
Hi Urbie’s! Di balik gemerlap runway dan parade koleksi terbaik di Indonesia Fashion Week 2026, ada satu forum yang justru membahas masa depan industri fashion dari sisi yang lebih strategis. Bertajuk “Indonesia Forum: Sharing the Future of Fashion”, forum yang digelar oleh Italian Trade Agency bekerja sama dengan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) ini mempertemukan pemerintah, pelaku industri, asosiasi, hingga desainer untuk membahas bagaimana Indonesia dan Italia bisa membangun ekosistem fashion yang lebih modern, berkelanjutan, dan siap bersaing di pasar global.
Urbanvibes.id berkesempatan menghadiri langsung forum eksklusif tersebut. Tak sekadar berbicara soal tren fashion, diskusi lebih banyak menyoroti pentingnya transfer teknologi, pengembangan sumber daya manusia, digitalisasi industri alas kaki, hingga peluang besar yang akan terbuka melalui kerja sama ekonomi Indonesia-Uni Eropa.
Italia Ingin Berbagi Pengalaman Membangun Industri Fashion Berkelas Dunia
Duta Besar Italia untuk Indonesia, Roberto Colaminè, menegaskan bahwa kehadiran Italia di Indonesia Fashion Week bukan hanya sebatas partisipasi dalam sebuah pameran mode. Menurutnya, Italia ingin menghadirkan kontribusi nyata bagi perkembangan industri fashion Indonesia, khususnya sektor kulit dan alas kaki.
Ia menjelaskan bahwa selama beberapa hari terakhir delegasi Italia telah mengunjungi Garut, Jawa Barat, sebagai salah satu sentra industri kulit nasional. Kunjungan tersebut menjadi langkah awal untuk berbagi pengalaman, teknologi, hingga standar produksi yang selama puluhan tahun menjadi kekuatan industri fashion Italia.
Menurut Roberto, tujuan utama kolaborasi ini adalah membantu pelaku usaha Indonesia mengombinasikan kreativitas lokal dengan teknologi dan pengalaman manufaktur Italia. Ia optimistis sinergi tersebut akan membuka jalan bagi produk Indonesia untuk semakin kompetitif, baik di pasar domestik maupun internasional.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti peluang besar yang akan hadir melalui implementasi Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA). Kesepakatan tersebut diyakini akan memperkuat hubungan perdagangan sekaligus membuka akses pasar yang lebih luas bagi industri fashion Indonesia.
Baca Juga:
- Waspada! Banyak yang Cari Cara Sadap WA Pasangan, Padahal Bisa Berujung Pidana dan Merusak Privasi
- Lagu Getcho Money Up Viral Mendunia, Netizen Luar Negeri Salah Dengar Lirik
- Muhammadiyah Luncurkan KucingMu, Komunitas Pecinta Kucing dengan Kartu Anggota Khusus untuk Anabul
Garut Berpotensi Jadi Pusat Produksi Sepatu Handmade Indonesia-Italia
Pendiri Indonesia Fashion Week sekaligus desainer senior Indonesia, Poppy Darsono, menyambut positif keberlanjutan kerja sama dengan Italia.
Meski mengaku memberikan sambutan secara spontan tanpa persiapan, Poppy justru menyampaikan gagasan yang cukup konkret. Ia berharap seluruh pembahasan selama dua tahun terakhir tidak berhenti sebagai wacana, melainkan segera diwujudkan dalam bentuk proyek nyata.

Salah satu idenya adalah memanfaatkan dukungan pembiayaan dari LPDB Kementerian Koperasi agar koperasi pengrajin kulit di Garut memperoleh akses pendanaan untuk meningkatkan kapasitas produksi.
Poppy, yang juga memimpin komunitas pengrajin kulit Indonesia, berharap semakin banyak mahasiswa Indonesia memperoleh kesempatan belajar langsung ke Milan melalui program beasiswa yang telah berjalan selama bertahun-tahun.
Lebih jauh lagi, ia membayangkan Garut dapat berkembang menjadi pusat produksi sepatu handmade hasil kolaborasi Indonesia dan Italia dengan standar kualitas internasional.
Industri Alas Kaki Indonesia Sudah Kuat, Tetapi Tantangan Semakin Kompleks
Sementara itu, Ketua Dewan Pimpinan Daerah Jawa Barat Asosiasi Persepatuan Indonesia (APRISINDO), Henny Setiadi, memaparkan gambaran industri alas kaki nasional yang sebenarnya memiliki fondasi sangat kuat.
Sepanjang 2025, industri alas kaki Indonesia mencatat ekspor hampir US$8 miliar, memproduksi lebih dari 600 juta pasang sepatu, menarik investasi lebih dari Rp24 triliun, serta menyerap sekitar 1,3 juta tenaga kerja.
Namun, menurutnya, kondisi global membuat tantangan industri semakin berat. Ketegangan geopolitik menyebabkan biaya bahan baku meningkat hingga 40 persen, sementara daya beli masyarakat di dalam negeri mengalami perlambatan.
Selain itu, industri juga masih menghadapi berbagai hambatan seperti regulasi yang tumpang tindih, maraknya produk impor ilegal, hingga ketergantungan terhadap bahan baku impor yang memperlambat proses produksi.
Ia menegaskan bahwa industri Indonesia tidak membutuhkan pengurangan standar kualitas, melainkan regulasi yang lebih efisien sehingga pelaku usaha dapat lebih fokus pada inovasi dan peningkatan daya saing.
Tiga Pilar Masa Depan Industri Alas Kaki Indonesia
Dalam presentasinya, Henny memperkenalkan tiga pilar utama yang diyakini akan menentukan masa depan industri alas kaki nasional.
Pilar pertama adalah craftsmanship atau keterampilan para pengrajin. Menurutnya, keunggulan terbesar Indonesia bukanlah tenaga kerja murah, melainkan kualitas para perajin yang mampu menghasilkan produk dengan karakter kuat dan nilai seni tinggi.

Pilar kedua adalah digitalisasi. Ia menilai transformasi digital tidak selalu identik dengan robot atau pabrik otomatis. Justru langkah awal digitalisasi bisa dimulai dari penerapan sistem inventori digital, ERP, QR Code untuk pelacakan produk, CAD/CAM, hingga sistem perencanaan produksi.
Teknologi tersebut dinilai mampu meningkatkan efisiensi tanpa menggantikan peran pengrajin, sehingga mereka dapat lebih fokus menciptakan produk berkualitas tinggi.
Sedangkan pilar ketiga adalah kolaborasi global.
Menurut Henny, Italia memiliki kekuatan pada teknologi mesin, desain, dan inovasi kulit, sedangkan Indonesia unggul dalam kemampuan manufaktur serta ekosistem UMKM yang sangat besar.
Kolaborasi keduanya dinilai mampu menghasilkan pusat demonstrasi teknologi, proyek percontohan Industry 4.0, program pelatihan, pengembangan desain bersama, hingga pembukaan akses pasar internasional bagi UMKM Indonesia.
Saatnya Indonesia Tidak Hanya Menjadi Produsen, Tetapi Pemimpin Industri Fashion Regional
Forum ini menunjukkan bahwa masa depan industri fashion Indonesia tidak lagi hanya berbicara mengenai produksi massal atau biaya tenaga kerja yang kompetitif.
Justru, daya saing baru akan lahir ketika kreativitas para pengrajin dipadukan dengan teknologi modern, digitalisasi proses produksi, serta kemitraan internasional yang saling menguntungkan.
Kolaborasi Indonesia dan Italia menjadi bukti bahwa industri fashion global kini bergerak menuju ekosistem yang lebih cerdas, berkelanjutan, dan berbasis inovasi. Bila seluruh rencana tersebut berjalan sesuai harapan, bukan tidak mungkin Indonesia akan menjadi salah satu pusat manufaktur alas kaki dan produk kulit berkualitas dunia dalam beberapa tahun mendatang.