
Hi Urbie’s, Daewoong Pharmaceutical (selanjutnya disebut “Daewoong”) mengumumkan pada 24 Desember bahwa perusahaan tersebut secara resmi telah memperoleh izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Indonesia untuk obat diabetes terbarunya, Enavogliflozin.
Saat ini, Indonesia menempati peringkat kelima di dunia dalam jumlah penduduk dewasa (usia 20–79 tahun) yang hidup dengan diabetes. Berdasarkan International Diabetes Federation (IDF) Diabetes Atlas 2024, jumlah orang dewasa dengan diabetes di Indonesia saat ini diperkirakan mencapai sekitar
20,4 juta jiwa dan diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 28,6 juta jiwa pada tahun 2045, yang menunjukkan beban penyakit kronis jangka panjang yang terus meningkat secara signifikan.
Enavogliflozin yang kini telah memperoleh izin edar merupakan obat inovatif ke-36 yang dikembangkan di Korea Selatan. Diberikan sekali sehari dengan dosis rendah 0,3 mg, obat ini menunjukkan efektivitas penurunan kadar glukosa darah yang yang setara secara klinis dengan dapagliflozin, salah satu inhibitor SGLT-2 yang telah digunakan secara luas dalam uji klinis fase 3.
Baca Juga:
- Aktor Keturunan Indonesia Gilli Jones Masuk Radar Disney Lewat Audisi Tangled
- Ternyata Ini 5 Alasan Mall Selalu Obral Diskon Gede-Gedean Pas Akhir Tahun!
- Inilah 5 Tips Aman dan Nyaman Naik Kapal Feri Buat Pemula Saat Musim Hujan
Uji klinis juga menunjukkan bahwa Enavogliflozin yang dikonsumsi sekali sehari mampu mencapai pengendalian kadar gula darah yang setara dengan Dapagliflozin, dengan perbaikan pada parameter HbA1c dan glukosa plasma puasa, dengan profil keamanan yang mendukung potensi penggunaan
jangka panjang dalam praktik klinis.
Inhibitor SGLT-2 bekerja dengan cara mencegah penyerapan kembali glukosa dan natrium di ginjal melalui protein sodium-glucose cotransporter 2 (SGLT-2), sehingga meningkatkan pembuangan glukosa melalui urin dan menurunkan kadar gula darah. Selain menurunkan gula darah, obat-obatan ini
juga dikaitkan dengan penurunan berat badan ringan dan penurunan tekanan darah. Secara keseluruhan, efek-efek tersebut berpotensi mendukung kesehatan jantung dan ginjal sekaligus menurunkan risiko komplikasi diabetes.
Daewoong berencana tidak hanya sekadar mendapatkan perolehan izin edar, namun juga menjadikan Enavogliflozin sebagai pintu masuk untuk memperluas pertukaran akademik mengenai strategi pengobatan diabetes antara Korea Selatan dan Indonesia, serta berperan sebagai jembatan pertukaran wawasan klinis di antara tenaga medis dari kedua negara.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Daewoong Pharmaceutical Indonesia berpartisipasi dalam Jakarta Diabetic Meeting 2025 yang diselenggarakan pada bulan November lalu, di mana profil klinis Enavogliflozin diperkenalkan. Melalui kerja sama dengan institusi-institusi utama seperti Perkumpulan
Endokrinologi Indonesia (PERKENI), Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), serta Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Daewoong berinteraksi dengan sekitar 500 tenaga kesehatan lokal.
Pada bulan yang sama, Prof. So Hun Kim, Guru Besar Endokrinologi dari Inha University College of Medicine, Korea Selatan menyampaikan kuliah khusus di RSCM Kanigara Advanced Diabetes Center. Bersama Dr. dr. Tri Juli Edi Tarigan, Sp.PD-KEMD, FINASIM, Kepala Divisi Endokrinologi Universitas Indonesia, mereka membahas epidemiologi diabetes dan tantangan pengobatan di kedua negara, sekaligus meletakkan dasar bagi penguatan
pertukaran akademik yang lebih aplikatif melalui kegiatan edukasi langsung di lapangan.
Setelah memperoleh izin edar ini, Daewoong berencana melakukan uji klinis fase 3 tambahan yang bertujuan untuk memperluas cakupan penggunaan Enavogliflozin. Uji klinis ini ditujukan untuk membangun bukti klinis yang lebih mencerminkan karakteristik pasien Indonesia dan kondisi praktik
klinis sehari-hari, guna memperkuat kepercayaan tenaga kesehatan serta memperluas pilihan terapi yang relevan bagi pasien diabetes.
Sementara itu, Daewoong secara bertahap membangun pilihan terapi yang mencakup diabetes dan dislipidemia untuk mendukung penanganan penyakit metabolik di Indonesia. Disetujuinya Enavogliflozin merupakan bagian dari upaya tersebut dalam memperluas portofolio pengobatan
penyakit kronis.
Pada bulan November lalu, Daewoong juga meluncurkan terapi dislipidemia di Indonesia, yaitu kombinasi dosis tetap Ezetimibe–Rosuvastatin 10/5 mg yang menjadi dosis rendah pertama di Indonesia, serta varian 10/10 mg dan 10/20 mg, yang memungkinkan penyesuaian terapi sesuai dengan profil risiko kardiovaskular masing-masing pasien.
Executive Director of Indonesia Business Division di Daewoong Pharmaceutical Indonesia, Baik In Hyun, menyatakan, “Enavogliflozin menunjukkan komitmen Daewoong dalam menyediakan terapi inovatif yang berasal dari Asia dan telah terbukti secara klinis bagi pasien di Indonesia,” serta
menambahkan, “Berdasarkan efektivitas yang telah terbukti, tingkat keamanan yang sangat baik, serta kemudahan penggunaan satu kali sehari, kami bertujuan untuk menawarkan pilihan pengelolaan diabetes jangka panjang berbasis bukti kepada para tenaga kesehatan,” ujarnya.
Kemudian ia melanjutkan, “Kami akan terus memperkuat kolaborasi akademik dengan organisasi profesi dan institusi akademik lokal seperti PERKENI dan FKUI, serta memperluas portofolio kardiometabolik kami dari dislipidemia hingga diabetes, sehingga kami dapat menjadi mitra layanan
kesehatan yang berkontribusi bagi kesehatan masyarakat Indonesia,” bebernya.







