Hi Urbie’s!Jakarta sering kali dikenal lewat kemacetan, gedung pencakar langit, pusat bisnis, dan ritme hidup yang seolah tidak pernah berhenti. Namun, di balik wajah metropolitan tersebut, Jakarta menyimpan jejak panjang perjalanan kota yang bisa ditelusuri dari kawasan Kota Tua hingga Monumen Nasional atau Monas.

Rute ini menarik karena membawa kita melewati dua babak sejarah dalam satu perjalanan, dari Batavia sebagai kota pelabuhan dan pusat pemerintahan kolonial hingga Jakarta sebagai simbol perjalanan Indonesia setelah kemerdekaan. Kota Tua sendiri berada di kawasan Jakarta Barat dan Utara, sementara Monas berdiri di kawasan Gambir, Jakarta Pusat.

Kota Tua dan Jejak Batavia yang Masih Bertahan

Perjalanan bisa dimulai dari Kota Tua Jakarta, kawasan yang menjadi salah satu ruang paling kuat untuk melihat bagaimana Jakarta terbentuk sebagai kota. Pemerintah Belanda dahulu membangun benteng, kanal, gedung pemerintahan, dan perkantoran di kawasan ini, meninggalkan karakter arsitektur yang masih dapat dikenali hingga sekarang.

Berjalan di sekitar kawasan Kota Tua membuat pengalaman wisata terasa berbeda karena sejarah tidak hanya tersimpan di balik kaca museum. Bangunan tua, ruang publik, jalur pedestrian, hingga suasana di sekitar kawasan heritage membuat pengunjung seolah diajak melihat Jakarta dari halaman masa lalunya.

Salah satu titik yang paling dikenal adalah Museum Sejarah Jakarta atau Museum Fatahillah yang berada di Taman Fatahillah. Museum ini menyimpan berbagai koleksi yang menceritakan perjalanan Jakarta, mulai dari masa prasejarah, perkembangan Sunda Kelapa, era kolonial, hingga periode setelah kemerdekaan.

Di sekitar kawasan tersebut, pengunjung juga dapat menemukan Museum Wayang serta Museum Seni Rupa dan Keramik. Ketiganya menawarkan perspektif berbeda tentang sejarah, seni, dan kebudayaan sehingga Kota Tua tidak berhenti sebagai lokasi foto dengan latar bangunan klasik.

Urbanvibes article banner

Dari Kota Tua Menuju Sunda Kelapa

Kalau ingin memahami mengapa Jakarta tumbuh sebagai kota perdagangan, perjalanan bisa diteruskan menuju Pelabuhan Sunda Kelapa. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat pelabuhan ini telah digunakan sejak abad ke-12 dan hingga kini masih menjadi pelabuhan bagi kapal-kapal tradisional antarpulau.

Di sinilah cerita Jakarta terasa lebih tua daripada sekadar Batavia. Sebelum gedung pencakar langit memenuhi cakrawala kota, kawasan pesisir ini telah menjadi bagian dari aktivitas perdagangan dan koneksi maritim yang membentuk perkembangan Jakarta dari masa ke masa.

Kehadiran kapal tradisional di kawasan pelabuhan juga memberikan kontras visual yang menarik. Di satu sisi ada Jakarta modern dengan infrastruktur perkotaan, sementara di sisi lain masih terlihat aktivitas maritim yang mengingatkan bahwa sejarah kota ini tidak pernah benar-benar hilang.

Perjalanan Sejarah Berlanjut ke Monas

Dari kawasan Kota Tua, perjalanan dapat dilanjutkan menuju Jakarta Pusat untuk menemukan ikon yang mewakili babak sejarah berbeda, yaitu Monumen Nasional atau Monas. Jika Kota Tua berbicara tentang akar perkembangan Jakarta, Monas membawa narasi tentang perjuangan Indonesia dalam memperoleh kemerdekaan.

Monas memiliki tinggi 132 meter dan berdiri di tengah Lapangan Merdeka. Dirancang dan dibangun oleh arsitek serta insinyur Indonesia pada 1961, monumen ini kemudian menjadi salah satu simbol paling dikenal dari Jakarta sekaligus perjalanan bangsa Indonesia.

Baca juga:

Di bagian bawah monumen terdapat museum yang menghadirkan diorama perjalanan sejarah Indonesia. Sementara itu, pengunjung yang naik ke bagian atas dapat menikmati panorama Jakarta dan melihat secara langsung bagaimana kota yang dulunya berkembang dari kawasan pelabuhan kini berubah menjadi megapolitan.

Ketika Masa Lalu Bertemu Jakarta Modern

Yang membuat rute Kota Tua–Monas menarik bukan sekadar jumlah landmark yang bisa dikunjungi dalam satu perjalanan. Keduanya seperti dua halaman berbeda dari buku yang sama, memperlihatkan bagaimana sebuah kota dapat berubah tanpa sepenuhnya kehilangan identitas historisnya.

Kota Tua menyimpan jejak arsitektur dan sejarah perdagangan Batavia, sedangkan Monas merepresentasikan narasi perjuangan dan identitas Indonesia setelah kemerdekaan. Di antara keduanya terdapat Jakarta hari ini dengan pusat bisnis, transportasi publik, ruang kreatif, kuliner, pusat perbelanjaan, dan kehidupan urban yang terus bergerak.

Bahkan saat ini, Kota Tua masih menjadi bagian dari upaya pengembangan destinasi heritage Jakarta. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyebut kawasan tersebut memiliki nilai sejarah, arsitektur, dan potensi ekonomi wisata yang terus dikembangkan melalui revitalisasi serta aktivitas baru yang tetap mempertahankan karakter warisan budayanya.

Menginap di Jakarta, Jangan Cuma Lihat dari Kaca Hotel

Buat wisatawan yang datang ke Jakarta untuk urusan bisnis maupun liburan singkat, menjelajahi kawasan bersejarah bisa menjadi cara berbeda untuk memahami kota. Tidak perlu menunggu perjalanan panjang ke luar kota karena beberapa cerita paling penting tentang Jakarta justru berada di tengah kawasan urban.

BW Express Jakarta dapat menjadi salah satu titik awal bagi wisatawan yang ingin mengeksplorasi Jakarta dengan pendekatan yang lebih praktis. Dari kawasan hotel, perjalanan kemudian bisa diarahkan menuju destinasi sejarah, kuliner, pusat bisnis, maupun berbagai pengalaman urban yang membuat Jakarta terasa lebih dari sekadar kota transit.

Urbie’s, Jakarta bukan cuma tentang gedung tinggi dan jalanan yang padat. Coba mulai perjalanan dari Kota Tua, rasakan jejak Batavia, lanjutkan cerita menuju Sunda Kelapa, kemudian tutup perjalanan di bawah bayang-bayang Monas—karena ketika masa lalu dan masa kini bertemu, Jakarta punya cerita yang jauh lebih menarik untuk diceritakan.

Sumber: BW Hospitality