Hi Urbie’s! Siapa sangka cita rasa Soto Betawi bisa hadir dalam interpretasi veloutékhas Prancis, bakwan jagung menjelma menjadi hidangan pembuka bergaya modern, hingga salak dari Sleman dipertemukan dengan cokelat dalam sebuah kreasi pastry? Perpaduan ini bukan sekadar eksperimen dapur, melainkan cara baru untuk menceritakan kekayaan kuliner Indonesia melalui perspektif gastronomi internasional.
Lewat pengalaman kuliner bertajuk “Nusantara A La Francaise: Where Indonesian Heritage Meets French Technique”, THE 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa mempertemukan Chef Yoel, Executive Chef hotel tersebut, dengan Chef Gerald Maridet, seorang artisan pastry. Digelar di Dwangsa 9 Indonesian Restaurant pada 7 Oktober 2026, kolaborasi ini mengeksplorasi bagaimana teknik kuliner Prancis dapat memberikan ekspresi baru terhadap bahan dan hidangan Indonesia tanpa menghapus karakter yang membuatnya akrab di lidah masyarakat.
Soto Betawi Bertransformasi Menjadi Velouté ala Prancis
Salah satu kreasi yang menarik perhatian adalah Mushroom & Cauliflower – Velouté à la Betawi. Hidangan ini mempertemukan teknik velouté, yang dikenal dalam tradisi kuliner Prancis dengan tekstur lembut dan halus, dengan karakter rasa yang mengingatkan pada Soto Betawi.

Alih-alih mengandalkan krim seperti yang lazim ditemukan dalam sejumlah hidangan Barat, kreasi ini menggunakan santan untuk menghadirkan kekayaan rasa yang lekat dengan masakan Indonesia. Jamur, kembang kol, rempah, dan santan kemudian diracik menjadi sajian yang berada di antara dua tradisi kuliner, tanpa harus sepenuhnya menjadi sup Prancis ataupun Soto Betawi konvensional.
Chef Yoel menjelaskan bahwa eksplorasi tersebut dimulai dari rasa yang sudah dikenal masyarakat, kemudian dikembangkan melalui pendekatan teknik yang berbeda. Baginya, teknik Prancis bukan alat untuk mengubah masakan Indonesia menjadi masakan asing, melainkan cara untuk memperkenalkan kekayaan kuliner Nusantara dari sudut pandang baru.
Pendekatan ini menjadi inti dari Nusantara A La Francaise: inovasi tidak harus berarti meninggalkan akar. Justru melalui teknik dan penyajian yang berbeda, karakter bahan lokal bisa mendapatkan ruang untuk dikenal dengan cara yang lebih luas.

Bakwan Jagung Naik Kelas, Kue Ape Hadirkan Nostalgia
Eksplorasi tersebut bahkan dimulai sejak hidangan pembuka. Para tamu disambut denganSoft Bluder Buns and Rujak Chutney, sebuah pilihan yang membawa roti bluder dan cita rasa rujak ke dalam pengalaman bersantap yang biasanya dibuka dengan roti khas Barat.
Perjalanan kemudian berlanjut melalui Golden Corn Fritter with Avocado and Tomato Salad. Terinspirasi dari bakwan jagung, hidangan ini dipadukan dengan salad alpukat dan tomat serta French dressing yang memberikan sentuhan segar.

Bakwan jagung yang biasanya dikenal sebagai gorengan pendamping makanan sehari-hari mendapatkan konteks baru dalam susunan menu gastronomi modern. Namun, daya tariknya justru terletak pada familiaritas rasa Indonesia yang tetap menjadi titik awal eksplorasi.
Hidangan ini dipasangkan dengan Hatten Sparkling Tunjung. Menurut konsep penyajiannya, karakter keasaman wine berpadu dengan French dressing untuk menghadirkan sensasi segar sebelum tamu beralih ke sajian berikutnya.
Nuansa nostalgia juga muncul melalui Kue Ape yang dihadirkan sebelum hidangan penutup utama. Jajanan yang lekat dengan suasana kaki lima ini menjadi pengingat bahwa inspirasi gastronomi tidak selalu harus datang dari bahan mahal atau teknik rumit, tetapi juga dari makanan sederhana yang menyimpan cerita keseharian.
Baca juga:
- A Bowl of Indonesia: 10 Mangkuk, 3 Juara, dan Cerita Kuliner Nusantara di Dwangsa9
- THE 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa Hadirkan Pop Up Warung Jaksel untuk Rayakan HUT ke-499 Jakarta
Sate Maranggi dan Wine Pairing yang Memperkuat Rasa
Pada hidangan utama, Sate Maranggi mengambil peran sebagai representasi kekayaan kuliner Indonesia. Karakter gurih, rempah yang kuat, dan aroma smoky dari proses pemanggangan menjadi elemen yang dipertemukan dengan Two Islands Shiraz dari Hatten Wines.
Karakter buah yang kaya pada wine tersebut dirancang untuk melengkapi rasa daging dan aroma panggang, bukan mengambil alih perhatian dari hidangan utama. Perpaduan ini memperlihatkan bahwa pengalaman gastronomi tidak hanya berbicara tentang teknik memasak, tetapi juga tentang bagaimana minuman dapat mendukung karakter makanan.

Hatten Wines turut mendukung acara melalui pilihan wine pairing yang disesuaikan dengan karakter setiap hidangan. Sementara itu, PT. Granary Subur Jaya mendukung penyelenggaraan melalui penyediaan piring saji yang digunakan sepanjang rangkaian makan malam, dengan dukungan acara dari PT. Pandurasa Kharisma.
Cokelat 57 Persen Bertemu Salak dari Sleman
Bagian penutup menghadirkan salah satu perpaduan paling menarik: cokelat dan salak. Dalam kreasi Flourless Chocolate 57%, Marquissa Snakefruit, Delicatessen A La Minute, Chef Gerald Maridet menggabungkan keahliannya dalam seni pastry Prancis dengan bahan lokal yang memiliki kedekatan dengan lingkungan tempat tinggalnya, yaitu Sleman.
Salak dikenal sebagai salah satu buah yang lekat dengan wilayah tersebut. Karakter buah yang khas dipertemukan dengan intensitas cokelat 57 persen untuk menciptakan kontras sekaligus keseimbangan rasa.

Bagi Chef Gerald, hidangan ini berangkat dari keinginannya mempertemukan latar belakang pastry Prancis dengan bahan dan cerita Indonesia di sekitarnya. Kreasi tersebut kemudian dipadukan dengan Two Islands Fine Tawny, yang memiliki karakter manis dan kaya untuk melengkapi sajian cokelat dan buah.
Kehadiran salak menjadi lebih dari sekadar pemanis lokal dalam hidangan penutup. Bahan tersebut membawa identitas tempat dan menunjukkan bahwa produk daerah dapat memperoleh panggung dalam eksplorasi kuliner kontemporer.
Bukan Sekadar Fusion, tetapi Cara Baru Bercerita tentang Indonesia
General Manager THE 1O1 Jakarta Sedayu Darmawangsa, Eva Rosdiana, menyebut Nusantara A La Francaise sebagai dialog antara dua tradisi kuliner, bukan sekadar pencampuran masakan Indonesia dan Prancis. Menurutnya, kekayaan rasa dan cerita kuliner Indonesia dapat terus dieksplorasi melalui beragam teknik dan perspektif, selama identitas lokal tetap menjadi bagian dari setiap hidangan.
Semangat tersebut juga akan berlanjut melalui kolaborasi Christmas & New Year Hampers bersama PT. Pandurasa Kharisma. Produk hampers ini direncanakan menghadirkan artisan chocolate dari Pandurasa Kharisma yang dilengkapi pilihan wine dari Hatten Wines untuk menyambut perayaan akhir tahun.
Bagi Urbie’s!, pengalaman ini menawarkan cara pandang menarik tentang kuliner Indonesia. Warisan rasa tidak harus selalu disajikan dalam bentuk yang sama untuk mempertahankan identitasnya, karena inovasi justru bisa membuka jalan agar hidangan lokal dikenal oleh lebih banyak orang.
Dari santan dalam interpretasi Soto Betawi hingga salak Sleman yang berdampingan dengan cokelat, setiap kreasi menyampaikan pesan serupa: kuliner Nusantara punya ruang luas untuk berkembang, selama cerita dan akar budayanya tidak dilupakan.



