Home Health Bayi Sering Gumoh, Wajar atau GERD? Ini Penjelasan Dokter Anak

Bayi Sering Gumoh, Wajar atau GERD? Ini Penjelasan Dokter Anak

32
0
Ilustrasi bayi sering gumoh setelah menyusu. (Foto: Alina Matveycheva/Pexels)

Hi Urbie’s! Bayi sering gumoh setelah menyusu kerap membuat orang tua panik. Tak sedikit yang langsung mengira si kecil mengalami gangguan lambung serius atau bahkan GERD. Padahal, gumoh pada bayi tidak selalu berarti penyakit. Dalam banyak kasus, kondisi ini justru merupakan bagian normal dari proses tumbuh kembang sistem pencernaan bayi, terutama di usia awal kehidupan.

Lalu, kapan gumoh masih tergolong wajar dan kapan harus diwaspadai? Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi menjelaskan perbedaannya secara medis.

Gumoh, Refluks, dan GER: Apa Bedanya?

Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi RS Premier Bintaro, Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K), menegaskan bahwa orang tua perlu memahami istilah medis yang sering kali terdengar mirip, tetapi maknanya berbeda.

“Di antara kerongkongan dan lambung terdapat katup bagian bawah yang berfungsi sebagai penghalang agar isi lambung tidak naik kembali. Pada bayi, katup ini belum bekerja optimal,” jelas Prof. Badriul saat Media Gathering & Health Talk di Jakarta, Rabu (4/1/2026).

Akibatnya, isi lambung seperti susu bisa mengalir kembali ke kerongkongan. Kondisi ini disebut refluks atau gastroesophageal reflux (GER).

“Refluks itu artinya aliran balik. Ada aliran balik dari isi lambung kembali ke kerongkongan,” ujar Prof. Badriul.

Menariknya, refluks tidak selalu terlihat. Pada sebagian bayi, isi lambung hanya naik sampai kerongkongan tanpa keluar melalui mulut, sehingga tidak selalu disadari oleh orang tua.

Dokter Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi RS Premier Bintaro, Prof. Dr. Badriul Hegar, Sp.A(K) saat Media Gathering & Health Talk bertajuk “POV: Regurgitasi, GER, dan GERD pada Anak dan Dampaknya terhadap Kesehatan” yang digelar oleh RS Premier Bintaro di Jakarta, Rabu (4/1/2026). (Foto: Urbanvibes/R Indriani)

Regurgitasi atau Gumoh: Refluks yang Terlihat

Berbeda dengan refluks yang tak kasat mata, regurgitasi atau gumoh adalah kondisi ketika isi lambung naik hingga ke mulut dan keluar.

“Sebagian besar tidak berhenti di kerongkongan. Dia lanjut ke mulut dan dikeluarkan. Itu yang kita sebut regurgitasi atau gumoh,” kata Prof. Badriul.

Dengan kata lain, gumoh adalah refluks yang terlihat langsung oleh orang tua. Kondisi ini sangat umum terjadi pada bayi karena beberapa faktor, salah satunya adalah pola konsumsi cairan.

“Bayi itu minumnya banyak. Dibandingkan makanan padat, cairan lebih banyak, jadi lebih mudah kembali,” tambahnya.

Happy Spitter: Bayi Gumoh Tapi Tetap Sehat

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa gumoh paling sering terjadi pada enam bulan pertama kehidupan. Bahkan, sekitar 80 persen bayi usia satu bulan mengalami regurgitasi. Namun, Prof. Badriul menekankan bahwa sebagian besar bayi tetap sehat. “Yang menjadi disease itu hanya sekitar 3 persen,” ujarnya.

Kondisi ini dikenal dengan istilah happy spitter, yaitu bayi yang sering gumoh tetapi tetap ceria, nyaman, dan tumbuh kembangnya sesuai usia. Seiring bertambahnya usia dan matangnya sistem pencernaan, frekuensi gumoh biasanya akan berkurang dan umumnya menghilang pada usia 12–18 bulan.

Baca Juga:

Kapan Gumoh Perlu Diwaspadai dan Disebut GERD?

Meski sebagian besar kasus gumoh bersifat normal, orang tua tetap perlu waspada jika refluks sudah menimbulkan dampak kesehatan.

“Kalau kita ngomong GERD, berarti kita bicara disease. Disease itu berarti isi lambung yang ada di kerongkongan terlalu lama atau terlalu sering sehingga merusak dinding esofagus,” jelas Prof. Badriul.

Kerongkongan bersifat netral. Ketika asam lambung yang bersifat asam naik terlalu sering atau bertahan terlalu lama, dinding kerongkongan bisa mengalami peradangan atau luka yang disebut esofagitis.

Pada kondisi ini, bayi dapat merasakan nyeri, menjadi rewel, menolak minum, hingga berisiko mengalami gangguan asupan dan pertumbuhan.

Bukan Frekuensi Gumoh, Tapi Dampaknya yang Penting

Prof. Badriul menegaskan, frekuensi gumoh bukan satu-satunya penentu GERD.

“Yang membedakan GERD dengan refluks biasa bukan seberapa sering bayi gumoh, tetapi apakah refluks tersebut menyebabkan kerusakan dan mengganggu kondisi bayi secara keseluruhan,” katanya.

Faktanya, meski 80 persen bayi bisa mengalami regurgitasi, hanya sekitar 3–8 persen yang benar-benar berkembang menjadi GERD. Sebagian besar bayi memiliki mekanisme perlindungan alami terhadap asam lambung.

Pesan untuk Orang Tua

Gumoh pada bayi, terutama di usia dini, umumnya merupakan kondisi fisiologis dan bukan penyakit. Selama bayi tetap nyaman, mau menyusu, dan tumbuh sesuai grafik pertumbuhan, orang tua tidak perlu panik berlebihan.

Namun, jika gumoh disertai tanda nyeri, berat badan tidak naik, atau bayi tampak tidak nyaman berkepanjangan, konsultasi ke dokter anak menjadi langkah bijak.

Karena memahami kondisi bayi dengan tepat adalah kunci agar orang tua bisa lebih tenang—dan si kecil pun tumbuh sehat dengan bahagia.