Hi Urbie's! Bayangkan seorang anak bernama Kalif di sebuah sekolah di Tangerang Selatan. Ia punya mimpi sederhana tapi besar: menjadi game developer. Tapi sayangnya, sekolahnya tak punya komputer, apalagi kelas ICT. Ia hanya bisa membayangkan dunia yang ingin ia ciptakan di layar — tanpa tahu harus mulai dari mana. Dan kisah Kalif bukan satu-satunya. Ribuan anak di seluruh Indonesia masih menghadapi kesenjangan digital — mimpi mereka terhenti bukan karena kurang kemampuan, tapi karena kurang akses.

Digital Divide yang Nyata di Tengah Potensi Besar

Menurut IMD World Digital Competitive Ranking 2024, Indonesia berada di posisi ke-43 dari 67 negara. Naik dari tahun-tahun sebelumnya, tapi masih tertinggal dari tetangga Asia Tenggara seperti Malaysia dan Thailand.
Pandemi COVID-19 bahkan memperlihatkan kesenjangan ini lebih jelas. Saat sekolah beralih ke pembelajaran online, banyak pelajar di daerah tak bisa ikut serta karena keterbatasan perangkat dan akses internet. Ada keluarga yang hanya punya satu ponsel untuk beberapa anak, bahkan ada yang tak punya sama sekali.
Hasilnya? Ribuan jam belajar hilang, dan jutaan anak tertinggal.

Padahal, Indonesia memiliki bonus demografi yang luar biasa — usia median penduduk hanya 31,5 tahun dan lebih dari sepertiga berusia di bawah 20 tahun. Ini adalah generasi yang akan memimpin Indonesia menuju visi besar: menjadi salah satu dari 10 ekonomi terbesar dunia pada 2030. Tapi peluang itu bisa lenyap kalau generasi muda kita tidak melek digital.

Pemerintah Sudah Bergerak, Tapi Belum Cukup

Langkah besar sudah diambil, salah satunya lewat proyek Palapa Ring yang membentangkan lebih dari 57.000 km kabel serat optik, termasuk 35.000 km di bawah laut. Tujuannya: memberikan akses 4G ke 34 dari 38 provinsi di Indonesia.
Namun, per Januari 2025, penetrasi internet Indonesia baru mencapai 74,6%, masih kalah dari Vietnam (78,8%), Filipina (83,8%), dan Thailand (91,2%).
Artinya, masih ada jutaan pelajar seperti Kalif yang belum tersentuh dunia digital. Dan di sinilah peran anak muda menjadi kunci.

digital divide Indonesia literasi anak muda - sumber foto istimewa
digital divide Indonesia literasi anak muda - sumber foto istimewa

Baca Juga:

Youth Action: Dari Pengguna Jadi Penggerak

Akses internet hanyalah langkah pertama. Yang lebih penting adalah kemampuan untuk menggunakan teknologi secara efektif dan produktif.
Generasi muda memiliki posisi istimewa — mereka tumbuh dalam dunia digital, fasih dengan teknologi, dan dekat dengan generasi di bawah mereka.
Ketika seorang pelajar mengajar pelajar lainnya, terjadi sesuatu yang ajaib: tidak ada jarak, tidak ada rasa takut bertanya. Suasana belajar jadi lebih cair dan kolaboratif.

Selain itu, gerakan anak muda lebih cepat dan fleksibel dibandingkan program pemerintah yang sering terhambat birokrasi. Sebuah komunitas kecil bisa langsung bergerak hanya dengan beberapa laptop pinjaman, satu ruang kelas, dan semangat berbagi. Dampaknya bisa langsung terasa — dan bisa berkembang menjadi perubahan besar.

Urbanvibes article banner

Code 4 Community: Bukti Nyata dari Gerakan Anak Muda

Salah satu contoh inspiratif adalah Code 4 Community (C4C), sebuah inisiatif yang didirikan oleh Ryan Wong Pak Yan dan Trevyn Theodore Tjandra.
C4C merekrut mentor-mentor muda untuk mengajar anak-anak kurang mampu di sekolah-sekolah lokal. Sejauh ini, mereka telah mengajarkan lebih dari 150 siswa dan membantu membuat 200 proyek coding menggunakan Scratch, HTML, dan platform lainnya.

Melalui program ini, siswa seperti Kalif kini sudah bisa membuat game sederhana sendiri. "Dulu aku bahkan nggak tahu cara mengetik di laptop," ujarnya sambil tertawa. Sekarang, ia sudah membuat portofolio game pertamanya — sebuah langkah kecil yang membuka pintu besar menuju masa depan digitalnya.

C4C juga tengah menggalang dana untuk membantu sekolah-sekolah lokal menghadirkan infrastruktur digital dan membangun kelas ICT penuh waktu. Ini bukan sekadar soal teknologi, tapi tentang memberi harapan dan masa depan.

Dari Mentor ke Changemaker

Gerakan seperti ini tidak hanya mengubah kehidupan murid, tapi juga para mentornya. Mereka belajar soft skills seperti kepemimpinan, komunikasi, dan kerja tim — keterampilan penting untuk menjadi changemaker masa depan Indonesia.
Lebih dari itu, mentoring menumbuhkan tanggung jawab sosial. Ketika anak muda mengajar anak muda lain, yang terbentuk bukan hanya transfer ilmu, tapi juga rasa memiliki terhadap komunitasnya.

Saatnya Bergerak, Urbie's!

Menjembatani kesenjangan digital bukan tugas segelintir orang, melainkan tanggung jawab generasi. Anak muda bisa memulai dari hal kecil — mengajar adik di rumah cara mengetik, membantu teman memahami coding dasar, atau bahkan membuat klub digital di sekolah.
Karena setiap langkah kecil menciptakan ripple effect. Satu siswa yang melek digital akan menginspirasi siswa lainnya. Satu komunitas bisa menumbuhkan ratusan inisiatif baru. Dan dari situlah, Indonesia akan melahirkan generasi muda yang siap memimpin era digital.

Jadi, Urbie's, mungkin kamu nggak perlu jadi menteri untuk membuat perubahan. Cukup buka laptopmu, ajak temanmu, dan mulailah berbagi. Karena masa depan digital Indonesia tidak akan datang dengan sendirinya — kitalah yang harus menciptakannya.

[Block type not supported: rawTool]