Iklan
Home Highlight Peta Dunia Baru di Sahkan PBB, Equal Earth Dinilai Lebih Akurat Gambarkan...

Peta Dunia Baru di Sahkan PBB, Equal Earth Dinilai Lebih Akurat Gambarkan Ukuran Benua

0
6
Peta Dunia Baru di Sahkan PBB, Equal Earth - sumber foto Wikipedia
Peta Dunia Baru di Sahkan PBB, Equal Earth - sumber foto Wikipedia
Iklan Urbanvibes Banner
Iklan

Hi Urbie’s!, coba bayangkan kalau selama ini peta dunia yang kita lihat sejak bangku sekolah ternyata membuat beberapa negara terlihat jauh lebih besar atau lebih kecil dari ukuran sebenarnya. Gambaran dunia yang terasa begitu familiar itu kini kembali diperdebatkan setelah Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengesahkan resolusi yang mendorong penggunaan proyeksi peta yang dinilai lebih akurat dalam menggambarkan ukuran relatif daratan, yakni Equal Earth.

Keputusan tersebut disahkan pada Jumat (4/9) dan langsung menjadi perhatian karena mempertemukan dua cara berbeda dalam melihat dunia di atas selembar peta. Dalam pemungutan suara tersebut, Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara yang menolak, sementara enam negara memilih abstain.

Selama 450 Tahun, Mercator Membentuk Cara Kita Melihat Dunia

Kalau Urbie’s! membuka peta dunia klasik, kemungkinan besar bentuk yang muncul adalah proyeksi Mercator. Proyeksi yang diperkenalkan kartografer Flemish, Gerardus Mercator, pada abad ke-16 tersebut telah digunakan secara luas selama sekitar 450 tahun dan menjadi salah satu standar paling dikenal dalam pemetaan dunia.

Mercator sebenarnya punya alasan kuat mengapa begitu populer. Proyeksi ini sangat berguna untuk navigasi karena mampu mempertahankan arah dan sudut dengan relatif baik, sehingga pelaut dapat menggunakan garis lurus pada peta untuk membantu menentukan jalur perjalanan.

Masalahnya muncul ketika peta tersebut digunakan untuk membandingkan ukuran wilayah. Semakin dekat suatu wilayah dengan kutub, distorsi ukurannya semakin besar, sehingga negara atau daratan di kawasan lintang tinggi bisa terlihat jauh lebih luas dibanding ukuran sebenarnya.

Greenland Terlihat Seperti Afrika, Padahal Faktanya Jauh Berbeda

Contoh paling populer untuk memahami distorsi Mercator adalah Greenland dan Afrika. Dalam banyak versi peta Mercator, Greenland tampak seolah-olah memiliki ukuran yang hampir mendekati Afrika, padahal kenyataannya luas Afrika sekitar 14 kali lebih besar daripada Greenland.

Perbedaan visual tersebut bukan karena peta tersebut “salah” dalam konteks tujuan awalnya. Mercator memang dirancang untuk mempertahankan karakter tertentu yang penting bagi navigasi, tetapi konsekuensinya adalah ukuran relatif daratan menjadi semakin terdistorsi ketika menjauh dari garis khatulistiwa.

Hal serupa juga terjadi pada negara-negara Barat yang berada di lintang lebih tinggi, termasuk Amerika Serikat. Ketika melihat peta dunia dengan proyeksi tertentu, ukuran Amerika Serikat dapat tampak berbeda dari perbandingan luas sebenarnya dengan negara atau kawasan lain.

Baca juga:

Equal Earth Hadir dengan Misi Membuat Dunia Terlihat Lebih Proporsional

Di sinilah Equal Earth mendapatkan perhatian. Proyeksi ini dirancang untuk mempertahankan proporsi luas daratan sehingga perbandingan ukuran antarkawasan di peta menjadi lebih mendekati kondisi sebenarnya di permukaan bumi.

Bagi masyarakat awam, perubahan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun bagi dunia pendidikan, media, penelitian, hingga komunikasi global, cara sebuah peta menggambarkan ukuran wilayah dapat memengaruhi cara orang membayangkan dunia.

Bayangkan seorang pelajar yang sejak kecil melihat Greenland hampir sebesar Afrika. Tanpa penjelasan tambahan, gambar tersebut berpotensi menciptakan persepsi yang keliru mengenai skala geografis dunia.

Equal Earth berusaha mengoreksi persoalan visual tersebut tanpa mengklaim bahwa ada satu proyeksi peta yang sempurna untuk semua kebutuhan. Pasalnya, setiap proyeksi memiliki kompromi tersendiri karena bumi berbentuk tiga dimensi, sedangkan peta harus menyajikannya dalam bidang datar.

Amerika Serikat Menolak Resolusi PBB

Meski mayoritas negara mendukung resolusi tersebut, Amerika Serikat mengambil posisi berbeda. AS menjadi satu-satunya negara yang memberikan suara menolak, sementara enam negara memilih abstain.

Penolakan tersebut tidak semata-mata dipandang sebagai perdebatan teknis mengenai kartografi. Pemerintah AS menilai langkah tersebut sebagai bagian dari proyek yang bersifat ideologis dan politis, sehingga mengambil sikap keras terhadap resolusi tersebut.

Namun ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi, Urbie’s!: resolusi PBB ini tidak melarang penggunaan proyeksi Mercator. Resolusi tersebut juga bukan berarti Equal Earth secara otomatis diwajibkan atau menjadi satu-satunya proyeksi yang boleh digunakan oleh negara-negara di dunia.

Jadi, Apakah Mercator Akan Hilang dari Peta Dunia?

Jawabannya: tidak. Mercator masih memiliki fungsi penting, terutama untuk kebutuhan navigasi dan aplikasi tertentu yang memang membutuhkan karakteristik proyeksi tersebut.

Resolusi PBB lebih tepat dipahami sebagai dorongan untuk menggunakan representasi geografis yang lebih proporsional ketika tujuan utamanya adalah memperlihatkan perbandingan luas wilayah. Dengan kata lain, persoalannya bukan memilih peta mana yang “benar” dan mana yang “salah”, tetapi memilih proyeksi yang sesuai dengan kebutuhan.

Perdebatan ini sekaligus mengingatkan kita bahwa peta bukan sekadar gambar dunia. Cara dunia digambarkan dapat memengaruhi bagaimana manusia memahami jarak, ukuran, posisi, bahkan pentingnya sebuah wilayah.

Jadi, Urbie’s!, kalau suatu hari melihat Greenland kembali tampak sebesar Afrika di sebuah peta, jangan buru-buru percaya dengan mata. Bisa jadi bukan dunia yang berubah ukurannya, melainkan cara kita memproyeksikan dunia ke atas kertas.

Iklan