Hi Urbie’s! Ada pemain yang meninggalkan lapangan dengan peluit panjang, ada pula yang membuat satu stadion berhenti bermain hanya untuk mengucapkan terima kasih. Lionel Messi mendapatkan momen itu ketika Argentina menghadapi Benin di Estadio Monumental, Buenos Aires, dalam pertandingan yang menjadi panggung perpisahan internasional sang megabintang.
Tepat ketika pertandingan memasuki menit ke-10, laga dihentikan selama satu menit penuh. Seluruh stadion berdiri memberikan tepuk tangan untuk Messi, sementara kembang api menerangi langit dan para pemain Benin ikut mendekati sang legenda untuk memberikan pelukan.
Menit ke-10 yang Mendadak Jadi Milik Messi
Nomor 10 selama bertahun-tahun bukan sekadar angka di punggung Messi. Di Argentina, angka tersebut telah melekat dengan perjalanan panjang seorang pemain yang mengubah cara dunia melihat sepak bola.
Karena itu, penghormatan pada menit ke-10 terasa seperti simbol yang sangat personal. Permainan berhenti, sorakan berubah menjadi tepuk tangan, dan Estadio Monumental seolah memberikan ruang bagi satu nama untuk dikenang.
Messi tidak perlu mencetak gol pada momen tersebut. Tidak perlu melakukan dribel melewati tiga pemain atau melepaskan tendangan spektakuler dari luar kotak penalti.
Cukup berdiri di tengah lapangan dan menerima penghormatan dari satu stadion yang tahu betapa panjang perjalanan tersebut.

Bahkan para pemain Benin ikut memanfaatkan momen itu untuk memeluk Messi. Sebuah gestur sederhana dari lawan yang menunjukkan bahwa pengaruh Messi sudah jauh melewati batas jersey Argentina.
Buenos Aires Mengantar Messi dari Jalanan
Sebelum pertandingan dimulai, suasana Buenos Aires sudah berubah menjadi lautan manusia. Jutaan suporter memadati jalanan untuk mengiringi bus yang membawa Messi menuju Estadio Monumental.
Suar dinyalakan, bendera raksasa dikibarkan, dan suara pendukung Argentina memenuhi jalan-jalan kota. Bukan sekadar perjalanan menuju stadion, iring-iringan tersebut terasa seperti prosesi pelepasan untuk pemain yang selama bertahun-tahun menjadi bagian dari identitas sepak bola Argentina.
Bayangkan pemandangannya: bus bergerak perlahan di tengah kerumunan, sementara dari balik kaca terdapat seorang pemain yang sudah mengalami hampir seluruh fase emosional sepak bola bersama negaranya.
Dari kritik dan kegagalan, kemenangan Copa América, hingga puncak yang paling dinantikan ketika Argentina menjadi juara dunia pada 2022. Semua perjalanan itu akhirnya bertemu di satu malam di Buenos Aires.

Messi Pergi dengan Damai
Dalam pesan perpisahannya, Messi mengungkapkan bahwa ia meninggalkan tim nasional dengan perasaan damai karena merasa sudah memberikan seluruh jiwa dan raganya untuk jersey Argentina.
Kalimat tersebut terasa penting mengingat perjalanan Messi bersama tim nasional tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika ia menjadi sasaran kritik, dipertanyakan kemampuannya membawa Argentina meraih trofi, bahkan sempat berada di titik ketika masa depannya bersama tim nasional terasa tidak pasti.
Namun cerita itu berubah.
Messi akhirnya membawa Argentina meraih Copa América dan kemudian mencapai puncak di Piala Dunia 2022. Dua pencapaian tersebut membuat perjalanan panjang yang sebelumnya penuh tekanan akhirnya mendapatkan penutup yang jauh lebih indah.
Kini, ketika waktunya tiba untuk mengucapkan selamat tinggal, Messi tidak pergi sebagai pemain yang masih mengejar pengakuan. Ia pergi setelah memberikan hampir seluruh yang bisa diberikan seorang pesepak bola kepada negaranya.
Baca juga:
- Usai Pensiun dari Timnas Argentina, Messi Siapkan Rencana Jadi Bos Klub Sepak Bola Spanyol
- Lionel Messi Pensiun, David Beckham Unggah Foto Pesannya Bromance Banget!
AFA Satukan Argentina untuk Sang Kapten
Federasi Sepak Bola Argentina atau AFA sengaja menyatukan berbagai elemen suporter dan skuad juara dunia 2022 untuk menciptakan penghormatan terakhir yang megah di tanah air Messi.
Momen tersebut bukan hanya tentang seorang pemain. Ini adalah perayaan terhadap sebuah perjalanan yang melibatkan jutaan orang yang tumbuh bersama cerita Messi dan Argentina.
Bagi sebagian suporter, Messi adalah pemain yang mereka lihat sejak masih mengenakan jersey Barcelona dan kemudian berkembang menjadi kapten Argentina. Bagi generasi yang lebih muda, ia bahkan menjadi salah satu alasan mereka jatuh cinta pada sepak bola.
Itulah mengapa perpisahan ini terasa berbeda. Argentina bukan sekadar melepas seorang pemain dari tim nasional, tetapi mengucapkan terima kasih kepada seseorang yang sudah menjadi bagian dari memori kolektif mereka.

Bahkan Cristiano Ronaldo Ikut Memberikan Pesan
Pengaruh Messi juga terlihat dari respons salah satu rival terbesarnya di sepak bola dunia, Cristiano Ronaldo. Dalam kolom komentar unggahan Messi, Ronaldo menyampaikan pesan penghormatan atas perjalanan panjang sang pemain bersama Argentina.
“Leo, tantos años defendiendo a tu país y una historia que quedará para siempre. Todo mi respeto por lo que has logrado con Argentina. Un abrazo.”
Pesan tersebut kurang lebih bermakna bahwa setelah bertahun-tahun membela negaranya, Messi telah menciptakan sebuah sejarah yang akan bertahan selamanya. Ronaldo juga menyampaikan rasa hormat atas apa yang telah dicapai Messi bersama Argentina.
Dua nama yang selama bertahun-tahun dibandingkan oleh dunia sepak bola akhirnya bertemu dalam satu pesan sederhana: penghormatan.
Dan mungkin memang begitulah cara sebuah legenda seharusnya pergi.
Bukan dengan kesunyian, melainkan dengan satu stadion yang berdiri. Bukan dengan perdebatan siapa yang terbaik, tetapi dengan jutaan orang yang akhirnya sepakat pada satu hal: Leo Messi telah memberikan cerita yang akan sulit dilupakan sepak bola dunia.
Urbie’s, ketika tepuk tangan berhenti setelah satu menit dan pertandingan kembali berjalan, mungkin yang tersisa bukan sekadar skor akhir. Yang tertinggal adalah perasaan bahwa satu era baru saja benar-benar berpamitan.



