Hi Urbie’s! Industri game Indonesia lagi panas-panasnya. Bukan karena rilisan baru atau turnamen esports, tapi karena kebijakan baru yang bikin komunitas gamer ramai protes. Yup, sistem rating Indonesia Game Rating System alias IGRS kini resmi diterapkan di Steam—dan dampaknya langsung terasa.
Alih-alih disambut positif, kehadiran IGRS di Steam justru menuai kritik tajam dari gamer Indonesia. Kenapa? Karena banyak yang menilai sistem rating ini masih “ngawur” dan belum siap diterapkan secara luas.

Rating Dinilai Nggak Masuk Akal
Salah satu keluhan utama datang dari hasil rating yang dianggap tidak konsisten. Beberapa game dengan konten serius dan narasi kompleks justru mendapatkan label usia yang aneh. Sebaliknya, ada juga game dengan unsur kekerasan atau konten dewasa yang malah lolos dengan rating ringan.
Kondisi ini bikin gamer bingung sekaligus frustrasi. Pasalnya, sistem rating seharusnya membantu pengguna—terutama orang tua—untuk memahami konten game, bukan malah membingungkan.
Masalah ini makin terasa karena sebagian rating yang muncul di Steam ternyata belum sepenuhnya hasil verifikasi resmi. Menurut penjelasan dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), banyak rating masih berbasis self-declare dari platform, sementara integrasi teknis dengan standar IGRS masih dalam tahap penyesuaian.
Bisa Bikin Game “Menghilang” dari Steam
Nah, ini yang bikin situasi makin serius, Urbie’s.
Dalam dokumen Steamworks, disebutkan bahwa game yang tidak memiliki rating IGRS berpotensi tidak bisa ditampilkan di store Steam untuk pengguna Indonesia. Artinya, developer dan publisher “dipaksa” mengikuti sistem ini kalau ingin game mereka tetap bisa diakses.
Kalau kamu sudah membeli game tersebut sebelumnya, tenang—masih bisa dimainkan. Tapi halaman store-nya bisa hilang, jadi kamu nggak bisa melihat detail, update, atau bahkan membelinya lagi dari akun lain.
Kebijakan ini jelas bikin banyak pihak khawatir, terutama developer indie yang mungkin belum familiar dengan sistem IGRS.
Kasus Kontroversial: Game of the Year Ikut Kena
Kontroversi ini makin memanas setelah muncul kabar bahwa game Clair Obscur: Expedition 33—yang disebut-sebut sebagai Game of the Year 2025—tidak bisa diakses di Steam Indonesia.
Di halaman Steam, pemain hanya menemukan notifikasi singkat yang menyebut bahwa game tersebut “mungkin melanggar hukum negara”. Tanpa penjelasan detail, keputusan ini langsung menuai protes dari komunitas gamer.
Banyak yang mempertanyakan transparansi IGRS. Kenapa game dengan kualitas visual dan narasi tinggi bisa diblokir, sementara game lain dengan konten lebih eksplisit justru lolos?
Buat banyak gamer, ini bukan sekadar soal akses, tapi soal kebebasan menikmati karya seni digital.
Baca Juga:
- Meta & YouTube Digugat karena Bikin Kecanduan, Pengadilan AS Putuskan Ganti Rugi Rp100 Miliar
- Disney Siapkan Film Live-Action “Stepsisters”, Fokus pada Saudara Tiri Cinderella
- Dua Restoran Indonesia Masuk 50 Daftar Restoran Terbaik di Asia 2026
Dari Sistem Rating Jadi Sensor?
Secara konsep, sistem rating seperti IGRS bukan hal baru. Di Eropa ada PEGI, di Amerika ada ESRB—semuanya bertujuan memberikan panduan usia, bukan membatasi akses secara mutlak.
Namun, yang jadi masalah adalah implementasinya.
Banyak pihak menilai bahwa IGRS mulai bergeser dari fungsi awalnya sebagai sistem klasifikasi, menjadi alat sensor yang terlalu ketat dan kurang transparan.
Ketika game berkualitas tinggi justru dibatasi tanpa alasan jelas, sementara yang lain lolos dengan standar yang dipertanyakan, kepercayaan publik pun mulai goyah.
Respons Pemerintah: Masih Tahap Penyesuaian
Menanggapi polemik ini, Komdigi memberikan klarifikasi bahwa sistem yang berjalan saat ini belum final. Steam masih dalam tahap penyesuaian untuk menyelaraskan sistem mereka dengan regulasi Indonesia.
Komdigi juga menegaskan bahwa tujuan utama dari penerapan IGRS adalah melindungi masyarakat, terutama anak-anak, dari konten yang tidak sesuai usia.
Namun, mereka juga mengakui bahwa perlu ada pembahasan lebih lanjut dengan pihak Steam untuk memastikan sistem ini berjalan lebih akurat dan transparan.
Dampak ke Industri Gaming Indonesia
Urbie’s, kalau tidak ditangani dengan baik, situasi ini bisa berdampak besar.
Developer lokal bisa kesulitan mendistribusikan game mereka, sementara gamer Indonesia bisa kehilangan akses ke banyak judul internasional.
Lebih jauh lagi, ini bisa membuat Indonesia tertinggal dalam mengikuti perkembangan industri gaming global—yang saat ini justru sedang berkembang pesat.
Padahal, potensi industri game di Indonesia sangat besar, baik dari sisi pasar maupun talenta kreatif.
Antara Regulasi dan Kebebasan
Di satu sisi, regulasi memang penting untuk melindungi pengguna. Tapi di sisi lain, kebebasan akses dan transparansi juga nggak kalah krusial.
Keseimbangan inilah yang saat ini sedang diuji.
IGRS punya potensi besar untuk menjadi sistem yang membantu—asal diterapkan dengan tepat, konsisten, dan terbuka terhadap masukan dari komunitas.
Gamer Nggak Tinggal Diam
Yang jelas, komunitas gamer Indonesia sudah bersuara.
Dari forum hingga media sosial, diskusi terus berjalan. Banyak yang berharap pemerintah dan platform seperti Steam bisa menemukan solusi terbaik—yang tidak merugikan semua pihak.
Karena pada akhirnya, game bukan sekadar hiburan. Ia adalah bagian dari budaya digital yang terus berkembang.
Dan Urbie’s, masa depan industri ini juga ada di tangan kita semua.







