan berbagai bentuk ekspresi kreatif. Dengan pertanyaan “Siapa yang membakar? Siapa yang terpapar?”, inisiatif ini mengajak masyarakat menelusuri persoalan di balik kebakaran sekaligus memperhatikan siapa yang harus menanggung dampaknya.

Busana Adat di Lahan Terbakar, Ketika Identitas Budaya Bertemu Krisis Lingkungan

Busana adat memiliki makna yang jauh melampaui penampilan. Di dalamnya terdapat identitas, sejarah, nilai, serta hubungan masyarakat dengan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Namun, ketika busana tradisional dihadirkan di tengah lahan yang hangus terbakar, muncul kontras yang sulit diabaikan. Simbol kebanggaan budaya tersebut berdiri berdampingan dengan gambaran kerusakan lingkungan yang mengancam keberlangsungan kehidupan.

Visual ini mengajak kita mempertanyakan hubungan antara pelestarian budaya dan perlindungan alam. Sebab, tradisi tidak hidup di ruang kosong, melainkan tumbuh bersama masyarakat, wilayah, dan lingkungan yang menjadi bagian dari keseharian mereka.

Urbanvibes article banner

Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada hutan dan lahan, kerusakan lingkungan dapat membawa konsekuensi yang jauh lebih luas daripada hilangnya pepohonan. Sumber penghidupan, kenyamanan tempat tinggal, hingga keberlanjutan praktik budaya lokal juga berpotensi terdampak.

Melalui pendekatan artistik tersebut, karhutla tidak hanya ditampilkan sebagai peristiwa ekologis, tetapi juga sebagai persoalan sosial yang membutuhkan perhatian bersama.

Parade Asap Foto seniman Suarakan Krisis Karhutla Sumatera sumber foto Instagram/ichalago
Parade Asap Foto seniman Suarakan Krisis Karhutla Sumatera sumber foto Instagram/ichalago

Kenalan dengan Seniman di Balik “Parade Asap”

Keresahan terhadap karhutla ini melibatkan sejumlah akun seniman dan kreator yang turut berpartisipasi dalam penyampaian pesan melalui karya visual. Nama-nama yang disebut dalam inisiatif ini adalah Ichalago, @menjaga.api, @trialfiaaa_, dan @sumekocreates.

Keterlibatan para kreator tersebut memperlihatkan bagaimana seni visual dapat menjadi medium untuk membawa isu lingkungan ke ruang percakapan publik. Melalui pendekatan yang menggabungkan unsur budaya dan gambaran kerusakan alam, pesan mengenai karhutla disampaikan lewat pengalaman visual yang lebih mudah menarik perhatian.

Perpaduan busana adat dengan latar lahan terbakar juga menghadirkan cara bercerita yang berbeda dari dokumentasi kebakaran pada umumnya. Alih-alih hanya menunjukkan kondisi lahan, karya ini mengajak audiens memikirkan hubungan antara kerusakan lingkungan, identitas masyarakat, dan kehidupan yang berlangsung di sekitarnya.

Urbie’s, pendekatan seperti ini menjadi menarik karena seni tidak selalu harus memberikan jawaban secara langsung. Terkadang, sebuah gambar justru mampu memunculkan pertanyaan yang membuat kita berhenti sejenak dan melihat persoalan dari sudut pandang berbeda.

“Siapa yang Membakar? Siapa yang Terpapar?”

Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pesan utama yang dibawa “Parade Asap”. Kalimatnya singkat, tetapi mengarahkan perhatian pada dua persoalan penting: penyebab kebakaran dan pihak-pihak yang merasakan dampaknya.

Dalam membicarakan karhutla, penelusuran penyebab kebakaran dan pertanggungjawaban harus didasarkan pada bukti yang dapat diverifikasi. Namun, di luar persoalan mengenai sumber api, ada pula pertanyaan tentang masyarakat yang harus menghadapi konsekuensi ketika asap menyebar ke permukiman dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Baca juga:

Paparan asap kebakaran dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan. Anak-anak, lansia, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu dapat membutuhkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.

Dampaknya juga bisa menjalar ke kehidupan sehari-hari, mulai dari aktivitas luar ruang yang terganggu hingga kebutuhan untuk membatasi paparan asap. Dengan kata lain, persoalan karhutla tidak berakhir ketika api berhasil dipadamkan.

Melalui pertanyaan “Siapa yang terpapar?”, publik diajak melihat bahwa dampak kebakaran tidak selalu berhenti di lokasi kejadian. Asap dapat melintasi batas wilayah dan membuat masyarakat yang tidak berada dekat titik kebakaran ikut merasakan akibatnya.

“Parade Asap” Buka Ruang Diskusi Lewat Seni dan Kreativitas

“Parade Asap” tidak hanya menghadirkan karya visual, tetapi juga dirancang sebagai ruang kolektif untuk membicarakan karhutla melalui beragam kegiatan. Rangkaian aktivitas yang disebutkan mencakup diskusi publik, pemutaran video art, pameran, mimbar bebas, hingga zine.

Setiap medium menawarkan cara berbeda untuk menyampaikan gagasan. Diskusi publik membuka ruang pertukaran perspektif, sementara pemutaran video art dan pameran memungkinkan audiens merespons persoalan lingkungan melalui gambar, dokumentasi, dan ekspresi artistik.

Mimbar bebas memberikan ruang untuk menyampaikan pendapat, sedangkan zine dapat menjadi medium alternatif untuk merangkum gagasan dan menyebarkan informasi. Berbagai pendekatan tersebut memperluas pembicaraan mengenai karhutla agar tidak hanya berlangsung dalam pemberitaan atau percakapan di media sosial.

Kehadiran ruang kolektif seperti ini juga memperlihatkan potensi kolaborasi antara seni dan isu lingkungan. Kreativitas digunakan bukan sekadar untuk menghasilkan karya, tetapi juga untuk membuka percakapan mengenai persoalan yang berdampak pada masyarakat.

Hak Menghirup Udara Bersih Tidak Boleh Terlupakan

Urbie’s, ada satu hal yang perlu diingat ketika membicarakan karhutla: di balik setiap lanskap yang hangus, terdapat kehidupan yang berpotensi ikut terdampak. Kerusakan hutan dan lahan bukan hanya persoalan perubahan kondisi alam, tetapi juga berkaitan dengan keselamatan, kesehatan, dan kualitas hidup manusia.

Melalui “Parade Asap”, para seniman membawa isu tersebut ke dalam ruang seni dan percakapan publik. Karya visual mereka menjadi pengingat bahwa perlindungan lingkungan perlu berjalan bersama perhatian terhadap masyarakat yang hidup di tengah dampaknya.

Tentu, seni tidak dapat menggantikan upaya pencegahan kebakaran, pemulihan lingkungan, pemantauan kualitas udara, ataupun penegakan hukum. Namun, karya kreatif dapat membantu menjaga perhatian masyarakat dan mendorong diskusi yang lebih luas mengenai tanggung jawab serta perlindungan lingkungan.

Pada akhirnya, “Parade Asap” mengajak kita melihat bahwa persoalan karhutla tidak cukup dipahami melalui luas lahan yang terbakar atau jumlah titik api. Ada masyarakat yang membutuhkan lingkungan aman, ada tradisi yang tumbuh bersama alam, dan ada hak mendasar yang harus dijaga: kesempatan untuk menghirup udara bersih.

Sebab, ketika hutan terbakar, yang dipertaruhkan bukan hanya pepohonan. Ada ruang hidup, identitas budaya, dan kualitas hidup manusia yang juga membutuhkan perlindungan.