Hi Urbie’s!
Nasi Padang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon kuliner Indonesia yang sukses menembus batas negara. Rasanya yang kaya rempah, teknik memasak yang diwariskan turun-temurun, serta filosofi di balik setiap hidangan membuat masakan Minang bukan sekadar makanan, melainkan identitas budaya. Menariknya, nilai tersebut tak hanya dirasakan di Indonesia. Di Singapura, Nasi Padang bahkan dianggap sebagai warisan budaya yang layak dilindungi negara.
Berdasarkan laporan dari CNBC Indonesia, salah satu restoran Nasi Padang legendaris di Singapura, Warong Nasi Pariaman, sempat berada di ambang penutupan. Restoran ini bukan pemain baru. Warong Nasi Pariaman telah melayani pelanggan lintas generasi dan menjadi rujukan utama bagi pecinta masakan Minang di Negeri Singa. Ketika ancaman tutup mulai mengemuka, respons pemerintah Singapura terbilang serius. Seorang menteri bahkan turun tangan langsung untuk membantu menyelamatkan restoran tersebut.
Langkah ini bukan tanpa alasan. Pemerintah Singapura memandang Warong Nasi Pariaman bukan hanya sebagai tempat makan, tetapi sebagai bagian dari identitas budaya dan sejarah kuliner Melayu-Minang yang telah berakar kuat di tengah masyarakat multikultural mereka. Dalam konteks Singapura yang sangat selektif dalam menjaga ruang kota dan nilai sejarah, keputusan untuk melindungi sebuah restoran tradisional menunjukkan betapa tingginya nilai sentimental dan kultural yang melekat pada Nasi Padang.
Baca Juga:
- Dracin CEO Dilarang di China, Fajar Sadboy Malah Bangun Sadboy Cinematic Universe di Iklan Redmi
- Dari Runway ke Ramadan, Koleksi Anggun dengan Sentuhan Arabian Elegan
- Inilah 5 Alasan Kenapa Saat Travelling ke Luar Negri Sampai Bandara Harus 3 Jam Sebelum Keberangkatan
Upaya penyelamatan ini dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari mediasi terkait tingginya biaya sewa tempat hingga pencarian solusi jangka panjang agar bisnis tersebut tetap berkelanjutan. Masalah regenerasi juga menjadi perhatian, mengingat banyak usaha kuliner tradisional menghadapi tantangan dalam mewariskan bisnis kepada generasi berikutnya. Pemerintah Singapura melihat bahwa tanpa intervensi, restoran bersejarah seperti Warong Nasi Pariaman bisa hilang ditelan zaman, tergeser oleh brand modern dan tren kuliner baru.
Apa yang terjadi di Singapura ini menjadi cermin menarik bagi Indonesia. Di saat banyak kuliner tradisional di dalam negeri masih berjuang sendiri menghadapi tekanan pasar, negara lain justru menunjukkan kepedulian tinggi terhadap warisan rasa yang berasal dari Nusantara. Nasi Padang diperlakukan sebagai aset budaya lintas negara, bukan sekadar komoditas bisnis.
Kasus Warong Nasi Pariaman juga menegaskan bahwa kuliner memiliki kekuatan diplomasi budaya yang nyata. Lewat sepiring rendang, gulai, dan sambal lado merah, identitas Minangkabau hidup dan diterima oleh masyarakat global. Bahkan, ia menjadi bagian dari memori kolektif sebuah negara yang dikenal modern dan futuristik seperti Singapura.
Bagi Urbie’s, cerita ini bukan hanya soal satu restoran yang hampir tutup, tetapi tentang bagaimana sebuah makanan mampu membangun ikatan emosional lintas generasi dan lintas batas geografis. Saat Singapura rela turun tangan demi menjaga Nasi Padang, hal ini menjadi pengingat bahwa warisan kuliner adalah bagian dari sejarah yang tak ternilai harganya.
















































