Hi Urbie’s! Media sosial lagi ramai membahas istilah 39 homeless media yang disebut menjadi mitra pemerintah melalui Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI. Istilah ini langsung viral dan memancing perdebatan panjang di internet, terutama di kalangan netizen Gen Z yang aktif mengikuti perkembangan media digital dan konten kreator.
Pernyataan Bakom RI soal “Homeless Media”
Topik ini mencuat setelah Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI, M Qodari, mengungkapkan bahwa Bakom kini menggandeng berbagai “homeless media” yang tergabung dalam New Media Forum sebagai mitra pemerintah. Pernyataan tersebut sontak menuai sorotan karena istilah “homeless media” dianggap cukup sensitif dan membingungkan publik.
Dalam keterangannya, Qodari menjelaskan bahwa kerja sama ini dilakukan agar pemerintah bisa menjangkau masyarakat lebih luas, terutama generasi muda yang kini lebih banyak mengonsumsi informasi lewat media digital dan platform sosial dibanding media konvensional seperti televisi atau surat kabar.
Pemerintah Ingin Menjangkau Audiens Anak Muda
Menurutnya, media-media baru ini memiliki pengaruh besar dalam membentuk opini publik dan tren percakapan di internet. Karena itu, pemerintah merasa perlu merangkul mereka agar komunikasi publik bisa berjalan lebih efektif dan relevan dengan perkembangan zaman.
Qodari juga menyebut bahwa homeless media perlu dirangkul dan dibina agar kualitasnya dapat meningkat layaknya media konvensional. Pernyataan inilah yang kemudian memicu perdebatan besar di media sosial.
Istilah “Homeless Media” Tuai Pro dan Kontra
Banyak netizen mempertanyakan apa sebenarnya arti dari istilah “homeless media”. Sebagian menganggap istilah itu merendahkan media digital independen yang berkembang di platform seperti Instagram, YouTube, TikTok, hingga X.
Di sisi lain, ada juga yang menganggap istilah tersebut merujuk pada media non-konvensional yang tidak memiliki struktur newsroom tradisional seperti kantor redaksi besar, sistem cetak, atau jaringan televisi.
Netizen Ramai Kritik Istilah Tersebut
Di media sosial, banyak pengguna internet merasa istilah itu terdengar tidak tepat. Sebab, banyak media digital independen saat ini justru memiliki audiens besar, kualitas produksi tinggi, hingga pengaruh kuat terhadap opini publik.
Bahkan beberapa akun digital disebut lebih dekat dengan generasi muda dibanding media arus utama karena gaya penyampaian mereka yang lebih santai, visual, dan relate dengan kehidupan sehari-hari.
Sejumlah Media Berikan Klarifikasi
Kontroversi semakin memanas setelah beberapa nama media dan akun digital disebut masuk dalam daftar yang dikaitkan dengan New Media Forum.
Tak lama setelah isu ini viral, sejumlah media dan kreator digital langsung memberikan klarifikasi dan bantahan terkait keterlibatan mereka.
Beberapa akun dan media yang memberikan klarifikasi di antaranya adalah Narasi, Ngomongin Uang, Bapak2ID, Kok Bisa?, Pandemic Talks, serta USS Feeds.
Media Terkait Bantah Ikut dalam Forum
Beberapa dari mereka menegaskan bahwa mereka tidak tergabung atau tidak terlibat dalam kerja sama yang dimaksud oleh Bakom RI. Klarifikasi tersebut langsung menyebar luas dan membuat publik semakin penasaran mengenai bagaimana sebenarnya mekanisme forum tersebut berjalan.
Tak sedikit netizen kemudian mempertanyakan validitas daftar media yang beredar di internet.
Perubahan Lanskap Media di Era Digital
Fenomena ini juga membuka diskusi lebih luas mengenai posisi media digital independen di Indonesia saat ini.
Urbie’s pasti sadar kalau sekarang cara orang mengonsumsi berita sudah berubah drastis. Banyak anak muda lebih percaya mendapatkan informasi dari video singkat, carousel Instagram, podcast, atau thread media sosial dibanding membaca portal berita formal.
Baca Juga:
- Dari Timur Indonesia ke Jepang, Tabola Bale Masuk Nominasi Best Song Asia
- BLACKPINK Kuasai Met Gala 2026, Empat Member Tampil Ikonik dengan Gaya Berbeda
- Christopher Nolan Rilis Trailer “The Odyssey”, Suguhkan Petualangan Mitologi Yunani yang Spektakuler
Media Digital Kini Jadi Pemain Utama
Hal ini membuat munculnya generasi baru media digital yang punya pendekatan lebih santai, visual, dan dekat dengan audiens muda. Mereka tidak selalu memiliki newsroom besar, tetapi punya engagement tinggi dan loyalitas audiens yang kuat.
Di sisi lain, pemerintah juga mulai melihat bahwa komunikasi publik tidak bisa lagi hanya mengandalkan media mainstream. Era digital membuat distribusi informasi jadi jauh lebih cepat, tetapi juga lebih sulit dikontrol.
Karena itulah kolaborasi dengan kreator digital, komunitas online, dan media alternatif mulai sering dilakukan oleh banyak institusi, termasuk pemerintah.
Publik Soroti Transparansi dan Independensi
Meski begitu, isu transparansi tetap menjadi perhatian utama publik.
Netizen mempertanyakan bagaimana proses pemilihan media partner dilakukan, apakah ada kontrak kerja sama tertentu, hingga bagaimana independensi media dapat tetap terjaga ketika berkolaborasi dengan institusi pemerintah.
Kredibilitas Jadi Sorotan Utama
Apalagi di era sekarang, audiens muda sangat sensitif terhadap isu kredibilitas dan independensi konten. Sekali dianggap terlalu dekat dengan kepentingan tertentu, reputasi sebuah media digital bisa langsung dipertanyakan oleh followers mereka sendiri.
Kontroversi “39 homeless media” ini akhirnya bukan cuma soal istilah, tetapi juga menjadi refleksi tentang perubahan lanskap media di Indonesia.
Media digital kini bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan sudah menjadi pemain utama dalam membentuk opini publik dan budaya internet. Bahkan banyak topik viral lahir lebih dulu dari media sosial sebelum akhirnya dibahas media mainstream.
Sementara itu, publik kini menunggu penjelasan lebih detail terkait daftar media yang benar-benar tergabung dalam forum tersebut serta bagaimana bentuk kerja sama yang dijalankan bersama pemerintah.
Yang jelas, satu hal yang bisa dipetik dari viralnya isu ini adalah: dunia media sedang berubah sangat cepat, dan batas antara media, kreator konten, komunitas, hingga platform digital kini makin tipis.
