Hi Urbie’s!Ada kemenangan yang dirayakan dengan selisih waktu sangat tipis, tetapi dampaknya terasa besar untuk satu negara, dan Desak Made Rita Kusuma Dewi baru saja mengalami momen tersebut di Asian Games 2026. Atlet panjat tebing Indonesia itu meraih medali emas nomor speed putri di Nagoya, Jepang, setelah menuntaskan babak final dalam waktu 6,062 detik.
Yang membuat kemenangan ini semakin dramatis adalah jarak Desak dengan pesaing terdekatnya, Lijuan Deng dari China, hanya 0,002 detik. Deng mencatatkan waktu 6,064 detik dan harus puas membawa pulang medali perak, sementara Jimin Jeong dari Korea Selatan merebut perunggu dengan catatan 6,18 detik.
Emas Keempat Indonesia Datang dari Tebing
Kemenangan Desak sekaligus menjadi emas keempat Indonesia dalam gelaran Asian Games Aichi-Nagoya 2026. Sebelum dirinya berdiri di podium tertinggi, Indonesia telah mengoleksi tiga emas melalui tim bulu tangkis putra, pasangan ganda putra Leo Rolly Carnando/Daniel Marthin, serta lifter Rahmat Erwin Abdullah di kelas 75 kilogram.
Dengan tambahan emas dari Desak, Indonesia mencapai target empat medali emas yang sebelumnya dicanangkan untuk Asian Games 2026. Pencapaian tersebut membuat kemenangan Desak bukan sekadar prestasi individu, tetapi juga menjadi bagian penting dari perjalanan kontingen Indonesia di pesta olahraga terbesar Asia tersebut.
6,062 Detik yang Membawa Desak ke Puncak
Perjalanan menuju final sebenarnya sudah memperlihatkan bahwa Desak datang dengan kecepatan yang serius. Pada babak perempat final, ia menjadi yang tercepat di heat-nya dengan catatan 6,39 detik sebelum kembali mencatatkan waktu tercepat di heat semifinal, yakni 6,36 detik.
Final kemudian menjadi panggung yang menentukan segalanya, dan Desak berhasil mengunci emas dengan catatan 6,062 detik. Federasi Panjat Tebing Indonesia menyebut catatan tersebut sekaligus memecahkan rekor Asia dan rekor yang sebelumnya ia buat pada Asian Games sebelumnya.

Final bahkan sempat berlangsung dengan situasi tidak biasa setelah Yafei Zhou dari China melakukan false start. Kondisi tersebut membuat persaingan perebutan medali akhirnya berlangsung antara Desak, Lijuan Deng, dan Jimin Jeong.
Baca juga:
- Indonesia Raya Bergema di Sanya! Duo Panjat Tebing Putri Pecahkan Rekor Dunia
- “We Got Your Back!”, PB ESI dan Salonpas Optimalkan Persiapan Timnas Esports Indonesia
Pada akhirnya, hanya dua angka di belakang koma yang memisahkan Desak dari Deng. Selisih 0,002 detik itu mungkin terlihat kecil di layar, tetapi dalam speed climbing, sepersekian detik bisa menjadi batas antara emas dan perak.
Bukan Sekadar Mengulang Kesuksesan
Medali emas di Aichi-Nagoya juga membuat Desak kembali merasakan prestasi yang sebelumnya ia raih pada Asian Games 2022. Kali ini, kemenangan tersebut hadir dengan catatan waktu yang disebut FPTI sebagai rekor Asia sekaligus peningkatan atas catatan yang ia buat pada edisi sebelumnya.
Menariknya, perjalanan Desak menuju podium kali ini juga membawa cerita tentang konsistensi setelah pengalaman pahit di Olimpiade Paris 2024. Dua tahun setelah gagal membawa pulang medali dari Olimpiade tersebut, Desak kembali menunjukkan performa kompetitif di level internasional dan terus berada dalam persaingan papan atas speed climbing.
Kemenangan di Jepang akhirnya menjadi semacam jawaban bahwa perjalanan seorang atlet tidak selalu berjalan lurus dari satu podium menuju podium berikutnya. Ada pertandingan yang berakhir tanpa medali, ada evaluasi, lalu ada kesempatan berikutnya untuk kembali menekan tombol start dan berlari menuju dinding dengan kecepatan maksimal.
Desak: Emas Ini Jadi Batu Loncatan
Usai kemenangan tersebut, Desak mengaku masih sulit mempercayai bahwa dirinya menjadi yang tercepat di final. Ia juga mengungkapkan rasa syukur karena bisa mempersembahkan emas untuk Indonesia dan menyebut medali Asian Games ini sebagai batu loncatan menuju target yang lebih tinggi, yaitu Olimpiade.
Pernyataan itu membuat emas Aichi-Nagoya terasa seperti bagian dari perjalanan yang belum selesai. Jika bagi penonton kemenangan 6,062 detik adalah sebuah garis akhir, bagi Desak angka tersebut justru bisa menjadi titik awal untuk mengejar target berikutnya.
Indonesia Kini Punya Empat Emas
Dengan emas Desak, Indonesia kini mengantongi empat medali emas di Asian Games 2026. Berdasarkan laporan setelah kemenangan tersebut, total koleksi Indonesia mencapai 31 medali, terdiri dari empat emas, tujuh perak, dan 20 perunggu.
Namun, ada satu angka yang mungkin paling sulit dilupakan dari kemenangan hari itu, yaitu 0,002 detik. Karena di Nagoya, Desak Made Rita Kusuma Dewi membuktikan bahwa dalam olahraga yang mengukur kecepatan hingga pecahan detik, perbedaan sekecil apa pun bisa mengubah warna medali dari perak menjadi emas.













