Hi Urbie’s! Nama Park Jin Young biasanya identik dengan dunia K-pop, deretan idol populer, dan kesuksesan JYP Entertainment. Namun, kali ini pendiri JYP tersebut menjadi sorotan bukan karena comeback artis atau debut grup baru, melainkan karena harus menjelaskan proyek festival K-pop yang didukung pemerintah Korea Selatan di hadapan anggota parlemen.
Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung menyampaikan penyesalan karena Park dinilai belum mendapatkan penghargaan yang semestinya atas kontribusinya dalam mempromosikan budaya Korea. Pernyataan tersebut muncul menjelang Park menghadiri pemeriksaan parlemen terkait FANOMENON, proyek festival berskala besar yang memunculkan pertanyaan tentang hak merek, dukungan pemerintah, dan dugaan perlakuan khusus kepada perusahaan hiburan besar.
Park Jin Young Hadapi Parlemen Bukan untuk Bahas Comeback Idol
Pada 7 Oktober 2026, Park Jin Young hadir secara sukarela sebagai saksi dalam audit parlemen terhadap Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata Korea Selatan. Kehadirannya menjadi salah satu sorotan utama karena anggota parlemen ingin mendapatkan penjelasan langsung mengenai proses pengembangan FANOMENON dan keterlibatan JYP Entertainment di dalamnya.
FANOMENON dirancang sebagai festival K-pop dan proyek budaya berskala global yang melibatkan pemerintah serta empat perusahaan hiburan besar Korea Selatan, yakni HYBE, SM Entertainment, JYP Entertainment, dan YG Entertainment. Acara tersebut dijadwalkan berlangsung selama 11 hari pada Desember 2027, dengan target lebih dari 500.000 pengunjung dan perkiraan dampak ekonomi yang mendekati 1 triliun won.
Skala proyek yang besar membuat FANOMENON tidak sekadar dipandang sebagai festival musik. Ketika pemerintah ikut mendukung sebuah proyek yang melibatkan perusahaan swasta, publik tentu ingin mengetahui bagaimana pembagian tanggung jawab, pengelolaan hak, dan mekanisme kerja sama dilakukan.
Presiden Lee Jae Myung Sampaikan Penyesalan kepada Park
Sebelum Park menghadapi pemeriksaan parlemen, Presiden Lee Jae Myung memberikan dukungan secara terbuka terhadap kontribusinya dalam mempromosikan budaya populer Korea. Lee menyatakan penyesalannya karena Park belum menerima penghargaan yang semestinya, sembari menegaskan bahwa dedikasinya untuk budaya Korea akan dikenang.

Pernyataan tersebut memberi dimensi lain pada polemik FANOMENON. Di satu sisi, Park mendapatkan pengakuan atas upayanya memperluas pengaruh budaya Korea; di sisi lain, proyek yang ia bantu dorong tetap harus menjawab pertanyaan mengenai transparansi dan tata kelola.
Dua hal itu sebenarnya tidak harus saling meniadakan. Kontribusi seseorang terhadap industri budaya dapat diapresiasi, sementara keputusan bisnis dan administrasi yang berkaitan dengan proyek publik tetap perlu diperiksa secara terbuka.
Kontroversi Hak Merek FANOMENON yang Memicu Pertanyaan
Salah satu isu utama dalam pemeriksaan tersebut adalah keputusan JYP Entertainment untuk mengajukan pendaftaran merek FANOMENON atas nama perusahaan. Langkah itu menimbulkan pertanyaan karena festival tersebut merupakan proyek yang melibatkan pemerintah dan sejumlah perusahaan hiburan besar, bukan semata-mata acara milik JYP.
Park menjelaskan bahwa pengajuan lebih awal dilakukan untuk mengamankan nama festival agar tidak didaftarkan pihak lain terlebih dahulu. Ia juga mengakui bahwa prosedur pengajuan merek atas nama JYP memiliki aspek yang tidak semestinya dan menegaskan bahwa hak tersebut tidak dimaksudkan untuk menjadi keuntungan permanen bagi perusahaannya.
Baca juga:
- Zayyan XODIAC Bikin Seoul Ikut Bergoyang, Tampil Pakai Batik di Festival Indonesia
- Tiffany Young Girls’ Generation Bikin Heboh Gara-Gara Pizza Hut! Komentar PHD Indonesia Malah Jadi Hiburan Netizen
Menurut penjelasan komite terkait, hak merek domestik akan dikelola melalui mekanisme bersama, sedangkan hak di luar negeri direncanakan dialihkan kepada badan khusus yang akan menjalankan festival. Namun, pengaturan hak merek dan proses pengalihannya tetap menjadi bagian penting dari pengawasan terhadap proyek tersebut.
Park juga membantah tudingan bahwa FANOMENON memberikan perlakuan istimewa kepada perusahaan hiburan besar. Ia menyatakan bahwa perusahaan-perusahaan yang terlibat justru mengerahkan sumber daya untuk proyek yang menurutnya berpotensi memberi dampak lebih luas bagi industri budaya Korea.
Uang Operasional Bulanan Juga Ikut Dipertanyakan
Selain hak merek, sorotan lain tertuju pada biaya operasional yang diterima Park dalam kapasitasnya sebagai salah satu ketua Komite Pertukaran Budaya Populer. Park sebelumnya menyatakan kesediaan menjalankan tugas tanpa bayaran, sehingga muncul pertanyaan ketika diketahui terdapat biaya operasional bulanan sekitar 2 juta won atau sekitar US$1.400.
Park mengatakan bahwa dirinya tidak mengetahui adanya dana operasional tersebut. Ia menyatakan bahwa dana itu dapat dikembalikan jika diperlukan, sekaligus menjelaskan bahwa persoalan tersebut berkaitan dengan biaya pelaksanaan tugas, bukan gaji pribadi seperti yang mungkin dipahami sebagian orang.
Perbedaan antara gaji dan biaya operasional menjadi penting dalam isu ini. Meski keduanya sama-sama berkaitan dengan uang, transparansi mengenai tujuan penggunaan, penerima manfaat, dan mekanisme pertanggungjawaban tetap dibutuhkan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
FANOMENON dan Tantangan Industri K-Pop Berikutnya
Buat Urbie’s yang mengikuti perkembangan K-pop, FANOMENON menarik untuk dicermati karena ambisinya melampaui konser biasa. Festival ini dirancang sebagai proyek budaya berskala besar yang diharapkan mampu memperluas pengaruh Korea Selatan ke berbagai sektor, sekaligus mempertemukan industri hiburan dengan dukungan pemerintah.
Namun, semakin besar skala proyeknya, semakin besar pula tuntutan terhadap transparansi dan akuntabilitas. Dukungan pemerintah, pengelolaan merek, serta hubungan dengan perusahaan swasta perlu dijelaskan secara terbuka agar tujuan budaya yang diusung tidak tenggelam dalam kontroversi tata kelola.
Permintaan maaf dan dukungan Presiden Lee kepada Park menunjukkan adanya pengakuan terhadap kontribusi budaya sang produser. Meski begitu, polemik FANOMENON memperlihatkan bahwa reputasi besar di industri hiburan tidak membuat sebuah proyek terbebas dari pertanyaan publik.
Pada akhirnya, FANOMENON bukan hanya cerita tentang Park Jin Young dan JYP Entertainment. Ini juga menjadi ujian tentang bagaimana Korea Selatan mengembangkan pengaruh global K-pop sambil menjaga kepercayaan publik terhadap proyek budaya yang didukung pemerintah.



