Iklan
Home Highlight Fokus Bidik Pasar Asia, Kemenpar Jaga Pariwisata Indonesia Tetap Tumbuh di Tengah...

Fokus Bidik Pasar Asia, Kemenpar Jaga Pariwisata Indonesia Tetap Tumbuh di Tengah Krisis Global

0
11
Fokus Bidik Pasar Asia, Kemenpar Jaga Pariwisata Indonesia Tetap Tumbuh di Tengah Krisis Global
Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menyampaikan sambutannya dalam forum The Iconomics CEO Forum & Awards yang bertajuk _"Resilient Leadership in the Age of Disruption"_ di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Kamis (23/4/2026).
Iklan

Hi Urbie’s, di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian, sektor pariwisata kembali diuji ketahanannya. Mulai dari konflik geopolitik hingga fluktuasi harga tiket penerbangan, semuanya berdampak langsung pada pergerakan wisatawan dunia. Namun, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) tidak tinggal diam. Lewat strategi yang adaptif dan penuh perhitungan, pemerintah berupaya menjaga momentum kebangkitan pariwisata Indonesia.

Dalam forum The Iconomics CEO Forum & Awards bertajuk “Resilient Leadership in the Age of Disruption” yang digelar di Jakarta, Deputi Bidang Pemasaran Kemenpar, Ni Made Ayu Marthini, menegaskan bahwa industri pariwisata adalah salah satu sektor yang paling sensitif terhadap dinamika global. Kondisi geopolitik, khususnya konflik di kawasan Timur Tengah, menjadi salah satu faktor yang memengaruhi jalur perjalanan wisatawan internasional.

Menjawab tantangan tersebut, Kemenpar melakukan langkah strategis berupa pivot atau pengalihan fokus pasar. Jika sebelumnya promosi pariwisata Indonesia banyak menyasar wisatawan dari Eropa dan Amerika, kini perhatian dialihkan ke kawasan Asia yang dinilai lebih stabil dan strategis.

Pasar Asia dianggap memiliki sejumlah keunggulan, mulai dari jarak yang lebih dekat, akses penerbangan langsung, hingga minimnya ketergantungan pada rute transit yang melewati wilayah konflik. Negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Jepang, Tiongkok, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru kini menjadi target utama dalam strategi pemasaran terbaru ini.

Bagi Urbie’s, langkah ini bukan sekadar perubahan arah, tapi juga bentuk adaptasi cepat terhadap kondisi global yang terus berubah. Dengan mengoptimalkan pasar yang lebih dekat secara geografis, Indonesia bisa tetap menjaga arus kunjungan wisatawan tanpa terlalu terdampak oleh lonjakan biaya perjalanan.

Baca Juga:

Namun, strategi ini juga bukan tanpa tantangan. Fokus pada kawasan Asia berarti Indonesia harus bersaing lebih ketat dengan negara-negara lain di region yang sama. Oleh karena itu, inovasi menjadi kunci utama. Kemenpar pun mendorong berbagai kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat daya tarik pariwisata nasional.

Salah satu langkah konkret yang dilakukan adalah melalui program co-branding partners. Lewat kerja sama ini, Kemenpar menggandeng berbagai brand lokal maupun internasional untuk mempromosikan destinasi wisata Indonesia secara lebih kreatif dan luas. Selain itu, penyelenggaraan berbagai event di daerah juga terus digencarkan untuk meningkatkan exposure sekaligus memberikan pengalaman unik bagi wisatawan.

Strategi kolaboratif ini dinilai mampu memberikan nilai tambah, tidak hanya dari sisi promosi tetapi juga dalam membangun citra pariwisata Indonesia yang lebih modern dan kompetitif. Pendekatan ini juga membuka peluang bagi pelaku industri kreatif dan UMKM untuk ikut terlibat dalam ekosistem pariwisata.

Founder dan CEO The Iconomics, Bram S. Putro, turut mengapresiasi langkah Kemenpar. Ia menilai strategi refocusing yang dilakukan mencerminkan kepemimpinan yang tangguh dan adaptif di tengah disrupsi global. Menurutnya, kemampuan untuk beradaptasi menjadi faktor penting agar sektor pariwisata tetap bisa tumbuh di tengah kondisi yang dinamis.

Urbie’s, optimisme pun tetap dijaga. Kemenpar percaya bahwa dengan strategi yang tepat, kolaborasi yang solid, dan inovasi yang berkelanjutan, pariwisata Indonesia akan terus bangkit dan memberikan kontribusi besar bagi perekonomian nasional.

Di tengah tantangan global, satu hal yang pasti: pariwisata Indonesia tidak berhenti bergerak. Justru, inilah momentum untuk bertransformasi menjadi lebih kuat dan relevan di pasar internasional.

Iklan