Hi Urbie’s! Bayangkan memasuki sebuah ballroom hotel di pusat Jakarta, lalu bukannya disambut pertunjukan musik modern atau hiburan yang biasa kita temui di acara hotel, justru terdengar alunan musik tradisional dan di depan mata muncul karakter-karakter dari kisah Ramayana. Itulah pengalaman yang saya rasakan ketika menyaksikan langsung “A Timeless Tale: Ramayana Folklore” di Mercure Jakarta Sabang, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Pertunjukan tersebut menjadi sesuatu yang cukup berbeda karena untuk pertama kalinya Mercure Jakarta Sabang menghadirkan Wayang Orang di lingkungan hotel. Digelar di Grand Sabang Ballroom sebagai bagian dari rangkaian Road to 12 Years of Timeless Sabang, acara ini membawa Sendratari Ramayana ke ruang yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya sebagai panggung seni tradisional.
Malam itu, beberapa seniman dan seniwati dari Wayang Orang Bharata tampil membawa kisah Ramayana melalui gerak, musik, kostum, dan karakter yang sudah begitu akrab dalam budaya Indonesia.
Bukan Sekadar Menonton Pertunjukan
Sebagai penonton yang hadir langsung, hal pertama yang terasa adalah bagaimana atmosfer ballroom berubah ketika pertunjukan dimulai. Ruang yang biasanya digunakan untuk berbagai kebutuhan meeting dan acara hotel malam itu terasa seperti panggung pertunjukan yang membawa penonton keluar sejenak dari hiruk-pikuk Jakarta.
Ada sesuatu yang menarik ketika cerita klasik Ramayana dibawakan di tengah suasana hotel modern. Kontras tersebut justru membuat pertunjukannya terasa lebih relevan, seolah cerita yang sudah diwariskan lintas generasi mendapatkan ruang baru untuk bertemu dengan penonton masa kini.
Para pemain Wayang Orang Bharata tidak hanya menyampaikan cerita melalui dialog. Gerakan tubuh, ekspresi, kostum, musik, hingga karakter masing-masing tokoh menjadi bahasa tersendiri yang membuat kisah tersebut tetap bisa dinikmati meski cerita Ramayana sebenarnya sudah sangat familiar.
Dan di situlah letak menariknya.
Kita mungkin sudah mengetahui garis besar ceritanya, tetapi menyaksikannya secara langsung memberikan pengalaman yang berbeda dibanding sekadar membaca kisahnya atau melihat potongan pertunjukan di layar.
Ketika Ramayana Bertemu Hospitality
Menurut saya, kekuatan utama acara ini justru terletak pada cara Mercure Jakarta Sabang mengemas budaya sebagai sebuah pengalaman.
Setelah pertunjukan selesai, para tamu tidak langsung meninggalkan ballroom. Pengalaman kemudian dilanjutkan dengan Dinner Wayang, jamuan makan malam prasmanan yang menjadi bagian dari rangkaian acara.
Jadi, malam itu bukan hanya tentang duduk menonton Wayang Orang.
Ada pertunjukan, kemudian kuliner, lalu interaksi dalam suasana hotel yang nyaman. Tiga elemen tersebut—budaya, kuliner, dan hospitality—ditempatkan dalam satu rangkaian sehingga pengalaman terasa lebih utuh.
Bagi saya, konsep seperti ini cukup menarik karena seni tradisional tidak diposisikan hanya sebagai “pertunjukan tambahan”. Budaya justru menjadi bagian utama dari pengalaman yang ditawarkan kepada tamu.
Baca juga:
- Bar Takeover by Gayatri Moerlie Resmi Hadir, Mercure Jakarta Sabang Suguhkan Pengalaman Dessert dan Kopi yang Unik
- Seru dan Edukatif! Mercure Jakarta Sabang Hadirkan Abang None Cilik Competition untuk Rayakan HUT Jakarta
“Timeless” yang Tidak Terasa Kuno
Nama Timeless Sabang terasa cukup tepat untuk menggambarkan konsep malam itu.
Kisah Ramayana sendiri merupakan cerita yang telah bertahan selama berabad-abad. Namun ketika dibawa ke panggung hotel dengan kemasan acara yang lebih modern, kisah tersebut terasa tidak berhenti sebagai sesuatu dari masa lalu.
Justru sebaliknya.
Pertunjukan tersebut memperlihatkan bahwa cerita lama masih bisa mendapatkan audiens baru ketika disampaikan melalui pengalaman yang dekat dengan kehidupan masyarakat sekarang.
Hal tersebut juga sejalan dengan apa yang disampaikan Idham Risdiansyah, General Manager Mercure Jakarta Sabang. Menurutnya, melalui Timeless Sabang, hotel ingin menghadirkan pengalaman yang memiliki cerita dan tetap relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
Idham juga menyebut pertunjukan Wayang Orang menjadi cara untuk memperkenalkan kekayaan seni pertunjukan Indonesia melalui pengalaman yang lebih dekat dan mudah dinikmati masyarakat.
Pertama Kali di Panggung Hotel
Ada satu detail yang menurut saya membuat acara ini semakin spesial: ini merupakan pertama kalinya Mercure Jakarta Sabang menghadirkan pertunjukan Wayang Orang di panggung hotel.
Keputusan tersebut terasa seperti langkah kecil, tetapi punya makna cukup besar. Sebab, salah satu tantangan seni tradisional hari ini adalah bagaimana membuatnya tetap dekat dengan generasi yang mungkin tidak lagi memiliki banyak kesempatan untuk menyaksikannya secara langsung.
Hotel bisa menjadi salah satu ruang alternatif.
Ketika Wayang Orang dipertemukan dengan hospitality, penonton tidak perlu datang ke gedung pertunjukan khusus untuk mengenal seni tersebut. Mereka bisa menemukannya dalam sebuah pengalaman yang juga menghadirkan makanan, suasana nyaman, dan aktivitas sosial.

Mercure Jakarta Sabang dan Wajah Lokal Jakarta
Lokasi acara juga memberikan konteks tersendiri. Berada di kawasan Jalan H. Agus Salim, Jakarta Pusat, Mercure Jakarta Sabang memang berada di salah satu kawasan yang dekat dengan berbagai wajah Jakarta.
Hotel ini memiliki 166 kamar, Clovia Restaurant, Grand Sabang Ballroom, 14 ruang meeting, kolam renang, entertainment center, serta area aktivitas keluarga.
Lokasinya juga dekat dengan kawasan kuliner Sabang, Monas, Museum Nasional, dan area bisnis Thamrin. Karakter lokal tersebut terasa semakin nyambung ketika hotel kemudian menghadirkan cerita budaya Indonesia ke dalam programnya.
Jadi, “Timeless Sabang” bukan sekadar nama acara. Ada upaya untuk membawa karakter lokal masuk ke dalam pengalaman menginap dan berkunjung ke hotel.
Menuju 12 Tahun Timeless Sabang
A Timeless Tale: Ramayana Folklore pada akhirnya menjadi salah satu momen dalam perjalanan Mercure Jakarta Sabang menuju perayaan 12 tahun Timeless Sabang.
Setelah menyaksikan langsung pertunjukan malam itu, saya merasa konsep seperti ini memiliki satu kekuatan sederhana: membuat kita berhenti sebentar dan kembali melihat sesuatu yang sebenarnya sudah kita kenal.
Ramayana bukan cerita baru. Wayang Orang juga bukan bentuk seni yang baru.
Tetapi ketika keduanya hadir di sebuah ballroom hotel di tengah Jakarta, dengan tamu yang kemudian menikmati makan malam bersama, ceritanya terasa mendapatkan kehidupan baru.
Dan mungkin itulah arti sebenarnya dari “timeless”.
Bukan berarti sesuatu harus tetap sama selamanya, melainkan mampu berubah mengikuti zaman tanpa kehilangan cerita yang menjadi akarnya.
Buat Urbie’s yang mungkin selama ini menganggap Wayang Orang sebagai tontonan “jadul”, pengalaman di Mercure Jakarta Sabang malam itu justru memberikan sudut pandang berbeda.
Kadang, kita tidak perlu pergi jauh untuk menemukan budaya Indonesia.
Cukup masuk ke sebuah ballroom, duduk, matikan sejenak notifikasi ponsel, lalu biarkan Ramayana bercerita.






