Home Business Industri Furnitur Indonesia Tembus Pasar Global Lewat Ekosistem Terpadu 2026

Industri Furnitur Indonesia Tembus Pasar Global Lewat Ekosistem Terpadu 2026

23
0
Kiri- kanan: Cloudinia J. Dieter (Project Director PT. Wakeni), Etty Anggraeni (Director PT. Nine Koeln Indonesia), Dedy Rochimat (Ketua ASMINDO), Lea A. Aziz (Interior Design Expert & Principal of Elenbee Design), Mathias Kuepper (Managing Director & Regional President Asia Pacific Koelnmesse), Choiril Muchtar (Sekjen ISWA), Adi Surya Triwibowo (Ketua HDII), Stephanie Sim (Regional Division Director Koelnmesse Pte Ltd) dan Sofianto Widjaja (Director at Wakeni) dalam Konferensi Pers Industry Connect 2026 di Jakarta, Kamis (29/1/2026). (Foto: urbanvibes/R Indriani)

Hi Urbie’s! Industri furnitur Indonesia sedang berada di titik krusial: potensinya besar, pasarnya global, dan desain lokal makin relevan dengan gaya hidup modern. Di tengah tren hunian compact, apartemen urban, hingga bangkitnya sektor pariwisata, furnitur kini tak sekadar soal estetika—melainkan solusi hidup. Menjawab tantangan itu, sebuah ekosistem industri baru siap menghubungkan material, manufaktur, hingga desain dalam satu platform terintegrasi yang menargetkan pasar dunia mulai 2026.

Potensi Besar, Tantangan Nyata

Data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pada 2025 ekspor mebel Indonesia menempati posisi kedua subsektor kerajinan dengan kontribusi sekitar 12,2 persen. Angka ini menegaskan bahwa furnitur adalah industri bernilai tambah tinggi dan berorientasi ekspor.

Namun ironisnya, di pasar furnitur global yang nilainya mencapai ratusan miliar dolar AS per tahun, pangsa Indonesia masih di bawah satu persen. Artinya, tantangan utama bukan pada kualitas atau sumber daya, melainkan pada konektivitas rantai nilai—dari material, teknologi produksi, hingga akses pasar internasional.

Desain Bertemu Pasar, Bukan Lagi Sekadar Pajangan

Saat ini, akses Indonesia ke pasar Amerika Serikat, Eropa, dan Asia Timur sebenarnya sudah terbuka. Tapi penguatan masih dibutuhkan, terutama dari sisi standardisasi, inovasi, efisiensi produksi, serta keterlibatan desainer dan pelaku kreatif sejak tahap hulu hingga hilir.

Di sinilah peran pameran internasional berubah. Bukan cuma etalase produk, tapi menjadi ruang kolaborasi lintas sektor—tempat desain, teknologi, dan pasar saling terhubung dalam satu ekosistem.

Hunian Mungil, Solusi Furnitur Makin Cerdas

Perubahan gaya hidup urban ikut membentuk arah desain furnitur Indonesia. Rumah berukuran kecil, apartemen, dan hunian pertama (first-time homeowners) mendorong permintaan furnitur ringkas, modular, multifungsi, dan hemat ruang.

Di Jakarta saja, pasokan apartemen telah melampaui 230.000 unit dengan tingkat hunian mendekati 88 persen. Ini menciptakan pasar besar untuk furnitur siap rakit dan solusi interior praktis.

Belum lagi sektor pariwisata yang terus pulih. Dengan 13,9 juta kunjungan wisatawan mancanegara (tumbuh sekitar 19 persen secara tahunan), kebutuhan furnitur untuk hotel, vila, dan akomodasi jangka pendek ikut melonjak—di mana desain interior menjadi kunci pengalaman ruang.

Konferensi pers Industry Connect 2026 di Jakarta, Kamis (29/1/2026). (Foto: urbanvibes/R Indriani)

Satu Platform, Satu Ekosistem Industri

Menjawab dinamika tersebut, Amara Group dan Koelnmesse GmbH mengumumkan integrasi strategis empat pameran utama—material, manufaktur, furnitur, dan interior—ke dalam satu platform industri terpadu bertajuk Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect.

Mulai 23–27 September 2026, pameran ini akan digelar secara co-located di NICE PIK 2 dan JIExpo Kemayoran, Jakarta. Targetnya tak main-main: sekitar 800 exhibitor, 15.000 pengunjung, dan partisipasi dari lebih dari 20 negara.

Baca Juga:

Kolaborasi Lintas Negara, Lintas Industri

Negara peserta mencakup Australia, Jerman, Italia, Prancis, Amerika Serikat, hingga Korea Selatan dan Uni Emirat Arab—mencerminkan skala global dan keberagaman ekosistem desain yang dibangun.

Konsep co-location dan penyelarasan lintas sektor ini merupakan tonggak penting dalam pengembangan platform industri di Indonesia dan kawasan Asia-Pasifik,” ujar Mathias Küpper, Managing Director dan Regional President Asia Pacific Koelnmesse Pte Ltd dalam Konferensi Pers Industry Connect 2026 di Jakarta, Kamis (29/1/2026).

Dengan menyatukan material, manufaktur, dan furnitur dalam satu ekosistem terkoordinasi, sambung dia, kolaborasi antara desain, industri, dan pasar menjadi jauh lebih relevan.

UMKM dan Desainer Lokal Ikut Main di Panggung Global

Dalam integrasi ini, Amara Group dan Koelnmesse GmbH bersama-sama mengelola IFFINA+, interzum jakarta, International Hardware Fair Indonesia, serta berkolaborasi dengan Wakeni untuk IFMAC WOODMAC—semuanya hadir beriringan.

Menariknya, sekitar 50 persen peserta IFFINA merupakan pelaku UMKM, membuka peluang besar bagi brand lokal dan desainer muda untuk mengakses seluruh rantai nilai furnitur dalam satu pekan industri yang terkurasi.

Inisiatif ini menyatukan berbagai platform sesuai dengan cara industri furnitur bekerja saat ini. Ini mendukung pengembangan bisnis sekaligus memperluas akses pasar dari hulu ke hilir,” kata Dedy Rochimat, Ketua ASMINDO.

Menuju Ekosistem Furnitur Masa Depan

Ke depan, penguatan industri furnitur Indonesia tak bisa lepas dari kolaborasi hexahelix—melibatkan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, komunitas kreatif, media, dan investor. Pendekatan ini dinilai krusial agar inovasi desain tidak berhenti di konsep, tetapi benar-benar diterapkan secara berkelanjutan.

Lewat diskusi, business matching, dan forum terkurasi, Indonesia Materials, Manufacturing & Furniture Connect diharapkan menjadi ruang lahirnya solusi desain yang relevan dengan gaya hidup modern—sekaligus memperkuat posisi Indonesia di peta furnitur global.